Penumpang Kereta Akan Diwajibkan Tes COVID-19 dengan GeNose Buatan UGM

Mohammad Arief Hidayat, Adi Suparman (Bandung)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Para calon penumpang kereta di Jawa bakal diwajibkan membawa hasil tes negatif COVID-19 melalui metode pemeriksaan dengan alat bernama GoNose rancangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

PT Kereta Api Daerah Operasi II Bandung akan memulai kebijakan itu yang akan diberlakukan secara bertahap mulai 5 Februari 2021. Alat GeNose, yang memeriksa kemungkinan infeksi COVID-19 melalui embusan napas, dan fasilitas pendukung lainnya, akan disediakan pertama-tama di Stasiun Gambir di Jakarta dan Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Manajer Hubungan Masyarakat PT KAI Daerah Operasi II Bandung, Kuswardoyo, pada Selasa, 27 Januari 2021, menjelaskan bahwa lembaganya pada dasarnya sudah siap memberlakukan kebijakan itu. Namun, sementara ini menunggu kesiapan dari UGM dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) karena mereka yang akan menyediakan alat GeNose.

Baca: Alat Deteksi COVID-19 GeNose UGM Diproduksi Massal November Mendatang

Untuk pemberlakuan tes GeNose, PT KAI mengacu pada Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor 11/2021 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang dengan Transportasi Perkeretaapian dalam Masa Pandemi COVID-19.

Surat keterangan hasil negatif COVID-19 dari pemeriksaan GeNose Test atau Rapid Test Antigen atau RT-PCR yang sampelnya diambil dalam kurun maksimal 3x24 jam sebelum jadwal berangkat. Persyaratan itu tidak diwajibkan bagi pelanggan yang berusia di bawah 12 tahun.

Kuswardoyo memastikan, untuk mempercepat upaya memutus mata rantai penularan COVID-19, pelanggan diwajibkan taat dan patuh terhadap protokol kesehatan di luar maupun di dalam kereta.

Rancangan UGM

GeNose merupakan sebuah alat diagnosis cepat infeksi SARS-CoV-2, yakni virus yang menyebabkan COVID-19. Alat itu rancangan para peneliti UGM dan mendiagnosis infeksi SARS-Cov2 melalui embusan napas. Alat diagnosis cepat itu sudah diuji klinis dan uji diagnosis serta mulai diproduksi secara massal.

Menurut anggota tim peneliti GeNose, Dian Kesumapramudya, alat deteksi dini COVID-19 buatan UGM itu dapat dipakai sebagai salah satu metode screening bersama rapid test dan PCR.

GeNose secara sederhana dapat diartikan sebagai hidung elektronik yang bekerja dengan sistem penginderaan atau sensor untuk mengenali pola senyawa. GeNose dirancang untuk mengenali pola Volatile Organic Compound yang terbentuk dari infeksi COVID-19 dan terbawa dalam napas manusia.

Alat itu diklaim memiliki sejumlah keunggulan sebagai alat deteksi cepat COVID-19, yaitu reliabilitas tinggi, karena menggunakan sensor yang dapat dipakai hingga puluhan ribu pasien dalam jangka lama, mampu memberikan hasil dalam waktu yang relatif cepat, non-invasif, serta memerlukan biaya pengujian yang murah menggunakan masker non-rebreathing dan hepa filter sekali pakai.

Pada 4 Januari 2021, UGM menyatakan bahwa kampus itu dan perusahaan konsorsium siap memproduksi hingga 5.000 unit GeNose pada Februari.