Penyebab Fenomena Suap Penerimaan Mahasiswa di Kampus

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda berbicara mengenai fenomena suap di kampus. Menurutnya, tidak ada pengawasan ketat maupun standar operasional prosedur mengenai jalur mandiri penerimaan mahasiswa baru.

Pada pertengahan Agustus lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Rektor Universitas Lampung (Unila) Karomani beserta jajarannya. Dia diduga menerima suap terkait penerimaan mahasiswa baru di Unila tahun 2022.

"Karena tidak ada SOP yang disepakati dari semua kampus di Indonesia, kan selama ini ada dua jalur masuk perguruan yang dikelola langsung di lead langsung oleh Kemendikbud serentak gitu," kata Huda saat berbincang dengan merdeka.com pada Jumat 2 September lalu.

Menurutnya, jalur mandiri melalui kampus kampus negeri di masing-masing masing rawan disalahgunakan. Kemendikbud relatif tidak punya kendal untuk mengawasi itu.

"Ketika masuk di jalur mandiri kemendikbud relatif tidak punya kendali untuk monitoring dan diserahkan kepada pihak kampus kampus," ucapnya.

"Disitulah karena tidak ada monitoring, SOP-nya, standarisasi nya tidak dibikin akhirnya terjadi," ujar Huda.

Dia mengatakan, kasus suap Unila membawa suasana pendidikan di Indonesia kurang bagus karena efek jalur mandiri yang minim pengawasan.

"Kita minta kemendikbud untuk turun tangan mengevaluasi ini jalur mandiri yang menelan korban rektor Unila," ucapnya.

Huda belum tau persis apakah fenomena suap penerimaan mahasiswa sudah menjadi rahasia umum. Namun, jika sistem yang dibangun kurang transparan, pasti berpotensi penyelewengan

"Tapi prinsipnya kalau ada sistem yang dibangun dengan transparansi yang kurang bagus pasti berpotensi ada penyalahgunaan," kata Huda. [ded]