Penyakit Demensia pada Lansia, Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya

Liputan6.com, Jakarta Penyakit demensia pada lansia sering disamakan dengan pikun. Padahal kedua masalah kesehatan ini merupakan masalah yang berbeda. Pikun merupakan perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia, namun tidak menyebabkan seseorang bergantung pada orang lain. 

Sedangkan Demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya. Hal ini sering mengakibatkan penderita harus bergantung pada orang lain.

Penyakit demensia pada lansia perlu diketahui penyebabnya agar bisa dicegah sedari dini. Tentunya kamu tidak mau merepotkan orang lain di saat tua. Dengan mengenal penyebab, gejala dan cara pencegahan demensia, kamu bisa mengatasinya sebelum terlambat.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (19/11/2019) tentang penyakit demensia pada lansia

Gejala Demensia

Penyakit Demensia pada Lansia (9nong/Shutterstock)

Gejala utama penyakit demensia pada lansia adalah penurunan memori dan perubahan cara berpikir, sehingga tampak perubahan pada perilaku dan cara bicara. Gejala tersebut dapat memburuk seiring berjalannya waktu.

Ada beberapa tahapan gejala yang muncul pada penyakit demensia pada lansia, yaitu:

Pada tahap pertama, kemampuan fungsi otak penderita masih dalam tahap normal, sehingga belum ada gejala yang terlihat.

Pada tahap kedua, gangguan yang terjadi belum memengaruhi aktivitas sehari-hari penderita. Misalnya, penderita menjadi sulit melakukan beragam kegiatan dalam satu waktu, sulit membuat keputusan atau memecahkan masalah, mudah lupa akan kegiatan yang belum lama dilakukan, dan kesulitan memilih kata-kata yang tepat.

Selanjutnya pada tahap ketiga, penderita dapat tersesat saat melewati jalan yang biasa dilalui, kesulitan mempelajari hal baru, suasana hati tampak datar dan kurang bersemangat, serta terjadi perubahan kepribadian dan menurunnya kemampuan bersosialisasi.

Pada tahap keempat, penderita mulai membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berpakaian dan mandi. Penderita juga mengalami perubahan pola tidur, kesulitan dalam membaca dan menulis, menarik diri dari lingkungan sosial, berhalusinasi, mudah marah, dan bersikap kasar.

Memasuki tahap kelima, seseorang sudah dapat dikatakan mengalami demensia berat. Demensia pada tahap ini menyebabkan penderita tidak dapat hidup mandiri. Penderita akan kehilangan kemampuan dasar, seperti berjalan atau duduk, tidak mengenali anggota keluarga, dan tidak mengerti bahasa.

Penyebab Demensia

Penyebab Demensia (Sebastian-Kaulitzki/Shutterstock)

Penyakit demensia pada lansia disebabkan oleh rusaknya sel saraf dan hubungan antar saraf pada otak. Berdasarkan perubahan yang terjadi, ada beberapa jenis penyakit demensia pada lansia, yaitu:

Penyakit Alzheimer

Penyakit Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi. Penyebab Alzheimer masih belum diketahui, namun perubahan genetik yang diturunkan dari orang tua diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Selain faktor genetik, kelainan protein dalam otak juga diduga dapat merusak sel saraf sehat dalam otak.

Demensia Vaskular

Demensia vaskular disebabkan oleh gangguan pembuluh darah di otak. Stroke berulang merupakan penyebab yang paling serinf dari demensia jenis ini.

Penyebab Penyakit Demensia pada Lansia

Berikut beberapa penyabab terjadinya penyakit demensia pada lansia:

- Penyakit alzheimer

- Demensia vaskular

- Kelainan metabolisme atau endrokrin.

- Multiple sclerosis.

- Subdural hematoma.

- Tumor otak.

- Efek samping obat, seperti obat penenang dan obat pereda nyeri.

- Kekurangan vitamin dan mineral tertentu, seperti kekurangan vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12, vitamin E, dan zat besi dalam tubuh.

- Keracunan akibat paparan logam berat, pestisida, dan konsumsi alkohol.

Faktor Risiko Demensia

Berikut beberapa faktor risiko penyakit demensia pada lansia:

- Pertambahan usia

- Adanya riwayat demensia dalam keluarga

- Pola makan tidak sehat

- Merokok

- Jarang olahraga

- Kecanduan Alkohol

- Karena penyakit tertentu (Sindrom Down, Depresi, Sleep apnea, Kolesterol tinggi, Obesitas, Hipertensi, Diabetes)

Pencegahan Demensia

Pencegahan Demensia (Monkey Business Images/Shutterstock)

Setelah mengetahui beberapa gejala, penyebab, hingga faktor risiko dari demensia, kamu tentunya bisa menjalankan berbagai pencegahan. Penyakit demensia pada lansia yang begitu berbahaya tentunya tetap bisa dihindari. Menghindari semua penyebab dan faktor risiko yang ada bisa menjadi jalan terbaik untukmu.

Walaupun sebenarnya belum ada cara pasti untuk mencegah penyakit demensia pada lansia. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya, seperti:

- Berhenti merokok.

- Berolahraga secara teratur.

- Tidur yang cukup.

- Kurangi asupan alkohol.

- Menjaga berat badan ideal.

- Rutin mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, dan kolestrol.

- Melatih otak secara berkala, seperti rajin membaca atau bermain teka-teki silang.

- Segera melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami stres, depresi, atau gangguan kecemasan.

- Menjaga asupan nutrisi dan menerapkan pola makan sehat, misalnya dengan mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat. Konsumsi vitamin untuk otak juga diduga baik untuk mencegah demensia.