Penyebab Wabah Gatal-gatal Scabies di Pontianak

Agus Rahmat, Ngadri (Kalimantan Barat)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr Horisson mengatakan, penyakit kulit yang diderita oleh warga di Jalan Apel Gang Pisang Berangan, Kelurahan Sungai Jawi Luar, Kecamatan Pontianak Barat, dikenal dengan nama Scabies, atau dikenal sebagai kudis.

Dia menyebutkan, bahwa wabah penyakit itu merupakan penyakit kulit yang sangat gatal, disebabkan oleh parasit atau tungau sarcoptes scabiei.

"Parasit sarcoptes scabiei ini bersarang di bawah kulit manusia berukuran 0,5 mm. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum kulit dengan kecepatan 2-3 mm sehari sambil meletakkan 2-4 butir telur sehari, hingga mencapai jumlah 40 hingga 50 telur. Telur-telur ini akan menetas biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva," ujar Horisson kepada VIVA, Rabu 17 Februari 2021.

Baca juga: Foto Serangan Wabah Gatal-gatal Scabies yang Membuat Geger Pontianak

Ia mengatakan, rasa gatal yang dialami oleh penderita dikarenakan sensitisasi tubuh terhadap produk tungau ini. Seperti telur, kotoran, liur, atau produk cairan lainnya yang ditinggalkan di bawah kulit penderita.

Penyakit ini bersifat menular dan umumnya menyerang sekelompok orang, misalnya pada perkampungan padat penduduk atau penghuni asrama.

"Scabies ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung dapat terjadi melalui jabat tangan, tidur bersama, kontak kulit ke kulit. Kontak tidak langsung terjadi bila individu yang menderita scabies bertukar benda dengan individu sehat, seperti handuk, pakaian, selimut, bantal dan seprei," jelas Horisson.

Lanjutnya, bahwa gejala awal pada penderita scabies kulit tampak vesikel atau gelembung kecil berisi air, terasa gatal terutama pada malam hari.

Karena gatal dan digaruk, akhirnya sering terjadi infeksi. Bagian kulit yang pertama dan paling sering terkena adalah di sela-sela jari tangan, kemudian menyebar ke bagian kulit lain, seperti di siku, bokong, punggung, perut, ketiak, hingga kulit di sekitar alat kelamin.

Pengobatan bisa dilakukan dengan menggunakan saleb di seluruh tubuh yang terinfeksi selama 3 hari. Salep yang digunakan tersedia di puskesmas, dikenal dengan nama salep 2-4, yaitu sulphur Presipitatum 4 persen dan acid salycil 2 persen. Dan bila sudah terjadi infeksi sekunder karena sering digaruk dan menyebabkan infeksi, maka pengobatannya perlu ditambah dengan salep antibiotik.

"Selain penggunaan salep, lingkungan rumah agar juga dijaga selalu bersih. Perabotan rumah sebaiknya dibersihkan atau dijemur, misalnnya kasur, bantal, kursi (sofa), karpet dijemur dibawah sinar matahari selama 3-4 jam, karena tungau yang lepas dari tubuh manusia yang menempel di perabot rumah atau di bahan-bahan kain akan mati karena panas matahari," jelasnya.

Ia juga mengatakan masyarakat harus melakukan pembersihan dan penjemuran perabot seperti kasur, bantal, karpet atau permadani di rumah secara berkala. Yang penting, katanya kuncinya adalah melaksanakan pola hidup bersih dan sehat.

"Untuk di Kota Pontianak kasus scabies memang sudah sering terjadi, khusus di daerah yang pemukimanya ramai penduduk. Seperti tempat kost, dan tempat orang yang ramai berkerumun. Tapi, kejadain hampir satu komplek terserang baru kali ini," katanya.