Penyandang Disabilitas Sebut 3 Pelajaran yang Dipetik dari Pandemi COVID-19

·Bacaan 9 menit

Liputan6.com, Jakarta Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari penyintas COVID-19, mulai dari pengalamannya di rumah sakit hingga bagaimana mereka menjaga imunnya selama pandemi.

Lantas, bagaimana dengan penyandang disabilitas? Setidaknya menurut seorang penulis lepas penyandang disabilitas sekaligus merupakan seseorang yang menjelajahi praktik inklusi disabilitas, kebijakan, politik dan budaya, Andrew Pulrang, ada tiga hal yang ia pelajari dari pandemi COVID-19 dari sudut pandang penyandang disabilitas.

Berikut ulasannya, dilansir dari Forbes:

1. Undang-undang hak penyandang disabilitas benar-benar dapat disalahgunakan

Jika sebelumnya Andrew tidak terlalu mempedulikan yang memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, seperti penggunaan elevator khusus--meskipun Undang-Undang Penyandang Disabilitas Amerika ditandatangani. Sampai seorang pejabat perguruan tinggi bersama ADA (Americans with Disabilitie Act) menyatakan elevator khusus tersebut harus dikunci dan hanya diberikan kepada penyandang disabilitas tertentu yang disetujui. Karena jika tidak, yang bukan penyandang disabilitas akan menggunakannya dan semakin banyak orang yang mengaksesnya akan semakin cepat rusak.

Ia pikir ini bukan masalah yang penting, karena ia menemukan ada banyak kasus orang yang bukan penyandang disabilitas menggunakan fitur aksesibilitas maupun perlindungan hak sipil. Bahkan penyalahgunaan layanan dan dukungan tampak seperti area abu-abu baginya. Ini menyebabkan beberapa masalah regulasi saat ini. Tetapi siapa yang benar-benar dirugikan jika beberapa orang non-difabel yang egois membawa anjing mereka ke kedai kopi atau bahkan di pesawat? Ditambah respons anti-masker terhadap COVID-19, membuatnya kembali menelusuri pandangan terhadap masalah ini.

Orang-orang anti-masker sebenarnya merugikan orang-orang ketika mereka mengklaim bahwa ADA mengizinkan mereka pergi ke tempat umum tanpa masker. Memiliki argumen abstrak dan berprinsip tentang keseimbangan antara kebebasan sipil dan kesehatan masyarakat dan secara keliru, secara sinis menyerukan undang-undang hak-hak disabilitas untuk membenarkan tindakan yang menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan, terutama bagi penyandang disabilitas dan penyakit kronis. Sampai merancang dan mengedarkan kartu ID yang bisa diklaim sebagai pengecualian berdasarkan ADA juga dapat merusak integritas hukum seperti ADA.

Masalahnya memang bukan soal pemakaian masker dan disabilitas, melainkan klaim yang keras dan tidak berdasar tidak membantu siapa pun, apalagi orang-orang dengan kondisi nyata yang benar - benar tidak memungkinkan atau bahkan menyulitkannya jika memakai masker. Untungnya, masalah ini terpetakan dengan baik dalam pembuatan peraturan ADA yang lalu, dan panduan yang jelas tersedia yang mempertimbangkan kebutuhan dan prioritas setiap orang. Interpretasi ADA mencakup poin-poin berikut:

Selanjutnya

- Beberapa penyandang disabilitas yang benar-benar tidak bisa memakai masker wajah, dan tidak ada yang boleh memaksa mereka.

- Hanya dengan menyatakan bahwa Anda "tidak bisa" memakai masker, atau menunjukkan kartu buatan sendiri yang mengatakan demikian, tidak cukup untuk membiarkan siapa pun lolos.

- Risiko kesehatan bagi orang lain jauh lebih serius melampaui hak individu untuk tidak memakai masker di dalam ruangan yang padat selama pandemi, bahkan jika mereka memiliki disabilitas yang mencegah mereka mengenakan masker.

- ADA mewajibkan pengecer dan penyedia layanan untuk menawarkan pemesanan dan pengiriman online, layanan tepi jalan, dan bentuk akomodasi individual lainnya sehingga seseorang yang tidak dapat mengenakan masker tetap dapat dilayani, tanpa membahayakan kesehatan orang lain.

- ADA tidak pernah menjamin penyandang disabilitas mendapatkan akomodasi yang mereka inginkan. Itu selalu merupakan negosiasi di antara alternatif yang layak. Jadi, memberikan layanan dengan cara yang mungkin tidak disukai sepenuhnya oleh orang tersebut masih dapat dianggap sebagai layanan yang setara menurut ADA.

Ini semua sudah cukup diketahui dengan baik oleh para penyandang disabilitas, lain halnya dengan sebagian besar orang yang baru menggunakan undang-undang hak disabilitas tersebut mungkin akan bingung tentang hal ini, sehingga menimbulkan pandangan bahwa ADA mengijinkan setiap penyandang disabilitas melakukan apa yang mereka inginkan dalam semua situasi. Padahal penyandang disabilitas juga tidak selalu senang menerima batasan dan alternatif sekunder ini. Namun karena memahami bahwa akses yang sama tidak selalu berarti sama maka mereka memilih jalan damai dengan menyetujuinya. Mereka juga tahu tidak akan selalu mendapatkan apa yang dimau, terlebih dalam situasi saat ini yang menuntut akomodasi yang wajar dengan sejumlah rencana darurat yang bisa diterapkan.

Ini semua menunjukkan bahwa penyalahgunaan undang-undang hak-hak penyandang disabilitas benar-benar merusak. Ini mengurangi kredibilitas dan kelangsungan hidup jangka panjang mereka. Menurutnya, menarik juga untuk dicatat bahwa setidaknya beberapa, (mungkin banyak), dari orang-orang yang cenderung mengklaim perlindungan ADA karena tidak memakai masker(dan mungkin untuk tujuan lain juga), secara filosofis adalah mereka yang cenderung mengeluh bahwa undang-undang seperti ADA terlalu membebani bisnis, atau terlalu mengekang kebebasan. Itu pandangan masalah ADA bagi Andrew, mungkin bisa berbeda menurut pandangan orang lain.

2. Penyandang disabilitas memiliki perasaan berkecamuk terkait COVID-19, sebagaimana yang dirasakan non-disabilitas

"Dalam sebagian besar hidup saya, saya memandang keseimbangan antara keselamatan dan kebebasan bagi penyandang disabilitas sebagai biner yang sederhana dan mencolok. Anda berada di kamp keselamatan dan keamanan, mendukung langkah-langkah dan program yang melindungi kami, atau untuk kebebasan dan pilihan pribadi, menegaskan hak penyandang disabilitas untuk mengambil risiko, dan tanggung jawab kami untuk terlibat dengan komunitas yang lebih luas daripada bersembunyi darinya," kata Andrew dalam tulisannya.

Namun juga, menurutnya hal tersebut tidak pernah sesederhana itu sebagaimana yang ia pahami. Sehingga dirinya sendiri tidak pernah terlalu berpegang pada keselamatan dan kebebasan. Adapun tanggapan individu penyandang disabilitas terhadap risiko ini sangat bervariasi karena kebanyakan dari kita penyandang disabilitas berada pada risiko yang lebih tinggi dari virus.

Beberapa penyandang disabilitas takut dengan COVID-19. Siapa yang tidak takut jika merupakan risiko tinggi virus mematikan, takut jika diabaikan, dan dan takut ditolak akses yang sama ke perawatan karena difabel. Hal ini menyebabkan banyak penyandang disabilitas sangat membenci dan menentang mereka yang menegaskan dan memamerkan kebebasan individu mereka untuk tidak mengambil tindakan pencegahan.

Pada saat yang sama, beberapa penyandang disabilitas merasa lebih terluka parah oleh isolasi, dislokasi, gangguan, dan pembatasan, daripada karena takut akan COVID-19 itu sendiri. Mereka berbicara tentang pembatasan yang tidak adil. Mereka menafsirkan tindakan pencegahan yang dimaksudkan untuk melindungi orang, ( terutama penyandang disabilitas berisiko dan orang sakit kronis seperti mereka), hanya sebagai contoh kontrol dan diskriminatif atas hidup mereka.

Kebanyakan penyandang disabilitas mungkin merasakan kombinasi keduanya. "Sayangnya, mungkin sulit untuk mengomunikasikan hal ini sejelas yang kita inginkan dalam lingkungan di mana tanggapan terhadap pandemi sangat terpolarisasi. Anda menyukai tindakan pencegahan dan pembatasan tanpa keluhan, atau Anda adalah penyangkal COVID-19 yang tidak peduli dengan kesehatan tetangga Anda," katanya dalam Forbes.

Namun seringkali tanggapan dari para penyandang disabilitas ini secara khusus kurang berhubungan dengan teori konspirasi COVID dan lebih pada konflik berkepanjangan dalam komunitas disabilitas dan kebijakan disabilitas, antara keselamatan dan kebebasan, antara mencegah bahaya dan risiko. Konflik ini sudah ada jauh sebelum Covid-19, dan itu sama-sama terpolarisasi dan sulit untuk didamaikan.

Sementara itu, argumen dua sisi ini dipotong oleh prioritas ketiga, yaitu kesehatan masyarakat. Sebuah konsep yang tidak memiliki interpretasi atau prioritas yang jelas dan stabil di dalam budaya disabilitas. Dalam pandemi global, penyandang disabilitas dan orang sakit kronis mengandalkan dengan cara yang tidak proporsional untuk mendapat manfaat dari langkah-langkah kesehatan masyarakat yang mengatur perilaku setiap orang untuk mengendalikan penyebaran penyakit. Di sisi lain, beberapa bentuk “kesehatan masyarakat” secara historis digunakan untuk membatasi, melembagakan, dan memberantas penyandang disabilitas itu sendiri secara hukum. Sudah lama ada ketegangan egenetika dalam kesehatan masyarakat, atau mungkin tumpang tindih filosofis "kebaikan yang lebih besar" diperhatikan. Hal ini membuat setidaknya beberapa penyandang disabilitas sangat curiga terhadap pernyataan, rekomendasi, dan mandat kesehatan masyarakat.

Masalah lainnya yang hampir selalu terjadi di saat kritis, kualitas komunikasi terkait COVID-19 kepada penyandang disabilitas kognitif atau intelektual sangat buruk, paling buruk tidak ada. Banyak penyandang disabilitas tidak mendapatkan informasi yang mereka butuhkan untuk memproses semua kebutuhan dan ide yang saling bertentangan ini. Mereka mendapatkan informasi dan rumor yang salah, atau informasi yang dapat diandalkan dalam format yang tidak dapat diakses.

Maka tidak heran jika para penyandang disabilitas tidak sependapat. "Seperti yang telah diamati banyak orang sebelumnya, komunitas penyandang disabilitas bukanlah sebuah monolit. Ini bukan realisasi yang nyaman, tapi mungkin ini hal yang penting yang akan saya coba ingat setelah pandemi."

3. Dalam keadaan tertentu, penyandang disabilitas, sakit kronis, dan lanjut usia masih secara luas dipandang sebagai kerugian

Seumur hidupnya, Andrew merasa yakin bahwa masalah terburuk yang dihadapi penyandang disabilitas adalah pengabaian dan kesalahpahaman, atau jenis niat baik sentimental tertentu, yang maksudnya baik, tetapi cara melakukan dan mengatakannya yang salah, atau dengan itikad baik menganjurkan ketinggalan zaman dan regresif kebijakan. Pandangan tentang kemampuan yang dapat menjadi ancaman yang tidak berbahaya ini populer tidak hanya di kalangan non-disabilitas, tetapi juga di banyak penyandang disabilitas. tapi keberadaanya muncul ketika cemas yang terkadang lahir dari pengalaman.

Kekhawatiran bagi kebanyakan penyandang disabilitas yaitu kekhawatiran tidak diinginkan atau dipandang sebagai orang yang tidak berguna dalam keadaan darurat. Ada juga sejarah kelam penyandang disabilitas yang secara aktif dihapuskan, melalui pelembagaan massal, sterilisasi paksa, dan pembunuhan langsung. Dan ini adalah sejarah yang relatif baru, bagian dari era modern, dan tidak bisa dianggap sebagai sejarah kuno. Sehingga di era yang berpikir masalah kebencian ini hanyalah masa lalu dan saat ini sudah tercerahkan rasanya terlalu mudah.

Pemikiran ini sangat mungkin apabila Anda terlahir sebagai penyandang disabilitas yang cukup beruntung, seperti Andrew yang mengaku dirinya beruntung memiliki keluarga dan komunitas yang suportif dan aman secara finansial yang menerima dan menghormatinya. Ia juga selalu tahu secara intelektual bahwa status difabel dan kepribadian dalam masyarakat itu rapuh. Tetapi COVID-19 memperjelas itu semua.

"Sejak awal pandemi, orang tua, difabel, dan orang sakit kronis mendengar pesan yang sangat jelas bahwa kita kurang layak untuk diselamatkan, bahwa hidup kita lebih rendah," katanya. Anggota Kongres secara terbuka berpendapat bahwa orang Amerika yang berisiko tinggi harus rela mati untuk menjaga agar ekonomi tetap berjalan. Masyarakat umum diberitahu untuk tidak khawatir tentang COVID-19 karena itu terutama akan membahayakan orang-orang dengan "kondisi yang sudah ada sebelumnya".

Faktanya, skeptisisme COVID sendiri sangat dipengaruhi oleh anggapan bahwa virus tersebut benar-benar hanya menjadi masalah bagi orang lain, yaitu orang lanjut usia, sakit kronis, dan penyandang disabilitas, seolah itu membuatnya tidak terlalu menjadi masalah bagi orang di luar itu.

"Kami mendengar semua ini. Kami mendengarkan. Dan sulit untuk tidak menganggapnya pribadi." Ini bukan hanya retorika dan prioritas yang lebih luas. Kebijakan triase eksplisit pengobatan COVID-19 siap untuk diterapkan pada musim semi yang akan menolak beberapa orang tua, difabel, dan orang sakit kronis. Sementara beberapa kemajuan telah dibuat dalam melawan dan menegaskan hak kami untuk mendapatkan perawatan penuh, karena kasus-kasus meningkat, namun keputusan diskriminatif dan mematikan ini sudah dibuat.

Memang ada beberapa orang yang mengakui bahwa kita adalah yang paling berisiko dan membutuhkan perlindungan, tetapi mengharapkan kita untuk memikul beban diri kita sendiri dengan mengunci diri kita sepenuhnya di rumah kita, sementara orang yang lebih muda, yang seharusnya lebih sehat, kebanyakan "melanjutkan hidup mereka". Beberapa kombinasi tindakan kesehatan masyarakat umum dan perlindungan yang ditargetkan untuk mereka yang memiliki risiko tertinggi tampaknya merupakan cara yang paling masuk akal. Namun tampaknya kecil kemungkinan kebijakan yang bernuansa seperti itu akan diterapkan, setidaknya selama pandemi ini.

Bagaimanapun, COVID-19 telah memberi pelajaran bagi semua. Bahwa tidak peduli seberapa sukses, aman secara finansial, dan dihormatinya Anda, jika identitas Anda adalah penyandang disabilitas, dalam arti tertentu Anda adalah anggota masyarakat yang kurang dihargai. P

ertanyaan selanjutnya yaitu memilih apakah lebih baik mengetahui kebenaran yang pahit dari kemampuan para difabel dan menghadapi implikasi yang mengganggu, atau memilih tidak mengetahui hal tersebut untuk mempertahankan ilusi bahwa ada kemajuan dalam inklusi yang telah lama penyandang disabilitas cita-citakan?

Infografis 6 Cara Aman Buang Masker Sekali Pakai

Infografis 6 Cara Aman Buang Masker Sekali Pakai. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 6 Cara Aman Buang Masker Sekali Pakai. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini: