Penularan COVID-19 pada Anak Masih Tinggi, IDAI Minta Tunda Sekolah

Daurina Lestari, Ahmad Farhan Faris

VIVA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menolak keras apabila pemerintah membuka sekolah agar anak-anak kembali berkegiatan belajar-mengajar di tengah pandemi virus corona COVID-19 yang belum berakhir.

Ketua Umum IDAI, Aman B Pulungan, menyarankan untuk kegiatan belajar-mengajar di sekolah sebaiknya menunggu sampai akhir tahun 2020. Menurut dia, lebih baik saat ini para siswa menjalani imbauan pemerintah agar belajar di rumah.

"Kita didiklah anak kita di rumah dulu, paling tidak kita tunggu sampai 2020. Bersabarlah kita dulu, sampai nanti pemeriksaannya cukup dan kami lihat kurva anak meninggal menurun," kata Aman seperti dikutip dari tvOne pada Selasa, 2 Juni 2020.

Diungkapkan dia, saat ini kurva penularan virus corona kepada anak-anak itu masih tinggi. Bahkan, setiap minggu kurva anak meninggal masih naik, begitu juga kurva anak yang positif COVID-19 tiap minggunya menaik serta PDP (pasien dalam pengawasan).

"Kami di hilir, kami yang merawat. Kami tahu jadinya," ujarnya.

Di samping itu, Aman juga tidak setuju jika teori herd immunity diterapkan untuk anak-anak, sehingga dijadikan sebagai salah satu alasan agar sekolah dibuka dan kegiatan belajar-mengajar kembali normal.

Menurut dia, kalau 60 juta anak masuk sekolah saat ini dan mau diambil herd imunity, setidaknya dibutuhkan 50 persen anak yang sakit. Artinya, 30 juta anak akan sakit. Maka, timbul pertanyaan anak siapa yang akan sakit dari 30 juta tersebut.

"Setelah itu dari 30 juta yang sakit, kita ambil mortalitasnya angka kematian sekarang di Indonesia 2-5 persen, kita ambil angka tengah 3 atau 4 persen. Jadi, akan ada 1 juta anak yang meninggal. Saya tidak setuju. Anak siapa yang akan meninggal? Bagi kami dokter anak Indonesia, satu anak meninggal pun tidak boleh," jelas dia.

Sementara Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk membuka sekolah di tengah pandemi COVID-19 agar para siswa bisa melakukan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa.

Karena menurut dia, sekolah itu satu hari bisa sekitar 1.000 orang yang berkumpul. Misalnya, siswa kalau tingkat SMP-SMA itu bisa masing-masing 700 siswa karena ada 3 angkatan, kemudian guru sekitar 50 orang sampai 60 orang ditambah tenaga pendidikan bahkan ada orang tua yang mengantar.

"Anggap di sekolah ada protokol kesehatan, tapi ketika pulang naik angkutan umum tidak ada yang menjamin anak-anak atau guru akan steril dari penyebaran COVID-19. Secara prinsipil, tidak buru-buru buka sekolah sekalipun di zona hijau," katanya.