Penyergapan di Amazon Brazil tewaskan seorang penjaga hutan

Rio de Janeiro (AP) - Perburuan oleh para lelaki pribumi tidak berjalan baik, sehingga mereka pergi lebih jauh ke dalam hutan Amazon di bagian timur-laut Brazil. Mereka kehabisan air dan pergi ke satu tempat yang dapat minum dan mandi.

Laércio Guajajara mengatakan pria itu --yang ketika tidak berburu adalah Penjaga Hutan yang melindungi daerah suku pribumi Arariboia-- mendengar suara di hutan yang datang dari arah air.

"Hay, Paulo, permainan dimulai, mamalia berkuku mirip babi yang berukuran sedang dari keluarga Tayassuidae mendekat," ia bilang dia berbisik di telinga sepupu dan teman masa kanak-kanaknya, ketika berbicara dalam satu wawancara buat dokumenter "Iwazayzar - Guardioes da Natureza". Para pembuat film berbagi video tersebut dengan The Associated Press.

Mereka bertiarap dan menunggu. Apa yang muncul dari semak, kata Guajajara, bukan sekelompok hewan, tapi malah lima orang yang menembakkan senjata mereka dalam penyergapan oleh pembalak liar yang menewaskan seorang penjaga hutan dan melukai satu orang lagi. Pemerintah negara bagian menyatakan seorang pembalak liar juga tewas.

Penyergapan mematikan pada Jumat malam (1/11) di Negara Bagian Maranhao di Brazil hanya lah pertunjukan paling akhir mengenai warga suku pribumi yang makin rentan terhadap penyusupan oleh pembalak liar dan peternak hewan, terutama di daerah terpencil Amazon yang menerima sedikit pengawasan negara.

Ketika berbicara pada Sabtu (2/11), setelah meninggalkan rumah sakit di Kota Imperatriz, Laércio mengatakan ia tertembak di punggung dan lengannya. Ia menengok ke teman lamanya hanya untuk mendapati Paulo sudah jatuh ke tanah, ia tertembak di tengkuk. Paulo Paulino Guajajara (26) tewas.

Laércio pergi dengan cepat. Ia ingat ia berlari enam mil (10 kilometer) sebelum mendapat bantuan, katanya di rekaman video. Ia mengatakan mereka telah mendengar mengenai pembalak liar di daerah tersebut sehari sebelumnya, tapi mereka tak pernah menduga akan disergap.

Penjaga hutan sebelumnya telah menerima ancaman dan mengenakan rompi pelindung saat berpatroli. Namun, ayah Paulo --Zé Maria Paulino Guajajara-- mengatakan selama madah pujian pada Ahad bahwa ia tak pernah membayangkan putranya akan menemui ajal. Ia berbicara dengan air mata mengalir di depan gundukan tanah yang mengubur jenazah Paulo. Beberapa lilin putih kecil ditanam di permukaannya.

"Putra saya bertempur dan meninggal. Ia meninggal buat kami semua di sini, untuk mempertahankan daerah ini," katanya.

Video dari pemakaman memperlihatkan istrinya secara bersama menyanyi dan menangis, pada satu titik jatuh berlutut di lantai tanah gubuk yang diterangi lilin.

Keprihatinan mengenai hutan hujan telah meningkat setelah Presiden Brazil Jair Bolsonaro memangku jabatan tahun ini dengan seruan untuk melonggarkan perlindungan atas suaka alam dan tanah suku pribumi. Api yang digunakan untuk membersihkan lahan di Amazon meningkat tajam pada Juli dan Agustus, sehingga mengakibatkan kekhawatiran internasional mengenai wilayah yang dipandang penting dalam mengekang perubahan iklim.

Bolsonaro telah mengatakan sebagian pembangunan ekonomi perlu dilakukan di Amazon.

Pemerintahnya mengerahkan polisi federal untuk menyelidiki pembunuhan tersebut. Menteri Keamanan Masyarakat dan Kehakiman Brazil Sergio Moro mengatakan di Twitter akan "menyeret mereka yang bertanggung-jawab atas kejahatan ini ke pengadilan".

Belum ada penangkapan yang dilakukan sehubungan dengan kasus tersebut.

Sementara itu, Laércio tidak mengharapkan keadilan. Ia mengatakan ia akan terus berjuang "selama saya masih hidup, selama saya mempunyai kekuatan untuk menarik busur dan panah atau mengangkat pentungan".

"Kami takkan berhenti dari perang ini. Itu adalah perlindungan buat generasi masa depan kami," kata Laércio. "Jika kami tidak melawan, sekalipun kehilangan banyak pejuang, apa yang akan tersisa buat anak-anak kami dalam 20 tahun? 30 tahun? Apa yang akan terjadi dengan hutan ini?"