Penyakit Ini Sudah Ada Sejak 3 Ribu Tahun Lalu

·Bacaan 1 menit

VIVA – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuwan menunjukkan, bahwa penyakit diabetes sudah ada sejak 3.000 tahun lalu.

Dalam tulisannya, ilmuwan tersebut mengatakan bahwa warga Mesir pernah menyebutkan mengenai kondisi di mana beberapa orang sering buang air kecil, selalu merasa haus dan kehilangan berat badan. Semua gejala itu mirip seperti yang dialami oleh pasien diabetes tipe 1.

Sementara itu, masyarakat India kuno menemukan cara bagaimana mendeteksi penyakit mematikan itu, yakni dengan menuang urine ke dekat kawanan semut. Apabila hewan tersebut mendekat, berarti mengandung gula yang berlebih.

Selain dua negara itu, beberapa dokter dan ilmuwan di Yunani dan Romawi juga pernah menyebutkan mengenai penyakit diabetest, seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Kamis 20 Mei 2021.

Pakar diabetes, Indra Wijaya mengatakan bahwa penyakit tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak faktor yang dapat memicu ketidakstabilan kadar gula darah dalam tubuh.

Menurutnya, penyakit diabetes juga tidak dapat sembuh total. Namun, berbagai risiko komplikasi dapat dihindari dengan beberapa cara. Hal itu ia ungkapkan, saat menghadiri acara yang digelar oleh Mganik Multigrain.

“Saat ini banyak penderita diabetes yang memiliki gula darah tinggi, tapi tidak merasakan gejala. Ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Indra menjelaskan, masyarakat Indonesia perlu waspada terhadap risiko diabetes karena penyakit itu sifatnya genetik. Ditambah adanya budaya yang menganggap belum makan jika belum mengonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi.

Melalui acara tersebut, Mganik Multigrain berusaha memberikan pemahaman tentang kondisi mereka, dan cara untuk tetap sehat dengan gerakan #pintarlawandiabetest. Tidak hanya edukasi berupa teori, mereka juga memandu dalam menentukan langkah tepat menjaga pola makan yang baik.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel