Penyebaran HIV/AIDS Indramayu Tertinggi di Jalur Pantura

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON - Hingga Oktober 2012, jumlah kasus human immunodeficiency virus (HIV)/immunodeficiency syndrome (AIDS) di Kabupaten Indramayu mencapai 825 kasus. Jumlah ini merupakan yang terbanyak di sepanjang jalur pantai utara (pantura).

Angka ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi, dalam Rapat Koordinasi Bupati Wali Kota Wilayah Pantura untuk Evaluasi Program PMTS dalam Upaya Penanggulanngan HIV dan AIDS di Hotel Santika, Jalan Wahidin, Kota Cirebon, Selasa (6/11/2012).
"Pada Februari 2012, jumlahnya masih 686 kasus," ujar Dedi.

Dedi mengatakan dalam delapan bulan terakhir, ada penambahan 139 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu. Bahkan, lanjutnya Dedi, tercatat 29 orang meninggal karena terinfeksi HIV/AIDS di kabupaten itu. Menurutnya, penularan virus itu terbanyak karena hubungan seksual.

Dedi menyebut kenaikan angka itu sebagai keadaan darurat. "Kalau terus meningkat, saya khawatir ini bakal menjadi kejadian luar biasa," katanya.

Penularan HIV melalui hubungan seksual di kabupaten Indramayu, ujar Dedi, terjadi antara pasangan suami istri yang satu di antara keduanya mengidap HIV.

Dedi juga mengatakan HIV juga banyak ditularkan melalui hubungan seksual para pekerja penjajah seks di tempat hiburan serta hubungan seksual dengan tenaga kerja wanita yang bekerja di tempat hiburan. Penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Indramayu, menurut Dedi, terkendala minimnya Puskesmas voulentary counselling testing (VCT) dan rendah mobile VCT.

Mobile VCT adalah kunjungan dan tes HIV ke lokasi-lokasi resiko tinggi dan warga yang terindikasi HIV/AIDS.

"Di Indramayu baru ada 4 dari 49 Puskesmas yang melayani VCT serta dua rumah sakit," ujarnya.
Selain itu, kata Dedi, dukungan dana kesehatan dari APBD Kabupaten Indramayu sangat kurang.
"Berdasarkan Undang-undang harusnya sepuluh persen dari total APBD," katanya.

Dedi mengatakan APBD Indramayu hanya menyediakan kira-kira empat persen dari total APBD tahun 2012. Persentase itu naik dari tahun sebelumnya yang berkisar pada 1,4 persen. Dedi mengaku segera berbicara dengan Bupati Indramayu, Anna Sophanah, agar menyediakan dana kesehatan yang maksimal di APBD 2013.

Dedi juga mengatakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 08 Tahun 2009 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Indramayu belum maksimal. "Perda itu memang lebih banyak tentang penanganan orang yang terinfeksi HIV daripada mengenai pencegahannya," ujarnya.

Di Kota Cirebon, sejak 2004-2012, tercatat 524 kasus HIV. Sembilan kasus di antaranya terjadi selama tahun ini. Angka ini turun lebih dari separuh dibandingkan tahun lalu yang mencapai 44 kasus. Namun, selama Agustus-September 2012, enam orang meninggal karena infeksi HIV/AIDS di Kota Cirebon. "Ada 29 anak yang tertular (HIV) dari ibunya," ujarnya.

Hal ini diakui Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Sri Mariati, seusai acara yang sama, kemarin. Di Kota Cirebon, hanya ada dua Puskesmas voulentary counselling testing (VCT). Menurut dia, 90 persen dari total 116 tempat tongkrongan (hot spot) di Kota Cirebon potensial menularkan HIV lantaran banyak terjadi transaksi seksual.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Kemal N Siregar, menyebutkan secara nasional, 3,3 juta laki-laki di Indonesia membeli seks dan 2,8 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang membeli seks. Hal itu, ucapnya, pontensial meningkatkan penularan virus HIV/AIDS.

Khusus untuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, penyebaran virus HIV katanya 25-30 persen terjadi di jalur pantura. Menurut Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML), Direktorat Jenderal P2ML Kementerian Kesehatan, H M Subuh, Jawa Barat menduduki peringkat ke-4 jumlah kasus HIV/AIDS.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.