Penyebab Autis pada Anak Usia Dini, Kenali Ciri-ciri dan Cara Menanganinya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Pengebab autis pada anak dapat terjadi akibat faktor keturunan atau genetik maupun faktor lingkungan. Autisme atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan pada anak yang menyebabkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi anak terganggu.

Gejala atau ciri-ciri anak autis sebenarnya sudah bisa terlihat ketika ia masih bayi, misalnya jarang melakukan kontak mata serta kurang responsif atau tidak tanggap sama sekali ketika namanya dipanggil. Namun, secara umum, gejala autisme biasanya mulai terlihat jelas saat anak menginjak usia 2–4 tahun.

Autisme mencakup segala gangguan dalam interaksi sosial, perkembangan bahasa, dan keterampilan komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal. Gangguan perkembangan ini umumnya dimulai pada masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup. Anak autis cenderung kesulitan untuk menuangkan pikiran dan mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.

Untuk lebih rinci, berikut ini penjelasan mengenai penyebab autis, ciri-ciri dan faktor yang meningkatkan risikonya yang tealh dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (2/10/2021).

Ciri-ciri Anak Autis

Ilustrasi Anak Penyandang Autis Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Anak Penyandang Autis Credit: pexels.com/pixabay

Sebelum mengetahui penyabab autis, terlebih dahulu mengenali ciri-ciri anak autis. Gejala autisme sangat beragam dan tiap anak yang menderita kondisi ini dapat menunjukkan gejala yang berbeda. Namun, secara umum, ciri-ciri anak autis terdiri dari 3 karakteristik utama, yaitu:

1. Kesulitan komunikasi

Masalah komunikasi yang kerap dialami anak penderita autisme, antara lain sulit bicara, menulis, membaca, dan memahami bahasa isyarat, seperti menunjuk dan melambai. Hal ini kemudian membuatnya sulit untuk memulai percakapan dan memahami maksud dari suatu perkataan atau petunjuk yang diberikan orang lain.

Tak jarang anak dengan autisme mengucapkan satu kata secara berulang atau yang beberapa waktu lalu didengarnya, mengucapkan sesuatu dengan nada tertentu atau seperti sedang bersenandung, atau sering tantrum.

2. Gangguan dalam berhubungan sosial

Salah satu ciri-ciri anak autis adalah sulit bersosialisasi. Anak dengan autisme sering kali terlihat asyik dengan dunianya sendiri, sehingga sulit terhubung dengan orang-orang di sekitarnya. Terkadang anak dengan autisme juga terlihat kurang responsif atau sensitif terhap perasaannya sendiri atau pun orang lain. Oleh karena itu, anak autis biasanya tidak mudah berteman, bermain dan berbagi mainan dengan teman, atau fokus terhadap suatu objek atau mata pelajaran di sekolah.

3. Gangguan perilaku

Berikut ini adalah beberapa pola perilaku khas yang biasanya ditunjukkan oleh anak dengan autisme:

a. Marah, menangis, atau tertawa tanpa alasan yang jelas.

b. Hanya menyukai atau mengonsumsi makanan tertentu.

c. Melakukan tindakan atau gerakan tertentu dilakukan secara berulang, seperti mengayun tangan atau memutar-mutarkan badan.

d. Hanya menyukai objek atau topik tertentu.

e. Melakukan aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri, seperti menggigit tangan dengan kencang atau membenturkan kepala ke dinding.

f. Memiliki bahasa atau gerakan tubuh yang cenderung kaku.

g. Sulit tidur.

Kendati demikian, gejala autisme tidak selamanya buruk. Beberapa anak dengan autisme ada yang memiliki kelebihan atau bakat di bidang tertentu, seperti mampu belajar secara rinci lalu mengingatnya untuk waktu yang lama dan tertarik mempelajari seni musik dan menggambar.

Penyebab Autis

Ilustrasi ibu hamil (pexels.com/freestock.org)
Ilustrasi ibu hamil (pexels.com/freestock.org)

dr. Faisal mengungkapkan penyebab autis belum diketahui secara pasti. Hanya, diperkirakan autisme terjadi karena adanya kelainan dari sistem saraf (neurologi). Penelitian tentang penyebab autis juga masih pada taraf awal, meski di beberapa negara maju sudah sejak lama mengenal dan mengelola gangguan mental tersebut.

Pendapat yang sudah menjadi konsesus bersama para ahli belakangan ini mengakui bahwa autisme diakibatkan oleh terjadinya kelainan fungsi luhur di daerah otak. Kelainan fungsi tersebut bisa disebabkan oleh bermacam trauma, seperti:

1. Sewaktu bayi dalam kandungan, misalnya karena keadaan keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), infeksi virus rubella, virus cytimegalo).

2. Kejadian segera setelah lahir (perinatal) seperti kekurangan oksigen (anoksida).

3. Keadaan selama kehamilan seperti pembentukan otak yang kecil, misalnya vermis otak kecil yang lebih kecil (mirkosepali) atau terjadi pengerutan jaringan otak (tuber sclerosis).

4. Mungkin karena kelainan metabolism seperti pada penyakit Addison karena infeksi Tuberkulosa sehingga terjadi bertambahnya pigment tubuh dan kemunduran mental.

5. Mungkin karena kelainan kromosom seperti pada sindrom kromosom X yang fragil seperti diberitakan banyak terjadi di Gunuh Kidul. DIY dan sindrom kromosom XYY

Dalam buku Kenali Autisme Sejak Dini (2010) karya Huzaemah, beberapa ahli setelah melakukan penelitian, menyatakan bahwa penyebab autis telah ada jauh hari sebelum bayi dilahirkan, bahkan sebelum dilakukan vaksinasi. Kelainan itu dikonfirmasi dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autisme. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika Serikat menyatakan bahwa korelasi antara autis dan catat lahir yang disebabkan oleh Thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin.

Cara Menangani Autis

Ilustrasi Pola Asuh Penyandang Autis Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Pola Asuh Penyandang Autis Credit: pexels.com/pixabay

Setelah mengetahui penyebab autis, Anda juga harus tau cara menanganinya. Sangat penting untuk mewaspadai gejala autisme sedini mungkin. Meski tidak bisa disembuhkan, terdapat berbagai metode untuk menangani autisme yang bertujuan agar penderita dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memperlihatkan perilaku seperti autisme belum tentu mengidap autisme. Perilaku tersebut bisa juga disebabkan oleh adanya gangguan selain autis. Pemeriksaan klinis dan penunjang lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut. Ada beberapa jenis pemeriksaan medis yang dapat dilakukan untuk memastikan kondisi autism, di antaranya yakni:

1. Pemeriksaan CT Scan

Pada pemeriksaan CT Scan dan pneumo encephalogram pada anak autisme akan tampak: Verntrikel lateral otak tidak normal, terutama daerah temporal Juga terlihat pelebaran ventrikel lateral otak.

2. Pemeriksaan Histopatologi

Pembentukan sel-sel di daerah hippocampus terlihat tidak normal dan amygdala di kedua sisi otak.

3. Pemeriksaan EEG

Terdapat kelainan tidak khas, meskipun kadang-kadang tampak cischarge temporal.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel