Penyaluran BLT di Kebumen Diduga Jadi Sasaran Aji Mumpung Pemerintah Desa

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Kabupaten Kebumen menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) subsidi bahan bakar minyak (BBM) kepada warga masyarakat secara bertahap. Menurut informasi yang dihimpun, bantuan yang dicairkan adalah sebesar Rp500 ribu yang terbagi atas Rp200 ribu untuk BLT sembako, dan Rp300 ribu BLT subsidi BBM.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 tahun 2022, seharusnya besaran bantuan yang diberikan adalah sebesar Rp600 ribu dalam satu kali tahap. Namun pada pelaksanaannya, BLT tersebut didistribusikan selama dua tahap yaitu pada bulan September dan November mendatang.

Menurut salah seorang warga penerima BLT, Bawon Lestari (45) asal Desa Gadungrejo, Kecamatan Klirong mengaku dianjurkan oleh perangkat desa agar nominal BLT sebesar Rp200 ribu dibelanjakan sembako.

"Jadi tanggal 10 September kemarin itu dikasih bantuan Rp500 ribu, yang Rp300 ribu katanya buat bantuan harga bensin naik, terus yang Rp200 ribu itu buat bantuan beli bahan pokok," ungkap Bawon kepada merdeka.com, Kamis (22/9).

Beberapa pihak pemerintah desa pun menjadikan kesempatan ini sebagai ladang untuk berbisnis. Mereka menyediakan berbagai macam kebutuhan pokok untuk dijualkan kepada warga yang baru saja mendapatkan BLT, di antaranya adalah Desa Gadungrejo dan Pandanlor.

"Jadi pas saya dapat uangnya sejumlah Rp500 ribu, yang Rp200 ribu itu langsung disuruh buat belanja di Balai Desa, apa itu minyak, telur, gula, beras, pokoknya dianjurkan untuk belanja walau pun enggak semua. Katanya biar enggak disalahgunakan buat kebutuhan lain," lanjut Bawon.

Sementara itu pemerintah Desa pandanlor, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, mempunyai kebijakan lain terhadap penyaluran BLT ini, yaitu mewajibkan masyarakat penerima BLT untuk membelanjakan dana bantuan sembako itu kepada pemerintah desa. Mereka telah menyiapkan paket sembako seharga Rp150 ribu yang berisi delapan kilogram beras, dua kilogram gula pasir, dan satu liter minyak goreng.

Menurut warga Desa pandanlor yang menerima BLT, pemerintah desa terlalu mengambil untung dalam kesempatan ini. Setelah mereka hitung-hitung paket sembako yang dijual pihak desa hanya mencapai harga Rp120 ribu, di mana dalam hal ini pihak desa diduga mengambil untung yang cukup banyakdari penerima manfaat BLT.

Menurut Sulis (20) salah seorang anggota Karangtaruna Desa Pandanlor yang turut membantu proses pendistribusian BLT, mengaku tidak mengetahui motif dari pemerintah desa memasang harga sembako yang tidak sesuai dengan harga pasar.

"Saya kurang paham, soalnya dari pihak karangtaruna cuman disuruh bantu ngemas paket-paket sembakonya, sama membantu pelayanan penjualan paket sembako tersebut di hari H penyaluran BLT, jadi kalau uang untungnya ke mana dan untuk apa, saya kurang paham," ujar Sulis.

Di sisi lain, Yuidah (68) yang juga merupakan penerima BLT asal Desa Gadungrejo, mengaku bantuan Rp500 ribu sebulan sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, di tengah harga bahan-bahan yang semakin naik. Namun perempuan yang akrab disapa Idah itu tetap bersyukur karena masih mendapat perhatian dari pemerintah, utamanya bagi masyarakat yang kurang mampu seperti dirinya.

"Sebenarnya ya enggak cukup Rp500 ribu sebulan, wong sehari wae buat makan sekeluarga habis berapa, belum uang saku anak sekolah. Tapi ya enggak papa tetap disyukuri saja, Alkhamdulillah masih diperhatikan sama pemerintah. Saya juga buat menutup kebutuhan rumah tangga sambil jualan Golak, tidak sepenuhnya mengandalkan bantuan pemerintah," tutur Idah.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]