Pentingnya literasi film untuk tingkatkan etika menonton di bioskop

Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Rommy Fibri Hardiyanto mengatakan edukasi dan literasi terkait perfilman dan sensor merupakan salah satu pilar penting untuk meningkatkan etika dan kesadaran masyarakat saat menonton film di bioskop.

"Orang ke bioskop itu mencari kenyamanan. Sehingga, dengan adanya informasi yang bisa diakses dengan mudah, maka diharapkan masyarakat bisa tahu betapa pentingnya budaya sensor mandiri, dan membuat mereka menjadi peduli dan responsif (saat menonton film di bioskop)," kata Rommy di Jakarta, Rabu.

"Tantangan kita saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa memiliki literasi cukup untuk menonton film sesuai klasifikasi usianya, karena sekarang adalah zamannya pencerahan, di mana itu merupakan tanggung jawab masing-masing (individu)," ujarnya menambahkan.

Baca juga: LSF sebut 99,99 persen film yang diajukan pada 2021 lulus sensor

Bicara soal klasifikasi usia, Rommy mengatakan Indonesia telah menetapkan standar baku bahwa petugas harus menanyakan kepada calon penonton apakah umurnya sesuai dengan rating film yang akan ditonton. Namun, hal tersebut menjadi tantangan, mengingat kini pembelian tiket bioskop sudah bisa diakses melalui platform daring.

"Kita semua tahu bahwa sekarang, membeli tiket bisa dilakukan secara online. Nah, ketika dilakukan online, bagaimana (tracing-nya)? Padahal, di situ sudah ada syaratnya (terkait rating film dan usia). Secara imbauan, persuasi, sudah dilakukan oleh semua pihak. Namun, sekarang adalah bagaimana masyarakatnya bisa memahami hal tersebut, serta literasi dan etikanya," jelas Rommy.

Sependapat, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin mengatakan penonton yang menghiraukan aturan klasifikasi usia untuk film sudah terjadi sejak lama.

Baca juga: LSF ingin budaya sensor mandiri mengakar di masyarakat

Menurut Djonny, diperlukan adanya regulasi yang tegas terkait penindakan untuk para calon penonton yang "nakal" ini.

"Permasalahan ini sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Ketika pihak bioskop menegur dengan baik, namun penonton menolak, kita deadlock di situ, karena tidak ada regulasi yang jelas (terkait penindakan)," kata Djonny.

"Namun, promosi gencar seperti ini menjadi langkah penting. Pendekatan persuasif, edukatif, simpatik dan publikasi yang tidak berhenti menjadi salah satu caranya. Dan harapannya, ketika kita semua beritikad baik, maka harus dilakukan terus-menerus," imbuhnya.

Baca juga: LSF dan GPBSI kampanyekan Budaya Sensor Mandiri lebih masif

Baca juga: Lembaga Sensor Film bentuk Kampung Sensor Mandiri di Pontianak

Baca juga: LSF sebut sensor film tidak kekang kreativitas

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel