Penyebab Fobia Darah, Gejala, dan Cara Mengatasinya yang Tepat

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyebab fobia darah atau yang dikenal juga dengan hemophobia bisa dipengaruhi berbagai macam faktor. Fobia sendiri adalah rasa takut yang berlebihan terhadap suatu benda, tempat, situasi, atau hewan tertentu. Hemophobia atau fobia darah termasuk ke dalam kategori fobia spesifik.

Namun, tidak semua orang yang takut darah dapat langsung disebut hemophobia. Hal ini butuh pemeriksaan dan penentuan diagnosis dari alhi psikologi dan dokter terlebih dahulu. Apalagi, rasa takut dan fobia juga berbeda. Level kecemasan fobia jauh lebih tinggi dibanding rasa takut.

Penyebab fobia darah berkaitan dengan gangguan mental. Gejala fobia darah ini dapat dipicu hanya dengan melihat darah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya saat melihat foto atau video yang menunjukkan darah.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (31/12/2020) tentang penyebab fobia darah.

Penyebab Fobia Darah atau Hemophobia

Fobia Darah (Photo by Anna Shvets from Pexels)
Fobia Darah (Photo by Anna Shvets from Pexels)

Penyebab fobia darah bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah pengalaman negatif atau traumatis yang berkaitan dengan darah. Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang dapat membut seseorang dobia darah. Selain itu, faktor kecemasan atau stres jangka panjang yang berkaitan dengan darah maupun situasi lain yang serupa juga bisa meningkatkan risiko hemophobia.

Pola pengasuhan yang terlalu protektif juga bisa menambah risiko seorang anak menjadi hemophobia. Anak mungkin menjadi lebih takut mencoba sesuatu. Akibatnya, ketika terluka sedikit dan melihat darah, ia cenderung mudah merasa takut, atau bahkan histeris. Kondisi seperti itu yang dipupuk bertahun-tahun dapat meningkatkan rasa cemasnya.

Fobia yang satu ini sering dimulai saat masih anak-anak, yakni sekitar usia 10-13 tahun. Intensitasnya meningkat ketika usianya 7 tahun ke atas. Phobia ini biasanya muncul bersamaan dengan phobia lain, seperti trypanophobia (takut jarum suntik).

Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk memiliki phobia darah, di antaranya:

- Faktor keturunan.

- Pola asuh anak, misalnya memiliki orang tua yang terlalu protektif.

- Riwayat trauma psikologis, seperti pernah mengalami kecelakaan atau melihat kecelakaan yang menyebabkan keluar banyak darah.

Gejala Fobia Darah atau Hemophobia

Gejala-gejala yang umumnya dirasakan orang yang fobia darah atau Hemophobia antara lain:

- Sulit bernapas

- Tubuh terasa lemas secara tiba-tiba

- Sesak dan nyeri di dada

- Badan gemetar

- Jantung berdetak cepat

- Pusing

- Mual dan muntah

- Rasa cemas yang berlebihan atau panik

- Keringat dingin

- Kehilangan kendali atas dirinya sendiri

- Merasa akan pingsan bahkan meninggal

- Pingsan

Dilansir dari Healthline, 80 persen penderita fobia darah atau hemophobia mengalami respons vasovagal. Respons tersebut berupa penurunan tekanan darah secara drastis. Lalu, diikuti dengan melemahnya detak jantung, pusing, dan berujung pada hilangnya kesadaran.

Cara Mengatasi Fobia Darah atau Hemophobia

Fobia Darah (Photo by Karolina Grabowska from Pexels)
Fobia Darah (Photo by Karolina Grabowska from Pexels)

Fobia darah atau Hemophobia perlu ditangani sesegera mungkin. Penanganan psikoterapi yang tepat dari ahli maupun dukungan farmakologi perlu dilakukan agar intensitas ketakutan dapat berangsur berkurang atau tidak lagi mengganggu keseharian seseorang yang fobia darah.

Berikut beberapa perawatan yan diperlukan seseorang yang mengalami fobia darah atau Hemophobia:

Relaksasi. Latihan pernapasan dan yoga dapat membantu mengatasi fobia. Melakukan teknik relaksasi dapat membantu meredakan stres dan gejala fisik yang kerap muncul.

Terapi Pemaparan. Terapis akan memberikan ekspos terhadap ketakutan kamu secara berkelanjutan. Kamu mungkin terlibat dalam latihan visualisasi dan mengatasi ketakutan darah secara langsung.

Terapi Kognitif. Terapis akan membantu mengidentifikasi kecemasan soal darah. Tujuannya, untuk menggantikan kecemasan dengan pikiran yang lebih realistis.

Terapi Applied Tension. Metode terapi ini bisa mencegah pingsan ketika penderitanya melihat darah. Otot lengan bagian tengah dan kaki dikencangkan dalam interval waktu tertentu sampai wajah memerah.

Terapi Obat-Obatan. Pada kasus yang parah, pengobatan mungkin diperlukan. Dokter akan memberikan obat-obatan untuk mengatasi rasa cemas berlebih. Tindakan ini bertujuan agar pasien dapat lebih tenang dan fokus menjalani proses pengobatan lainnya.