Penyebab HIV pada Ibu Hamil, Pahami Gejala dan Cara Tepat Mengatasinya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyebab HIV pada ibu hamil adalah hal-hal yang berkaitan dengan aktivitasnya sebelum masa kehamilan terjadi. Mulai dari hubungan seksual tidak sehat, penggunaan alat medis yang tidak higienis, transplantasi organ, dan masih banyak lagi. Meski sebenarnya tak menutup kemungkinan juga bahwa penularan HIV terjadi saat kehamilan sudah dialami.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) bisa berkembang menjadi AIDS bila sudah di fase terparah. HIV merupakan salah satu penyakit yang belum bisa disembuhkan, tetapi perkembangan penyakit ini masih bisa dikontrol. HIV adalah infeksi retrovirus yang menyebabkan gangguang fungsi sistem kekebalan tubuh.

Mengetahui berbagai penyebab HIV pada ibu hamil ini sangat penting karena ibu hamil dapat menularkan virus ini melalui ari-ari, saat proses persalinan ataupun melalui air susu ibu. Jangan sampai janin dalam kandungan dan anak yang dilahirkan terjangkit HIV, mulai waspadai!

Nah, cara terbaik untuk menghindari penularan HIV ibu hamil ke janin di dalam kandungan ialah dengan mengonsumsi obat anti retroviral (ART). Tujuan dari pemberian obat ini selain melindungi kesehatan ibu hamil juga untuk mencegah penularan ke janin. Berikut Liputan6.com ulas penyebab HIV pada ibu hamil dari berbagai sumber, Selasa (25/5/2021).

Penyebab HIV pada Ibu Hamil

Ilustrasi Kehamilan. Credit: pexels.com/Sierra
Ilustrasi Kehamilan. Credit: pexels.com/Sierra

Ibu hamil bisa terserang HIV AIDS dan ini berbahaya bagi janin dalam kandungannya. Penyebab HIV pada ibu hamil tak lain karena aktivitas hubungan seksual yang tidak sehat sebelum masa kehamilan itu terjadi. Hal ini mungkin saja terjadi saat ibu hamil tidak menyadari telah terinfeksi sebelumnya. Hubungan seks baik vaginal, anal atau oral dengan pasangan yang terinfeksi dapat menjadi penyebab HIV pada ibu hamil. Ini disebabkan oleh darah, air mani atau cairan vagina yang terinfeksi masuk ke tubuh individu lain.

Seperti diketahui, anus merupakan salah satu bagian tubuh yang paling banyak mengandung kuman. Sering ditemukan Oral candidiasis (jamur pada rongga mulut) karena adanya hubungan seksual secara oral yang kurang higienis, ini meningkatkan risiko menjadi penyebab HIV pada ibu hamil. Pekerja seks komersial harus memperhatikan penyebab HIV ini agar kehamilan yang disertai dengan HIV AIDS tidak terjadi.

Tak cuma hubungan seksual, penyebab HIV pada ibu hamil bisa terjadi karena penggunaan jarum suntik bergantian. Berbagi peralatan obat intravena (jarum dan jarum suntik) yang terkontaminasi membuat seseorang berisiko tinggi terhadap HIV dan penyakit menular lainnya, seperti hepatitis. Bahkan dalam beberapa kasus, virus penyebab HIV pada Ibu hamil dapat ditularkan melalui transfusi darah. Ini dipengaruhi oleh penggunaan alat transfusi darah berulang atau tidak steril.

Penyebab HIV pada ibu hamil karena transfuse darah cukup jarang terjadi. Pihak medis biasanya sudah memastikan bahwa darah yang akan ditransfusikan sehat dan layak. Walaupun begitu, kesalahan dalam tindakan medis bisa saja terjadi dan hal ini perlu diwaspadai. Penyebab HIV AIDS ini tentu harus diperhatikan lagi.

Selain hal-hal yang sudah disebutkan sebelumnya, penyebab HIV pada ibu hamil bisa karena alat tato. Terutama bagi ibu hamil yang saat atau sebelum mengalami masa kehamilan melakukan tato dengan alat yang tidak steril. Apabila jarum alat tato tersebut digunakan bergantian, bukan tidak mungkin seseorang dapat tertular virus HIV dari orang yang sebelumnya menggunakan alat tersebut.

Penyebab HIV pada ibu hamil pun bisa karena transplantasi organ yang dijalaninya sebelum masa kehamilan terjadi. Hal ini mungkin saja terjadi, jika pendonor memiliki riwayat terserang virus HIV dan mendonorkan organ tubuhnya. Meski biasanya dilakukan pengecekan, namun tetap saja perlu kehati-hatian baik bagi petugas medis maupun pasien untuk memastikan jika pendonor organ tidak terserang HIV.

Bagaimana Virus HIV pada Ibu Hamil Berkembang?

Penyakit HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia lewat infeksi, baik oleh bakteri, virus, jamur, parasit maupun organisme lainnya yang disebut infeksi oportunistik. Penularan bisa melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, tinta tato, hubungan seksual bebas, penularan secara langsung dari ibu hamil kepada janin yang di kandungnya dan sebagainya.

Ketika sedang di masa kehamilan, ibu hamil dapat menularkan virus ini melalui ari-ari, saat proses persalinan ataupun melalui air susu ibu. Oleh sebab itu, ibu hamil yang terkena HIV harus mendapatkan pengobatan. Cara terbaik untuk menghindari penularan ke janin di dalam kandungan ialah dengan mengonsumsi obat anti retroviral (ART). Tujuan dari pemberian obat ini selain untuk melindungi kesehatan ibu hamil juga untuk mencegah penularan ke janin.

Selain itu penting bagi ibu hamil yang positif HIV selalu mengecek jumlah virus di dalam tubuhnya. Semakin tinggi jumlah virus dan semakin rendah jumlah sel CD4, maka kemungkinan penularan ke janin semakin besar. Saat HIV masuk ke dalam peredaran darah, virus dapat menginvasi dan membunuh sel CD4, yakni sel penting pada sistem kekebalan tubuh manusia. Ketika sel ini mengalami kerusakan, tubuh akan lebih mudah terserang penyakit.

Gejala HIV pada Ibu Hamil atau Wanita

Meski sepele, kamu nggak boleh mengabaikan tanda seseorang terkena HIV ini ya. (Sumber Foto: POZ Magazine)
Meski sepele, kamu nggak boleh mengabaikan tanda seseorang terkena HIV ini ya. (Sumber Foto: POZ Magazine)

Ibu hamil atau wanita yang terinfeksi virus HIV biasanya akan mengalami beberapa keluhan masalah kesehatan. Pada wanita, gangguan reproduksi akibat virus ini dapat terjadi seperti gangguan siklus haid, infeksi radang panggul bahkan kemungkinan terkenanya kanker serviks.

Berikut ini tahapan gejala HIV pada ibu hamil atau wanita:

Tahap Pertama

Orang yang terinfeksi virus HIV akan mengalami sakit mirip seperti flu, beberapa minggu setelah terinfeksi, selama satu hingga dua bulan. Kemudian, setelah kondisi tersebut, HIV dapat tidak menimbulkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Fase ini disebut sebagai serokonversi.

Gejala HIV yang paling umum terjadi adalah:

1. Demam

2. Tenggorokan sakit

3. Muncul ruam

4. Pembengkakan noda limfa

5. Diare

6. Kelelahan

7. Nyeri otot dan sendi

Namun, gejala HIV di atas bisa saja merupakan gejala dari penyakit lain. Untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak, harus dilakukan tes HIV. Semakin cepat kondisi diketahui, maka tingkat keberhasilan pengobatan akan semakin tinggi.

Tahap Kedua

Setelah gejala awal menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun. Dalam periode ini infeksi HIV berlangsung tanpa menimbulkan gejala.

Virus terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Pengidap akan tetap merasa sehat. Bahkan, ia bisa saja sudah menularkan infeksi kepada orang lain. Tahap ini dapat berlangsung hingga 10 tahun atau lebih.

Tahap Ketiga

Tahap ini disebut juga sebagai tahap HIV simtomatik. Apabila pengidap HIV tidak mendapat penanganan tepat, virus akan melemahkan tubuh dengan cepat. Pada tahap ketiga ini, pengidap lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini dapat berubah menjadi AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Berikut adalah gejala-gejala HIV yang muncul:

1. Demam terus menerus lebih dari sepuluh hari

2. Merasa lelah setiap saat

3. Sulit bernapas

4. Diare parah

5. Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, dan vagina

6. Muncul bintik ungu pada kulit yang tidak akan hilang

7. Hilang nafsu makan sehingga berat badan turun drastis

Penyakit mematikan yang dengan mudah menyerang penderita AIDS antara lain kanker, pneumonia, dan TB. Pada tahap ini, pengobatan HIV tetap dilakukan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel