Penyebab Penyakit Skoliosis dan Gejalanya, Kenali Sejak Dini

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyakit skoliosis merupakan kelainan tulang belakang yang sering dialami anak dan remaja. Skoliosis menyebabkan tulang belakang melengkung ke satu sisi. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab skoliosis.

Skoliosis memiliki tingkat keparahannya sendiri. Dalam kebanyakan kasus, kurva tulang akan terkoreksi dengan sendirinya seiring pertumbuhan. Namun, pada tingkat yang parah, perawatan seperti bracing dan terapi juga diperlukan.

Mengetahui penyebab skoliosis bisa membuat Anda lebih waspada terkait kondisi kelainan tulang ini. Dengan mengetahui penyebab skoliosis, Anda akan tahu apakah Anda berisiko mengalami masalah ini atau tidak.

Berikut penyebab penyakit skoliosis, gejala, dan perawatannya yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (15/8/2020).

Bentuk tulang yang mengalami skoliosis

Skoliosis (via healthcaresolutionsplus.org)
Skoliosis (via healthcaresolutionsplus.org)

Seseorang dengan skoliosis memiliki kurva menyamping di tulang belakangnya. Kurva sering berbentuk S atau berbentuk C. Jika kurva skoliosis semakin memburuk, selain melengkung ke samping, tulang belakang juga bisa memutar.

Sejumlah kecil pasien dengan skoliosis mungkin memerlukan pembedahan. Komplikasi skoliosis meliputi nyeri kronis, defisiensi pernapasan, dan penurunan kapasitas olahraga.

Penyebab skoliosis

Penyebab skoliosis (sumber: Pixabay)
Penyebab skoliosis (sumber: Pixabay)

Penyebab skoliosis masih belum diketahui hingga saat ini. Menurut American Association of Neurological Surgeons (AANS), sekitar 80 persen kasus skoliosis tidak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi.

Penyebab umum skoliosis yang kerap diidentifikasi oleh dokter meliputi:

Skoliosis bawaan: terjadi karena tulang belakang berkembang secara tidak normal saat janin tumbuh di dalam rahim.

Gen spesifik: Setidaknya satu gen diduga terlibat dalam skoliosis.

Panjang kaki: Jika satu kaki lebih panjang dari yang lain, individu tersebut dapat mengembangkan skoliosis.

Skoliosis sindromik: Skoliosis dapat berkembang sebagai bagian dari penyakit lain, termasuk neurofibromatosis dan sindrom Marfan.

Osteoporosis: Kerapuhan tulang dapat menyebabkan skoliosis sekunder karena degenerasi tulang.

Penyebab lainnya: Postur tubuh yang buruk, membawa tas punggung, gangguan jaringan ikat, dan beberapa cedera.

Siapa saja yang bisa terkena skoliosis

Anak remaja/Unsplash Patrick
Anak remaja/Unsplash Patrick

Bentuk skoliosis yang paling umum muncul pada remaja. Ini dikenal sebagai skoliosis idiopatik remaja. Wanita paling sering mengalami skoliosis. Gangguan ini juga sering muncul pada anak-anak.

Skoliosis dapat menyerang anak-anak sejak usia 10 tahun. Tanda dan gejala sering mulai selama pertumbuhan sebelum masa pubertas.

Dalam kebanyakan kasus, perawatan tidak diperlukan, karena kurva tulang balakang akan mengoreksi dirinya sendiri seiring dengan pertumbuhan.

Tanda dan gejala skoliosis

Tanda dan gejala skoliosis (sumber: Pixabay)
Tanda dan gejala skoliosis (sumber: Pixabay)

Gejala skoliosis bervariasi tergantung pada derajat skoliosis. Gejala umum yang terkait dengan skoliosis meliputi:

- satu tulang belikat yang lebih tinggi atau menonjol dari yang lain.

- pinggul tidak rata

- tulang belakang yang berputar

- masalah pernapasan karena berkurangnya area di dada untuk mengembangnya paru-paru

- sakit punggung

Skoliosis biasanya terlihat sejak masa bayi atau remaja. Tanda dan gejala skoliosis pada remaja meliputi:

- tulang rusuk tidak simetris, sehingga tulang rusuk mungkin memiliki ketinggian yang berbeda

- satu pinggul lebih menonjol dari yang lain

- satu bahu, atau tulang belikat, lebih tinggi dari yang lain

- Tubuh condong ke satu sisi

- panjang kaki yang tidak rata

Pada bayi, gejala skoliosis bisa meliputi:

-tonjolan di satu sisi dada

- secara konsisten bayi berbaring melengkung ke satu sisi

- masalah dengan jantung dan paru-paru, yang menyebabkan sesak napas dan nyeri dada (pada kasus yang parah)

Jenis-jenis kelainan tulang belakang lainnya: Kifosis

Ilustrasi Tulang/Freepik.com
Ilustrasi Tulang/Freepik.com

Kifosis adalah pelengkungan abnormal pada punggung atas. Pada tulang yang normal, kelengkungan tulang punggung atas berada pada kisaran 25 sampai 45 derajat. Pada penderita kifosis, kelengkungan bisa mencapai 50 derajat.

Ada tiga jenis kifosis, kifosis postural, kifosis Scheuermann, dan kifosis bawaan. Kifosis postural sering terjadi pada remaja dan postur yang buruk. Ketika tulang belakang dan otot-otot di sekitarnya berkembang secara tidak normal.

Kifosis Scheuerman juga cenderung berkembang selama masa remaja, tetapi bisa menjadi lebih parah daripada Kifosis postural dan tidak diketahui penyebabnya. Sementara kifosis bawaan terjadi ketika tulang belakang tidak berkembang dengan baik di dalam rahim, menyebabkan Kifosis saat lahir.

Kifosis ringan mungkin tidak menghasilkan tanda atau gejala yang nyata. Tetapi beberapa orang mengalami sakit punggung dan kekakuan di samping tulang belakang yang melengkung tidak normal.

Jenis-jenis kelainan tulang belakang lainnya: Lordosis

lordosis (sumber: raredisease)
lordosis (sumber: raredisease)

Lordosis merupakan bentuk kelainan tulang belakang bawah yang melengkung ke depan. Lordosis dapat memengaruhi punggung bawah dan leher. Hal ini dapat menyebabkan tekanan berlebih pada tulang belakang, menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan.

Gejala lordosis yang paling umum adalah nyeri otot. Ada dua jenis lordosis, lordosis di punggung bawah dan lordosis serviks. Cara termudah untuk memeriksa kondisi ini adalah berbaring telentang di permukaan yang rata. Seseorang dengan lordosis akan memiliki ruang ekstra antara punggung dan permukaan lantai. Dan dari sisi tampilan, perut dan bokong mereka akan menonjol.

Sementara untuk lordosis serviks tulang belakang di daerah leher tidak melengkung seperti biasanya. Pada tulang belakang yang sehat, leher akan terlihat seperti huruf C yang sangat lebar, dengan lekukan mengarah ke belakang leher.