Pentolan geng motor Makassar usia 17 tahun, di Riau 58 tahun

MERDEKA.COM. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wisnu Sanjaja mengaku sudah melakukan penangkapan terhadap beberapa terduga pelaku kekerasan maupun pengrusakan, serta yang melakukan pelemparan bom molotov di sejumlah anjungan tunai mandiri (ATM) dan rumah ibadah. Mereka dikenal sebagai geng motor.

Salah satu anggota geng motor yang diringkus yakni pimpinan geng motor Mappakoe berinisial A yang masih berusia 17 tahun.

"Kami masih melakukan penyelidikan dan pengembangan apakah anak yang tertangkap tangan di Kendari sebelum melarikan diri ke Jakarta itu terkait dengan penikaman wartawan atau tidak karena beberapa tindak kekerasan serta pelemparan bom molotov itu sudah diakuinya," katanya.

Sementara di Riau, satu pentolan geng motor yang disebut sebagai 'jenderal' beserta tiga orang yang dijuluki sebagai 'panglima' ditangkap aparat Kepolisian Resort Kota (Polresta) Pekanbaru, Provinsi Riau.

"Terakhir kami berhasil menangkap sembilan orang lagi pasukan geng motor yang sering bertindak brutal. Mulai dari pencurian, perampasan hingga pemerkosaan," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Pekanbaru Kompol Arief Fajar Satria di Pekanbaru, Minggu.

Satu di antaranya merupakan ketua geng motor tertinggi atau 'jenderal', sementara dua lainnya merupakan petinggi-petinggi lain yang disebut sebagai 'panglima'. Sembilan orang ini kata dia ditangkap di beberapa lokasi yang berbeda dan cukup sengit pengejarannya.

Kompol Arief mengatakan, untuk sang 'jenderal' Mardijo atau yang dikenal dengan sebutan Klewang (58), diduga sebagai otak dari ragam kegiatan brutal anak-anak yang tergabung dalam geng motor itu.

Klewang menurut Arief juga terlibat kasus pemerkosaan terhadap remaja wanita di beberapa lokasi berbeda.

Klewang kata dia, ditangkap di tempat persembunyiannya di gudang bekas PT Waskita Karya, komplek Stadion Utama Riau, Panam, Kecamatan Tampan, pada Kamis (9/5) sekitar pukul 14.30 WIB.

Pakar Kriminologi Universitas Hasanuddin, Prof Dr Aswanto, menyatakan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh geng motor di Makassar bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian tetapi semua kalangan masyarakat.

"Ini bukan saja menjadi tanggung jawab kepolisian karena kecenderungan seorang remaja ingin meluapkan jati dirinya dan ingin diakui keberadaannya di masyarakat," ujarnya saat diundang Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wisnu Sanjaja membahas kekerasan geng motor di Makassar, Senin (13/5).

Ia mengatakan, kekerasan yang dilakukan oleh kumpulan remaja ini dikategorikan sebagai penyimpangan karena usia mereka yang belum masuk kategori dewasa.

Sementara jika aksi-aksi kekerasan yang dilakukan itu sudah masuk kategori dewasa, maka diklasifikasikan sebagai pelanggaran hukum atau tindak pidana sehingga model peradilannya juga berbeda antara yang dewasa dengan remaja.

"Ini yang harus dikaji dan harus dikategorikan jenis penyimpangannya, apakah itu dilakukan secara berulang atau tidak. Pembuktian itu akan diketahui saat penyidikan," katanya.

Aswanto mengaku jika aksi kekerasan yang dilakukan kelompok remaja yang masih duduk di bangku sekolah baik SMP maupun SMA ini banyak meniru tayangan kekerasan lewat televisi.

Baca juga:
Jenderal dan panglima geng motor ditangkap polisi di Riau
Kawanan geng motor di Makassar bakar motor warga
Geng motor serang asrama polisi di Makassar

Topik Pilihan:
Perbudakan Buruh | Kerusuhan Mei | Premier League | BBM Naik | Penemuan Ilmiah

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.