Penyintas COVID-19: Diisolasi di Wisma Atlet Ternyata Tak Seseram Itu

Tasya Paramitha, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVAWisma Atlet yang terletak di Kemayoran telah dialihfungsikan sebagai rumah sakit darurat untuk merawat pasien virus corona atau COVID-19 bergejala ringan dan sedang serta pasien tanpa gejala (OTG). Tidak sedikit dari masyarakat yang membayangkan Wisma Atlet sebagai tempat yang menyeramkan.

Apa iya demikian? Dalam diskusi Voxpp Episode 8, I Will Survive salah seorang penyintas COVID-19 bercerita bagaimana pengalamannya dirawat di Wisma Atlet.

Baca Juga: 3 Cara Alami Cegah Penularan COVID-19 di Rumah

Dia adalah Inata, OTG yang dinyatakan positif pada 16 September 2020 lalu.

"Awalnya ngerasa badan lemas, dua hari tidak ada batuk demam dan sesak napas. Kemudian tiba-tiba hidung tersumbat dua hari. Di hari yang sama, indera penciuman dan pengecapan hilang," kata Inata menceritakan, Rabu, 21 Oktober 2020.

Ia sempat menjalani swab mandiri pada 16 September 2020. Ia kemudian memberikan berkas swab ke puskesmas untuk diurus melakukan isolasi mandiri di Wisma Atlet.

"Karena saya baca info soal COVID-19, saya akhirnya swab. Tanggal 16 (September 2020), saya minta. 3 hari hasil keluar,” jelasnya.

Kemudian, tanggal 17 September 2020, rumah sakit menelepon dan menyatakan bahwa ia positif. Mereka mengatakan bahwa berkas-berkasnya harus dibawa ke puskesmas untuk isolasi mandiri. Karena waktu itu Pemda DKI mengeluarkan peraturan isolasi di tempat yang disediakan.

Hingga akhirnya pada tanggal 22 September 2020, ia dihubungi pihak puskesmas bahwa terdapat slot kosong untuknya menjalani isolasi di Wisma Atlet. Dia kemudian dibawa pihak puskesmas ke Wisma Atlet di hari yang sama.

"Sampai di sana 14.30 WIB, dibawa ke Tower 6. Di sana selama tiga jam nunggu, kemudian ada beberapa nakes menanyakan siapa yang memiliki gejala tertentu, seperti mensortir. Saya dibawa ke Tower 4 untuk pasien OTG," kata dia.

Dia melanjutkan, pasien yang dibawa ke Tower 4 harus menunggu di sebuah aula. Mereka harus menunggu selama empat jam, di mana saat itu mereka harus mengisi data diri secara online.

"Suruh daftar online pakai HP untuk proses. Saya sempat bingung, lama banget. Ternyata di sana saya datang di hari kedua baru buka Tower 4. Saya akhirnya masuk kamar jam 22.30 WIB," kata Inata.

Soal fasilitas di sana pun terbilang layaknya di hotel. Hal ini juga dibenarkan oleh penyintas COVID-19 lainnya, Hilda Susanti. Dia menyebut, ada sejumlah tipe kamar, mulai dari kamar dengan 1 bed, lengkap dengan ruang tamu dan dapur serta kamar mandi. Ada juga kamar dengan dua bed dengan ruang tamu dan dapur serta kamar mandi.

"Mandi air hangat, kayak di hotel. Makan bagus tiga kali sehari di tambah satu kali snack," jelas dia.

Tidak hanya itu, jika bosan, pasien juga bisa memesan makanan secara online. Selain itu, dari sisi medis, mereka juga menerima perawatan seperti dicek tensi tiga kali sehari, pengecekan suhu, obat-obatan hingga pemberian semangat oleh psikolog.

Di sisi lain, Inata menyebut bahwa menjalankan isolasi mandiri di Wisma Atlet tidak seseram yang dibayangkan. Dia bahkan menyebut Wisma Atlet adalah tempat terbaik untuk isolasi COVID-19.

"Di sana tidak seseram itu. Saya bilang tempat terbaik untuk isolasi. Membangkitkan semangat karena merasa tidak sendiri, karena kita berada di dalam komunitas yang sama, membuat semangat sembuh tinggi, karena kita saling sharing dengan orang sekitar," kata dia.

Perlu diingat, saat ini jumlah kasus COVID-19 masih tinggi. Untuk itu tetap patuhi protokol kesehatan dan selalu melakukan 3M: Memakai masker, Menjaga jarak dan menjauhi kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun.

#pakaimasker
#satgascovid19
#jagajarak
#ingatpesanibu
#cucitanganpakaisabun