Penyebab Hipertensi Sering Picu Gagal Jantung

Adinda Permatasari
·Bacaan 1 menit

VIVAHipertensi erat kaitannya dengan penyakit jantung. Sebabnya, hipertensi bisa menimbulkan kerusakan pada banyak organ tubuh yang dilalui pembuluh darah.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K) mengatakan, hipertensi juga banyak mengakibatkan gagal jantung. Ini dikarenakan terjadinya kerusakan pada otot jantung.

"Akibatnya, otot jantung jadi bekerja keras. Hipertensi menyebabkan kerusakan otot jantung yang dalam jangka panjang menimbulkan kelemahan dalam memompa jantung," ujarnya dalam virtual media briefing beberapa waktu lalu.

Baca juga: Turunkan Risiko Hipertensi, Siasati Penggunaan Garam Lewat Cara Ini

Akibat otot jantung yang melemah, akhirnya jantung tidak mampu memompa darah secara efisien. Inilah yang menyebabkan terjadinya gagal jantung.

Hipertensi, secara tidak langsung membuat pembuluh darah koroner mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan hipertensi yang tidak dikelola dengan baik dalam prosesnya menimbulkan penyumbatan. Kemudian mengakibatkan timbulnya penyakit jantung koroner.

Dokter Ario juga menjelaskan, karena otot jantung jadi terkena beban berat karena ada penebalan otot yang tidak normal. Kemampuan pompa jantung menjadi tidak efisien sehingga tidak heran pada pasien penyakit jantung banyak mengalami gejala sesak napas.

"Dia jadi cepat capek. Kemampuan aktivitas fisiknya, olahraga menjadi menurun. Banyak dikeluhkan sesak napas," kata dia.

Karenanya, mengelola tekanan darah adalah cara terbaik mencegah kerusakan itu. Dan tentunya, yang terpenting adalah mengubah pola atau gaya hidup. Salah satunya, mengurangi konsumsi garam. Selain itu, berhenti merokok dan kelola hipertensi dengan mengonsumsi obat berdasarkan arahan dokter.

Baca juga: Sudah Usia 30, Segera Lakukan Ini untuk Cegah Penyakit Jantung

Sebaiknya, selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan atau dokter mengenai obat mana yang harus dikonsumsi karena setiap obat memiliki efek samping.

Di masa pandemi, di mana banyak pasien hipertensi lebih sering berada di rumah, disarankan untuk selalu melakukan cek tekanan darah mandiri. Dokter Ario menganjurkan agar pasien memiliki alat pengukur tekanan darah sendiri di rumah lalu mengevaluasinya dengan dokter.