Penyelamat Angkor Wat: Juru taman ala ninja penjinak tanaman liar

·Bacaan 3 menit

Siem Reap (AFP) - Sambil berdiri di sebuah tangga yang disandarkan di puncak menara keajaiban arkeologi Kamboja, Angkor Wat, yang menjulang, Chhoeurm Try, dengan hati-hati membersihkan bagian luar kuil dengan membuang tanaman-tanaman liar sebelum itu merusak fasad kuno tersebut.

Pria berusia 50 tahun itu adalah bagian dari tim juru taman yang memastikan situs warisan kerajaan yang paling berharga tersebut tidak dililit tanaman liar yang tumbuh dari retakan batu.

Selama dua dekade, Chhoeurm Try telah melakukan pendakian berbahaya tanpa alas kaki ke menara di pusat Angkor Wat, yang menjulang setinggi 65 meter (213 kaki) di atas kompleks arkeologi di kota bagian utara, Siem Reap itu.

"Jika kami melakukan kesalahan, kami tidak akan selamat," katanya kepada AFP setelah kembali menjejakkan kaki ke tanah.

Tapi dia terus maju, sadar bahwa perjuangan untuk menghilangkan akar yang tertancap kuat adalah pertempuran berkelanjutan melawan alam.

"Saat pohon muda tumbuh lebih besar, akarnya akan masuk ke dalam dan menyebabkan bebatuan roboh," katanya.

Melestarikan puluhan candi di Taman Arkeologi Angkor adalah pekerjaan rumit sepanjang tahun yang dilakukan oleh tim beranggotakan 30 orang.

Situs warisan dunia itu berisi monumen yang berasal dari abad 9 hingga 15, dan merupakan tujuan wisata paling populer di Kamboja sebelum pandemi virus corona menghentikan perjalanan global.

"Kami mencintai dan ingin melestarikan kuil," kata Chhoeurm Try. "Jika kita tidak melestarikannya ... generasi muda tidak akan mendapat kesempatan untuk melihatnya."

Dengan hanya berbekal topi keras berwarna biru sebagai satu-satunya tindakan pencegahan keselamatan mereka, tim juru taman itu terbiasa melakukan tugas mereka di bawah pengamatan wisatawan yang tengah berkunjung.

"Ketika turis lokal dan internasional melihat kami memanjat kuil, itu tampak menakutkan bagi mereka dan mereka mengira ada masalah teknis," kata ketua tim Ngin Thy.

Tetapi menggunakan tali atau peralatan panjat tidak mungkin dilakukan, karena dapat merusak batu yang rapuh, sementara perancah membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk dibangun dan ditarik.

"Itu justru bisa menimbulkan masalah bagi mereka," kata Ngin Thy kepada AFP. "Lebih aman bagi mereka dengan hanya membawa gunting dan langsung menuju lokasi tanaman muda."

Ada juga bagian sempit di kuil tertentu yang mengharuskan pekerja untuk merangkak melewatinya, menavigasi jalan mereka di sekitar patung yang menonjol saat mereka berusaha untuk tidak bersentuhan dengan jalur yang tidak perlu.

"Di kuil dengan bahan dasar batu bata, pekerjaannya bahkan lebih sulit," kata Chhourm Try. Ia menceritakan bahwa ia nyaris menjadi korban beberapa tahun yang lalu ketika sebuah batu bata menimpa kepalanya dan helmnya retak menjadi dua.

Beberapa turis lokal dan biksu Buddha menatap dengan kagum pada para juru taman yang tengah bekerja.

"Mereka sangat berani," kata wisatawan Roth Veasna, menahan napas saat melihat seorang pekerja menaiki tangga sementara rekan-rekannya memegang erat tangga itu.

Membiarkan kuil tidak terawat dapat mengembalikan kuil itu ke kondisi saat naturalis dan penjelajah Prancis Henri Mouhot menemukan kuil itu secara kebetulan pada tahun 1860-an.

Kuil itu telah ditinggalkan selama berabad-abad sehingga batu dan ukiran kuno pun tersembunyi di bawah hutan.

"Ini lebih megah dari apa pun yang diwariskan Yunani atau Roma kepada kita," tulis Mouhot dalam jurnal perjalanannya, yang membantu mempopulerkan kuil itu di Barat sebagai situs arkeologi penting.

Saat ini, pejabat Otoritas Apsara - badan pemerintah yang mengelola taman itu - mengatakan bahwa mereka sedang mencari zat cair untuk menghilangkan pertumbuhan akar, guna mengurangi risiko bagi para juru taman.

Tetapi "kami perlu bereksperimen terlebih dahulu karena kami khawatir cairan itu juga dapat merusak batu saat kami menuangkannya ke akar," kata wakil direktur Kim Sothin.

"Jika kita bisa menggunakannya, itu akan mengurangi beban mereka."

Sampai saat itu, bergantung pada para juru taman yang lincah untuk menjaga kemegahan Angkor Wat.

"Orang lain tidak ingin melakukan pekerjaan ini karena berisiko," kata Oeurm Amatak, 21 tahun yang bergabung dengan tim itu setahun lalu.

Sebagai pegawai magang, dia belum berani memanjat semua kuil dan keahliannya berkembang di bawah bimbingan rekan-rekannya yang lebih berpengalaman.

"Anda benar-benar harus menyukainya, ini bukan untuk semua orang," katanya.