Penyanyi Turkiye Ditangkap karena Singgung Soal Sekolah Agama

Merdeka.com - Merdeka.com - Penyanyi perempuan Turkiye Gulsen ditangkap dan dituduh menghasut kebencian karena komentar bercandanya soal sekolah agama.

April lalu dia sempat membuat candaan tentang anggota bandnya yang menjadi "cabul" karena masuk sekolah agama.

Meski komentar itu sudah cukup lama tapi belum lama ini pernyataan itu viral di media sosial dan memicu kritik dari pihak konservatif.

Laman BBC melaporkan, Sabtu (27/8), sejumlah kalangan menyebut penangkapan itu adalah upaya Presiden Recep Tayyip Erdogan yang hendak mencari dukungan jelang pemilu tahun depan.

Sebelum ditangkap, Gulsen yang dijululi Madonna-nya Turkiye, sudah meminta maaf di media sosial dan mengatakan komentarnya itu dicatut oleh orang yang ingin memecah belah masyarakat.

Melalui akun Twitter dan Instagramnya dia mengatakan meski dirinya bermaksud "membela kebebasan berekspresi" dengan becandaannya itu, dia tetap meminta maaf kepada "siapa pun yang merasa tersinggung."

Saat ini dia sedang menanti persidangan.

Presiden Erdogan yang partainya sudah berkuasa sejak 20 tahun lalu, menempuh pendidikan di salah satu sekolah agama Imam Hatip yang didirikan negara untuk mendidik kaum muda menjadi imam dan penceramah.

Banyak pejabat pemerintahan juga bersekolah di sekolah agama itu.

Sebelumnya Gulsen juga permah menuai kecaman dari kaum konservatif di Turkiye karena pakaian yang dikenakannya dan dukungannya terhadap kelompok LGBT.

Penahanan penyanyi 46 tahun itu membuat Turkiye terbelah. Mereka yang berada di kubu konservatif dan pro-pemerintah mengatakan pernyataan Gulsen itu bentuk "penistaan", sementara mereka yang lebih liberal dan pro-oposisi mengkritik penahanan Gulsen.

Peristiwa ini terjadi di tengah santernya isu partai pemerintah ingin ikut campur dalam "kehidupan pribadi" individu setelah belum lama ini muncul larangan sejumlah festival musik di Turkiye.

"Saya juga lulusan sekolah agama," kata jurnalis oposisi konservatif Nihal Bengisu Karaca. "Saya juga kecewa dengan penghinaan Gulsen. Tapi mengapa dia ditangkap? Buat apa?"

Tapi sejumlah orang di media sosial juga mendukung penangkapan itu.

"Menyebut seseorang dari sebuah sekolah, klub sepak bola atau etnis tertentu sebagai 'cabul' adalah ujaran kebencian," kata kolumnis Fuat Ugur.

Koran pro-pemerintah Yeni Safak menulis dalam laporan utama" "Badut itu sudah keterlaluan." [pan]