Penyebab Jantung Koroner, Gejala, dan Pencegahannya yang Penting Diketahui

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyebab jantung koroner dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, terutama pola hidup yang tidak sehat. Penyakit jantung koroner adalah suatu kondisi saat pembuluh darah jantung atau arteri koroner terseumbat oleh timbunan lemak.

Timbunan lemak tersebut membuat arteri menyempit dan membuat aliran darah ke jantung berkurang. Aliran darah ke jantung yang berkurang ini menyebabkan beberapa gejala seperti angina hingga sesak napas.

Penyebab jantung koroner harus dikenali agar kamu bisa menghindarinya. Pasalnya, gejala jantung koroner ini sering kali tidak dapat disadari hingga menimbulkan gejala nyeri dada. Mengetahui pencegahannya sangat penting untuk menjaga diri dari penyakit jantung koroner ini.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (7/7/2021) tentang penyebab jantung koroner.

Gejala Jantung Koroner

Ilustrasi Penyakit Jantung Koroner Credit: freepik.com
Ilustrasi Penyakit Jantung Koroner Credit: freepik.com

Sebelum mengetahui penyebab jantung koroner, penting mengetahui apa saja gejala yang ditimbulkan. Pada awalnya, aliran darah yang menurun mungkin tidak menimbulkan gejala apapun. Namun, karena plak terus menumpuk di arteri koroner gejala akan mulai bermunculan.

Berikut beberapa gejala yang bisa muncul akibat penyakit jantung koroner:

- Angina

Penyakit jantung koroner dapat menyebabkan angina. Ini adalah jenis nyeri dada yang terkait dengan penyakit jantung. Kondisi ini didefinisikan sebagai rasa tekanan atau sesak di dada, seolah ada sesuatu berat yang duduk di dada. Angina biasanya terjadi di bagian tengah atau kiri dada.

Angina umumnya dipicu oleh stres fisik atau emosional. Rasa sakit biasanya hilang dalam beberapa menit setelah menghentikan aktivitas yang membuat stres. Pada beberapa orang, terutama wanita, rasa sakit mungkin singkat atau tajam dan terasa di leher, lengan atau punggung.

- Sesak napas

Penyakit jantung koroner juga bisa menyebabkan sesak napas. Jika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh, tubuh mungkin mengalami sesak napas atau kelelahan ekstrem saat beraktivitas.

- Serangan jantung

Arteri koroner yang tersumbat sepenuhnya akan menyebabkan serangan jantung. Tanda dan gejala klasik serangan jantung termasuk tekanan di dada dan nyeri di bahu atau lengan, terkadang disertai sesak napas dan berkeringat. Gejala pertama biasanya nyeri dada yang menyebar ke leher, rahang, telinga, lengan, dan pergelangan tangan, dan mungkin ke tulang belikat, punggung, atau perut.

Penyebab Jantung Koroner

Penyakit jantung koroner (PJK), atau penyakit arteri koroner, berkembang ketika arteri koroner menjadi terlalu sempit. Arteri koroner adalah pembuluh darah yang memasok oksigen dan darah ke jantung. Jika arteri ini menyempit, jantung mungkin tidak menerima cukup darah kaya oksigen, terutama selama aktivitas fisik.

Melansir Medical News Today, penyebab jantung koroner cenderung berkembang ketika kolesterol menumpuk di dinding arteri, menciptakan plak. Plak ini menyebabkan arteri menyempit, mengurangi aliran darah ke jantung.

Penyakit jantung koroner berkembang sebagai akibat dari cedera atau kerusakan pada lapisan dalam arteri koroner. Kerusakan ini menyebabkan timbunan lemak dari plak di lokasi cedera.

Endapan ini terdiri dari kolesterol dan produk limbah lainnya dari sel. Penumpukan ini disebut aterosklerosis. Jika potongan plak pecah atau pecah, trombosit akan berkumpul di area tersebut untuk memperbaiki pembuluh darah. Cluster ini dapat menyumbat arteri dan mengurangi atau menyumbat aliran darah, yang dapat menyebabkan serangan jantung.

Faktor Risiko Penyebab Jantung Koroner

Faktor Risiko Penyebab Jantung Koroner
Faktor Risiko Penyebab Jantung Koroner

Penyebab jantung koroner dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko tertentu. Dilansir dari MayoClinic, penyakit jantung koroner diperkirakan dimulai dengan kerusakan atau cedera pada lapisan dalam arteri koroner, terkadang sejak masa kanak-kanak. Kerusakan juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

- Usia: bertambahnya usia meningkatkan risiko arteri rusak dan menyempit.

- Jenis kelamin: pria umumnya berisiko lebih besar terkena penyakit arteri koroner. Namun, risiko wanita juga bisa meningkat setelah menopause.

- Genetik: riwayat penyakit jantung keluarga dikaitkan dengan risiko penyakit arteri koroner yang lebih tinggi, terutama jika kerabat dekat mengembangkan penyakit jantung pada usia dini. Risiko paling tinggi jika ayah atau saudara laki-laki didiagnosis menderita penyakit jantung sebelum usia 55 tahun atau jika ibu atau saudara perempuan mengembangkannya sebelum usia 65 tahun.

- Merokok: orang yang merokok memiliki risiko penyakit jantung yang meningkat secara signifikan. Menghirup asap rokok orang lain juga meningkatkan risiko penyakit arteri koroner.

- Tekanan darah tinggi: tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri. Ini mempersempit saluran di mana darah dapat mengalir.

- Kadar kolesterol darah tinggi: Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah dapat meningkatkan risiko pembentukan plak dan aterosklerosis. Kolesterol tinggi dapat disebabkan oleh tingkat kolesterol jahat yang tinggi. Kadar kolesterol baik juga dapat berkontribusi pada perkembangan aterosklerosis.

- Diabetes: diabetes dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit arteri koroner. Diabetes tipe 2 dan penyakit arteri koroner memiliki faktor risiko yang serupa, seperti obesitas dan tekanan darah tinggi.

- Kegemukan atau obesitas: berat badan berlebih biasanya memperburuk faktor risiko lainnya.

- Ketidakaktifan fisik: kurang olahraga juga dikaitkan dengan penyakit arteri koroner dan beberapa faktor risikonya.

- Stres tinggi: stres yang tidak berkurang dalam hidup dapat merusak arteri serta memperburuk faktor risiko lain untuk penyakit arteri koroner.

- Pola makan tidak sehat: makan terlalu banyak makanan yang mengandung banyak lemak jenuh, lemak trans, garam dan gula dapat meningkatkan risiko penyakit arteri koroner.

Faktor risiko penyebab jantung koroner tersebut tentunya harus kamu hindari untuk mencegah terjadinya penyakit ini.

Pencegahan Jantung Koroner

Penyebab jantung koroner harus kamu hindari sebagai cara pencegahannya. Pola hidup sehat menjadi salah satu pencegahan terbaik, karena penyebab jantung koroner dipengaruhi oleh pola hidup yang tidak sehat. Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin juga bisa kamu terapkan.

Berikut beberapa cara mencegah penyakit jantung koroner yang bisa dilakukan:

- Hindari Makanan Tinggi Kolesterol dan Gula Tinggi

Pencegahan jantung koroner harus dilakukan dengan menghindari makanan tinggi kolesterol, apalagi bila kadar LDL kamu cukup tinggi. Kamu harus menghindari beberapa makanan dengan kolesterol tinggi seperti makanan yang digoreng, hati, kuning telur, mentega, otak sapi dan jeroan hewan, udang, makanan cepat saji.

Hindari juga makanan dengan kadar gula tinggi. Hal ini disebabkan karena dapat meningkatkan risiko terkena diabetes, salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner.

- Konsumsi Serat dan Makanan Tinggi Lemak Tak Jenuh

Perbanyaklah mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti sayur dan buah. Tingkatkan juga kadar kolesterol baik atau HDL dengan memperbanyak konsumsi makanan tinggi lemak tak jenuh, seperti minyak ikan, alpukat, kacang-kacangan, serta minyak zaitun dan minyak sayur.

- Olahraga Rutin

Olahraga rutin dapat menurunkan kadar kolesterol dan menjaga tekanan darah tetap normal. Kamu perlu meluangkan waktu setidaknya 150 menit dalam seminggu, untuk berolahraga. Misalnya dengan jogging 30 menit setiap hari.

- Mengonsumsi Obat Sesuai Anjuran Dokter

Kamu harus mengikuti petunjuk dokter dalam mengonsumsi obat. Jangan menghentikan pengobatan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter, karena dapat mengakibatkan gejala makin memburuk.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel