Penyakit Mulut dan Kuku Tak Berdampak pada Stok Daging di Pasar Minggu

Merdeka.com - Merdeka.com - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sedang mewabah di Indonesia. Sejumlah daerah pun sampai melakukan lockdown agar mencegah penyebaran penyakit menular yang menyerang hewan ternak tersebut.

Wabah penyakit mulut dan kuku itu ternyata belum berdampak pada distribusi daging sapi di Ibu kota. Semisal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Para pedagang mengaku stok daging masih aman dan normal.

"Alhamdulillah masih aman, di Jagal masih aman. Belum ada kendala Alhamdulillah," kata Mayudi saat ditemui merdeka.com di Pasar Minggu, Kamis (12/5).

Pedagang yang sudah berjualan sejak tahun 1987 ini memastikan, belum ada pengaruh terhadap stok daging yang dijual terhadap para pembeli atau langganannya.

Kendati demikian, dia berharap dengan penyakit yang memiliki tingkat penyebaran cepat tersebut tidak dapat menyebar secara luas kembali.

"Belum ada (pengaruh), belum ada pengaruh. Mudah-mudahan jangan sampai lah ya, ya Alhamdulillah aman-aman. Kaya dulu kan di jagal ya, waktu yang penyakit sapi rame. Kalau sekarang belum gitu," ujarnya.

Harga Masih Tinggi

Kegelisahan pedagang daging saat ini bukan PMK. Mahyudi mengatakan, para pedagang pusing karena harga daging masih melambung tinggi atau belum stabil.

"Alhamdulillah (enggak ada pengaruh PMK), stok masih. Cuma komplain harga masih tinggi. Harga 14, 15 di Pasar eceran di Pasar. Rp140 ribu, Rp150 ribu," ungkapnya.

Dengan masih tingginya harga daging itu membuat langganannya mengurangi jumlah pemesanan. Salah satunya dilakukan pedagang bakso.

"Ya pokoknya masih tinggi dari pusat, enggak beda jauh (untungnya). Jadi waktu potongan lebaran sama sekarang turunnya belum seimbang, belum stabil. Stabil kan Rp120 ribu, tapi kemungkinan ini enggak bakalan, paling turun Rp130 ribu Insya Allah," jelasnya.

"Iya Alhamdulillah (masih ramai), cuma yang biasa tukang bakso biasa 10 kilo jadi turun 2 kilo, jadi 8 kilo," sambungnya.

Tidak Menyebar ke Manusia

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, penyakit mulut dan kuku (PMK) ini tidak menular ke manusia meski memiliki tingkat penyebaran yang cepat pada hewan.

Untuk itu, dia meminta masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi wabah penyakit yang menjangkiti hewan ternak tersebut.

"Kita harus maksimal melakukan sosialisasi kepada masyarakat, bahwa penyakit ini tidak menular pada manusia, dan pernyataan ini diperkuat oleh Menkes (Menteri Kesehatan) saat ratas (rapat terbatas) bersama Presiden tadi dan ini menjadi hal yang sangat penting," ungkap Mentan Syahrul dalam keterangannya, Selasa (16/5).

Mentan Syahrul mengatakan, bahwa pihaknya melalui Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya tengah melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan tingkat dan jenis serotype PMK yang teridentifikasi di sejumlah daerah di Jatim ini.

"PMK ini masih dalam penelitian lab veteriner kita di Surabaya secara maksimal, sehingga kita bisa identifikasi ini pada level berapa, jenisnya seperti apa, kita harap hari ini atau besok akan keluar hasilnya," terangnya.

Syahrul merinci dengan hasil laboratorium tersebut, pemerintah akan lebih mudah menentukan vaksin yang tepat. Ia berharap penentuan vaksin dapat memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam negeri. Dengan ini ia memastikan penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku dapat berjalan lebih efektif dan efisien. [ray]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel