Penyelamat Penyu dari Desa Jogosimo Kebumen

Merdeka.com - Merdeka.com - Achmad Munadjat, pria kelahiran Kebumen 40 tahun silam, adalah seorang inisiator pelestarian penyu di Desa Jogosimo. Panggilan hati untuk menjadi pelestari tersebut berawal dari rasa kekhawatirannnya tentang populasi penyu yang kian menurun.

Ada yang mengambil telurnya untuk dimasak, dan ada pula yang menjual hingga keluar negeri karena peminatnya cukup tinggi. Munadjat khawatir ketika hal ini terus dibiarkan, maka penyu-penyu yang mendarat di Pantai Jogosimo dikhawatirkan tinggal nama.

Pada 2017 silam, dia memulai sebuah gerakan pelestarian penyu yang lebih terkoordinir. Nadjat yang notabenenya adalah seorang perangkat desa menginisasi berdirinya kelompok pelestari penyu Desa Jogosimo, yang telah mengantongi SK Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah (BKSDA) terkait izin konservasi penyu jenis Lekang.

Penyu jenis lekang adalah jenis penyu terkecil di banding jenis penyu lain dan memiliki julukan sebagai penyu yang paling 'bodoamat'. Mengapa demikian, karena pada umumnya penyu akan mencari tempat yang tenang dan sepi untuk bertelur tetapi tidak dengan penyu jenis ini, kerap kali ditemukan penyu jenis ini bertelur pada siang hari dalam keadaan ramai sekalipun. Hanya saja yang sulit itu adalah mencari momennya saat mereka menetas. Penyu lekang mengalami dewasa kelamin lebih cepat dibanding jenis penyu lain yaitu pada umur 8 sampai 10 tahun.

Nadjat mengatakan mulai tetarik dengan populasi penyu sedari kecil. Saat masih kanak–kanak, dia sering main ke tepian pantai untuk mencari keberadaan penyu. Dahulu dia sempat menemukan beberapa spesies lain selain Lekang.

"Zaman saya kecil itu ada beberapa yang naik ke sini, ada yang seperti belimbing, ada juga yang telurnya segede teluar angsa, dan sempat lihat juga penyu hijau," kata Nadjat kepada wartawan, Minggu (28/8).

Jalan Panjang Wujudkan Konservasi

Menurut Nadjat, tidak mudah menginisiasi gerakan konservasi yang tentunya melibatkan banyak pihak. Banyak tantangan yang harus dihadapi demi tetap berlangsung dan berkembangnya konservasi penyu di Desa Jogosimo.

Salah satunya adalah masih adanya masyarakat yang tetap mengambil telur penyu untuk kepentingan pribadi. Walaupun, kata Nadjat, sudah dilakukan sosialisasi secara rutin utamanya bagi para nelayan, agar menyerahkan telur–telur tersebut kepada Nadjat dengan imbalan uang.

Tantangan lainnya adalah terkait pakan untuk penyu yang ditangkar. Penyu–penyu yang ditangkar harus mendapat pasokan pakan yang cukup, dan menjadi permasalahan adalah pendanaan pakan yang masih dilakukan secara swadaya.

Banjir Dukungan

Nadjat mengakui, dalam menjalankan kegiatan konservasi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebelum adanya sokongan dari pemerintah, dia melakukan pendanaan secara swadaya bersama rekan tim.

Dengan adanya pariwisata yang dikembangkan, akan memberikan nilai ekonomi positif bagi masyarakat khususnya sekitar pantai Jogosimo. Nadjat dan tim pelestari penyu lantas mendirikan Kelompok Sadar Wisata (PokDarWis) Desa Jogosimo, dan menyediakan beberapa jenis paket wisata edukasi, yang kini dikenal dengan 'Konservasi Penyu Kali Ratu', di mana sebagian hasil dari pemasukan wisata edukasi ini digunakan untuk keperluan perawatan penyu yang ditangkar.

Berlahan namun pasti, dukungan mengalir dari banyak pihak. Pertama kali mengalir ialah dari BKSDA Jawa Tengah, dengan dibuatkannya tempat penetasan telur penyu permanen, yang sebelumnya hanya menggunakan pagar dari bambu.

Kemudian dukungan dari pemerintah Kabupaten Kebumen melalui corporate social responsibility (CSR). CSR yang pertama kali dihadirkan adalah Pertamina dengan dibuatkannya beberapa aula untuk penunjang keberlangsungan pengembangan wisata edukasi di Kali Ratu. CSR yang kedua diberikan dari Pertamina Foundation dan BenihBaik.com berupa pendirian Rumah Sentuh Penyu yaitu bangunan penangkaran penyu untuk kepentingan edukasi.

Hal unik yang berbeda dari konservasi penyu di Desa Jogosimo, khususnya Kaliratu ini adalah ketika akan mengambil telur atau melepasliarkan tukik ke pantai, harus menyeberangi sungai terlebih dahulu menggunakan perahu. Hal ini juga yang menjadi perhatian pemerintah, sehingga diadakan bantuan perahu motor dari CSR Pertamina. CSR yang ketiga berupa bantuan pembuatan aula dari Daihatsu.

"Dukanya sih banyak ya, saya kebetulan kan menjadi perangkat desa di Desa Jogosimo sebagai kepala wilayah Dukuh Keburuan, di mana tidak sedikit tugas yang harus saya selesaikan baik di kantor maupun lapangan, saya juga bertani. Jadi kadang kalau ada kunjungan misal dari Kementerian Pariwisata, BKSDA, atau Pemkab, sayalah yang ditunjuk sama Pak Kades untuk mengawal langsung karena kan saya ketuanya. Jadi saya harus merelakan pertanian saya, saya nomorduakan setelah kegiatan ini selesai," ujar Nadjat.

Pesan Nadjat

Konservasi Penyu di Desa Jogosimo hingga kini terus mengalami perkembangan signifikan. Nadjat mempunyai harapan dan cita–cita agar Kabupaten Kebumen nantinya dapat menjadi sebuah kabupaten konservasi.

Menurutnya, ketika suatu laut memiliki banyak populasi penyu, maka laut itu akan menjadi subur dan biotanya melimpah, di mana hal ini sangat berdampak pada pendapatan tangkapan laut bagi para nelayan.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]