Penularan Virus COVID-19 Varian Delta Lebih Cepat, Ini Alasannya

·Bacaan 2 menit

VIVAVarian delta COVID-19 diketahui telah menyebar ke seluruh dunia termasuk di Indonesia. Pada Rabu kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian tersebut telah terdeteksi di lebih dari 80 negara dan terus bermutasi saat menyebar.

Penelitian telah menunjukkan varian delta ini bahkan lebih menular daripada varian lainnya. Lantas mengapa proses penularan varian delta ini lebih cepat?

Dalam program Hidup Sehat TvOne, Jumat, 30 Juli 2021, Epidemiolog, Dr.dr Tri Yunis Miko M.Scmenjelaskan bahwa sejak ditemukan varian COVID-19 ini dalam tiga bulan dari Januari sampai Maret sudah bermutasi dari styrotipe A, B, C. Hingga saat ini, kata Tri Yunis sudah terindentifikasi ada 9 varian baru mulai dari varian Alfa hingga varian Kappa.

"Varian delta yang paling berbahaya, sampai di India menimbulkan tsunami COVID-19, di Indonesia juga menimbulkan tsunami kecil. Tsunami pertama kali di Jawa Tengah, kota Kudus, tsunami kedua muncul di Bangkalan, Madura, tsunami ketiga itu yang besar di DKI Jakarta itu ada dua menimbulkan tsunami pertama varian Alfa dan varian Delta tapi varian yang besar menimbulkan tsunami adalah varian Delta, baik di Kudus, Bangkalan dan DKI Jakarta," kata Tri Yunis.

Ia menjelaskan, varian Delta yang masuk dalam katagori varian of concern oleh WHO ini menimbulkan gejala yang berbeda pada varian aslinya, atau virus aslinya. Varian of concern ini varian yang bermutasi menimbulkan penularan yang lebih cepat dari aslinya. Selain itu, varian Delta ini juga menimbulkan gejala yang berbeda.

"Virus asli atau varian asli menyerang saluran pernapasan, paru dan saluran pernapasan mulut dan hidung, makanya mulut dan hidung kita tutup supaya tidak masuk. kalau varian Delta tetap masuk lewat saluran pernapasan tapi gejala bisa di luar sistem pernapasan bisa ke sistem pencernaan, otot tulang," kata dia.

Lebih lanjut, Tri Yunis menjelaskan varian delta ini juga berdampak pada efektivitas dari vaksin sebagai public intervension yang juga berkurang banyak.

"Sinovac 66 persen efektovitasnya menurun. bayangkan kalau efektivitasnya 66 persen jadi 50 persen tapi masih tetap dipakai kalau efektivitasnya masih 50 persen," kata dia.

Ia menambahkan, vaksin memberikan efikasi yang hampir menyentuh 80 persen artinya dari orang yang divaksin pasti bisa sakit sebesar 20 persen.

"Jika menggunakan Sinovac, jadi 35 persen dari orang yang divaksin masih bisa sakit apalagi dengan adanya varian baru efikasinya turun 15-20 persen bahkan 50 persen orang yang divaksin dengan adanya varian baru ini bisa terinfeksi jadi itungannya kenapa orang yang divaksin bisa sakit, apalagi yang tidak divaksin. Orang yang sekali terinfeksi bisa terinfeksi dua hingga tiga kali, bayangkan yang tidak divaksin. Orang yang divaksin akan timbul gejala ringan dibanding yang tidak divaksin," kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel