Penyebab Anemia, Gejala-gejalanya, Beserta Cara Pengobatannya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Anemia merupakan penyakit yang bisa menyerang semua orang di segala usia. Penyebab anemia juga ada beragam, mulai dari akibat kekurangan darah saat pendarahan, kekurangan zat besi, dan lain sebagainya.

Penyakit anemia bisa terjadi dalam jangka panjang dan memiliki tingkat keparahan tertentu. Tingkatan tersebut dikategorikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Untuk penanganan dan pengobatan dari penyakit ini, tergantung dari penyebab anemianya.

Seseorang dapat dikatakan mengidap penyakit anemia apabila memiliki kadar hemoglobin yang rendah dalam darahnya. Untuk laki-laki dewasa, dikatakan terkena anemia apabila kadar hemoglobinnya berada di bawah 14 gram per desiliter. Sedangkan untuk wanita dewasa yakni 12 gram per desiliter. Untuk anak-anak yakni kadar hemoglobin berada di bawah 8 gram per desiliter.

Agar dapat memberikan penanganan yang baik, maka harus dipahami terlebih dahulu penyebab anemia yang diderita. Berikut ini merupakan ulasan tentang penyebab anemia, gejala-gejalanya, dan cara pengobatannya yang dirangkum dari berbagai sumber oleh Liputan6.com, Rabu (28/10/2020).

Penyebab Anemia

Ilustrasi Anemia Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio
Ilustrasi Anemia Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Hemoglobin merupakan situasi dimana seseorang kekurangan sel darah merah atau hemoglobin dalam darahnya. Untuk laki-laki dewasa, dikatakan terkena anemia apabila kadar hemoglobinnya berada di bawah 14 gram per desiliter. Sedangkan untuk wanita dewasa yakni 12 gram per desiliter. Untuk anak-anak yakni kadar hemoglobin berada di bawah 8 gram per desiliter.

Akibat kekurangan hemoglobin, sel-sel dalam tubuhnya tidak bisa mendapatkan cukup oksigen dan tidak dapat berfungsi secara normal atau yang disebut dengan hipoksemia. Secara garis besar, penyebab anemia dapat diakibatkan oleh tiga kondisi berikut ini:

1. Kehilangan darah dalam jumlah yang besar. Biasa terjadi saat pendarahan

2. Hancurya sel darah merah terlalu cepat

3. Produksi sel darah merah yang kurang

Jenis-jenis Anemia Berdasarkan Penyebabnya

Ilustrasi Gejala Anemia Credit: unsplash.com/Kinga
Ilustrasi Gejala Anemia Credit: unsplash.com/Kinga

Untuk mengobati penyakit anemia dibutuhkan untuk mengetahui penyebabnya terlebih dahulu. Maka dari itu penyakit ini diklasifikasikan berdasarkan penyebab anemia agar dapat ditangani dengan baik dan benar. Berikut ini merupakan jenis-jenis anemia berdasarkan penyebabnya:

1. Anemia akibat kekurangan zat besi

Salah satu penyebab anemia yang paling umum ditemukan adalah akibat kekurangan zat besi. Dengan kurangnya zat besi dalam tubuh, menyebabkan tubuh tak mampu memproduksi hemoglobin (Hb). Kondisi ini diakibatkan oleh kurangnya asupan zat besi dalam makanan atau dikarenakan tubuh tidak mampu menyerap zat besi atau yang disebut dengan penyakit celiac.

2. Anemia aplastik

Salah satu jenis anemia adalah anemia aplastik yang terjadi akibat adanya kerusakan pada sumsum tulang sehingga membuat tubuh tak mampu menghasilkan sel darah merah secara optimal. Kondisi ini biasanya dipicu akibat penyakit autoimun, efek samping obat antibiotik, zat kimia beracun, dan lain sebagainya.

3. Anemia akibat perdarahan

Penyebab anemia salah satunya adalah ketika mengalami kehilangan banyak darah atau biasa disebut dengan pendarahan besar dalam waktu yang lama. Penyebab pendarahan besar ini bisa diakibatkan oleh kanker usus, gangguan menstruasi, efek samping obat, cedera, dan lain sebagainya. Kemudian pendarahan ini juga dapat disebabkan oleh infeksi cacing tambang yang menghisap darah dari dinding usus.

4. Anemia pada masa kehamilan

Biasanya ibu hamil memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah, dan hal ini merupakan kondisi yang normal. Meski demikian, kebutuhan akan hemoglobin biasanya terus meningkat ketika hamil, maka dari itu, ibu hamil disarankan untuk mengonsumsi banyak makanan yang mengandung asam folat, vitamin B12 dan zat besi.

5. Anemia hemolitik

Salah satu jenis anemia adalah anemia hemolitik, akibat terjadi penghancuran sel darah merah secara berlebih yang melebihi volume produksinya. Anemia hemolitik ini biasanya didapatkan secara genetik, kanker darah, virus, dan infeksi bakteri. Selain itu, penyebab anemia hemolitik juga bisa terjadi akibat efek samping obat-obatan seperti penisilin, obat antimalaria, dan paracetamol.

6. Anemia akibat penyakit kronis

Seperti yang disebutkan di atas, salah satu penyebab utama dari anemia adalah kurangnya sel darah merah dalam tubuh pada jangka waktu panjang. Kondisi ini juga dapat diakibatkan oleh penyakit kronis seperti halnya HIV/AIDS, leukimia, penyakit ginjal, penyakin Crohn, dan lain sebagainya.

7. Anemia sel sabit (sickle cell anemia)

Penyebab anemia salah satunya yakni sel sabit atau sickle cell. Kondisi yang diakibatkan sel sabit ini yakni hemoglobin menjadi tidak normal dan lengket sehingga berbentuk menjadi bulan sabit.

8. Thalasemia

Salah satu jenis anemia yakni thalasemia, penyakit ini disebabkan oleh mutasi gen sehingga membuat produksi hemoglobin menurun. Orang yang memiliki kondisi ini biasanya diakibatkan oleh warisan secara genetik.

Gejala Anemia

Benarkah Anemia Bisa Jadi Tanda Kanker Darah?
Benarkah Anemia Bisa Jadi Tanda Kanker Darah?

Bagi para pengidapnya, penyakit anemia bisa timbul dan mengakibatkan gejala yang sangat bervariasi. Namun secara garis besarnya, penyakit anemia diakibatkan oleh beberapa hal berikut ini:

- Lemas dan cepat lelah

- Sakit kepala dan pusing

- Sering mengantuk, misalnya mengantuk setelah makan

- Kulit terlihat pucat atau kekuningan

- Detak jantung tidak teratur

- Napas pendek

- Nyeri dada

- Dingin di tangan dan kaki

Pengobatan untuk anemia

Kenali 8 Tanda Anemia Berikut Ini (Garagestock/Shutterstock)
Kenali 8 Tanda Anemia Berikut Ini (Garagestock/Shutterstock)

Untuk mengobati penyakit anemia, maka didasarkan pada penyebab anemia itu sendiri. Untuk mengetahui pengobatan yang tepat, maka harus dilakukan berdasarkan konsultasi dengan dokter karena pengobatan anemia membutuhkan banyak pertimbangan. Berikut ini merupakan contoh pengobatan anemia berdasarkan penyebabnya:

1. Anemia akibat pendarahan

Untuk mengatasi anemia ini biasanya dilakukan dengan menghentikan pendarahan, tranfusi darah atau bisa juga ditangani dengan memberikan suplemen zat besi.

2. Anemia akibat kekurangan zat besi

Untuk menangani anemia jenis ini biasanya disarankan untuk mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung zat besi, namun pada kasus yang parah, harus dilakukan tranfusi darah.

3. Anemia akibat kehamilan

Kondisi ini biasanya ditangani dengan memberikan suplemen zat besi, makanan yang mengandung asam folat, vitamin B12, dan lain sebagainya.

4. Anemia aplastik

Pengobatannya adalah dengan transfusi darah untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, atau transplantasi (cangkok) sumsum tulang bila sumsum tulang pasien tidak bisa lagi menghasilkan sel darah merah yang sehat.

5. Anemia hemolitik

Pengobatannya dengan menghentikan konsumsi obat yang memicu anemia hemolitik, mengobati infeksi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan, atau pengangkatan limpa.

6. Anemia akibat penyakit kronis

Kondisi ini diatasi dengan mengobati penyakit yang mendasarinya. Pada kondisi tertentu, diperlukan transfusi darah dan suntik hormon eritropoietin untuk meningkatkan produksi sel darah merah.

7. Anemia sel sabit

Kondisi ini ditangani dengan suplemen zat besi dan asam folat, cangkok sumsum tulang, dan pemberian kemoterapi, seperti hydroxyurea. Dalam kondisi tertentu, dokter akan memberikan obat pereda nyeri dan antibiotik.

8. Thalassemia

Dalam menangani thalassemia, dokter dapat melakukan transfusi darah, pemberian suplemen asam folat, pengangkatan limpa, dan cangkok sumsum tulang.

Pencegahan anemia

Diet Sehat Untuk Penderita Anemia
Diet Sehat Untuk Penderita Anemia

Untuk mencegah penyakit anemia, maka bisa dilakukan dengan menghindari hal-hal yang menyebabkan penyakit ini. Di antaranya yakni dengan mengatur pola hidup sehat dan konsumsi makanan yang kaya nutrisi seperti berikut ini:

1. Makanan kaya zat besi dan asam folat, seperti daging, sereal, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau gelap, roti, dan buah-buahan

2. Makanan kaya vitamin B12, seperti susu dan produk turunannya, serta makanan berbahan dasar kacang kedelai, seperti tempe dan tahu.

3. Buah-buahan kaya vitamin C, misalnya jeruk, melon, tomat, dan stroberi.