Pentingnya Inovasi Teknologi hingga Kesadaran Menjaga Kualitas Air

Liputan6.com, Jakarta - Setiap 22 Maret diperingati sebagai world water day atau hari air sedunia. Peringatan hari air sedunia ini unuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya air bersih dan pengelolaan sumber air yang berkelanjutan.

Pada 22 Maret 2020, peringatan hari air sedunia mengambil tema air dan perubahan iklim. Air dan perubahan iklim tersebut bagaimana saling berkaitan erat. Mengutip laman worldwater.org, dengan beradaptasi efek air dari perubahan iklim akan melindungi kesehatan dan menyelamatkan nyawa manusia.

Selain itu, mengingatkan masyarakat untuk memakai air lebih efisien dan dan mengurangi gas rumah kaca. Setiap orang pun berperan untuk menjaga air.

Terkait kondisi air di Indonesia, Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya, Prof Nieke K menilai keadaan air terutama air permukaan seperti sungai, danau dan sebagainya sudah sangat menyedihkan terutama di kota besar. Hal ini mengingat sekitar 75 persen air permukaan dicemari oleh limbah domestik yaitu limbah rumah tangga dari aktivitas penduduk.

"Air tanpa dikelola secara benar bisa berdampak peperangan yang mungkin dapat terjadi karena ini sesuatu yang memang sehari-hari dibutuhkan untuk memenuhi hidup dan kesehatannya,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (22/3/2020).

Oleh karena itu, menurut Nieke perlu menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas air di Indonesia. Nieke menuturkan, menjaga kondisi air tersebut memerlukan penguatan di seluruh aspek baik teknologi, sosial budaya, ekonomi dan teknis. Ia menilai perlu ada sinergi dari seluruh aspek tersebut dan tetap berinovasi untuk menjaga air.

"Aspek teknologi yang sebenarnya sudah banyak ahli-ahlinya di Indonesia perlu ada sinergi dua aspek yang lain meski aspek teknis juga tidak boleh stagnan karena masih terus perlu berinovasi dan ditingkatkan,” ujar dia.

Ia menilai, saat ini masih menjadi masalah bersama yaitu aspek sosial budaya. Bila kesadaran sosial budaya belum terbentuk untuk menjaga air meski teknologi sudah di depan, menurut Nieke, hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah.

Kesadaran sosial budaya itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terutama generasi muda untuk menjaga keberadaan air. "Cobalah lihat masalah air dari air minum sampai menjadi air limbah bahkan menimbulkan masalah baik masalah pencemaran dan banjir," ujar dia.

Kesadaran Harus Terbentuk

Penampakan Keran Air Siap Minum (KASM) yang terpasang di dekat Pintu 2 Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/10/2019). Pemkot Bogor melalui PDAM Tirta Pakuan membuat KASM di pendestrian Jalan Ir H Djuanda untuk menekan angka konsumsi botol dan gelas plastik. (merdeka.com/Arie Basuki)

Ia menambahkan, air minum masih bermasalah karena air baku yang standar untuk dapat diolah menjadi air siap minum itu perlu kinerja yang sesuai. Nieke mengatakan, air yang digunakan untuk pemenuhan hidup masyarakat akan dibuang masyarakat ke lingkungan berubah menjadi air limbah begitu saja ke badan air seperti sungai.

"Masalah inilah yang sebenarnya terkait dengan kualitas air yang perlu diseriusi. Karena selain kualitas berubah menjadi air limbah kalau dibuang tanpa diolah akan menjadi air limbah yang akhirnya menyumbang kandungan gas methan ke udara akibat proses degradasi serta kekeringan lahan," ujar dia.

Sedangkan dari kuantitas air diakibatkan dari perubahan tata guna lahan di bagian hulu sungai sehingga mengakibatkan banjir. Oleh karena itu, ia mengingatkan untuk menjaga air dengan melalui aspek sosial budaya, ekonomi, dan teknis.

Nieke menuturkan, kesadaran sudah harus terbentuk dan harus semua memiliki tanggung jawab akan kelangsungan keberadaan air yang sesuai kebutuhan seluruh umat manusia baik melalui pendidikan masyarakat dan kesadaran masyarakat akan hidup sehat.

"Tanpa mengelola air dengan baik akan dapat berakibat pada kualitas hidup di dunia ini karena mahluk hidup yang lebih kecil seperti mikroorganisme bakteri di air limbah dan virus di udara akan berkembang,” ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini