Penyintas Kanker Ovarium, Shahnaz Haque Pantang Konsumsi Makanan Ini

·Bacaan 3 menit

VIVAShahnaz Haque menceritakan pengalamannya saat harus berjuang melawan kanker ovarium yang menjalar di tubuhnya pada akhir tahun 90-an. Bukan hal yang mudah baginya, untuk bisa berhasil melewati fase tersebut, khususnya saat usianya terbilang masih muda.

Pertama kali artis senior itu didiagnosa mengidap kanker ovarium saat 1998. Usianya saat itu masih 26 tahun. Momen itu juga tepat tujuh tahun usai sang ibunda meninggal, lantaran penyakit yang sama.

Semua berawal dari rasa bingung yang melanda akibat siklus menstruasi Shahnaz yang tak beraturan. Artis kelahiran tahun 1972 itu bahkan sempat 3 bulan tak menstruasi sehingga memberanikan diri bertanya pada dokter yang hadir di dalam acara yang dipandunya. Sang dokter pun bertanya akan riwayat kanker ovarium di keluarganya.

"Lalu saya menjalani USG dan didapati sel padat yang mesti dioperasi. Ibu saya meninggal akibat kanker. Nenek saya juga meninggal karena kanker. Dua mertua saya meninggal karena kanker," ujarnya dalam Kampanye 10 Jari mengenali tanda kanker Ovarium yang didukung AstraZeneca, beberapa waktu lalu.

Berobat

Istri Gilang Ramadhan itu mengaku merasakan sakit yang menjalar di sekitar lingkar pinggang bagian kanannya. Rasa sakit yang diakibatkan sel-sel abnormal tersebut membuatnya harus mengikuti perawatan kanker secara intensif yang dijalani selama tahun 1999.

"Saya nurut dengan pengobatan medis dan itu yang terjadi dengan saya. Kini, saya bisa mendampingi teman-teman yang terdiagnosis kanker," kata ibu tiga anak itu.

Saat pertama kali didiagnosa, Shahnaz merasa enggan untuk berobat dan menunda operasi. Beruntung, ia tak tergiur dengan pengobatan alternatif yang bisa saja membuat stadium kankernya bertambah parah. Ia pun menegaskan, masyarakat harus menyingkirkan mitos soal kanker yang beredar dan langsung berobat secara medis.

"Kanker ini penyakit medis bukan mistis, jangan datang ke dukun," tegasnya.

Mengubah pola hidup

Adik Marissa Haque itu menyebut pengalamannya menjalani perawatan kanker secara intensif, membuatnya kapok melakukan hal serupa. Untuk itu, ia mengaku melakukan lebih banyak pencegahan agar pengalaman serupa tak terulang. Sebut saja, pantangan mengonsumsi beberapa jenis makanan yang terbukti tak memberi manfaat bagi tubuh.

“Banyak pola hidup yang berubah sesudah saya operasi tahun 1999. Saya tidak makan makanan kaleng. Sarden, kornet, itu enggak. Jadi saya makan masakan rumah yang enggak bolak-balik masuk lemari es. Jadi sekali makan, habis. Enggak dipanaskan,” ungkapnya.

Saran pakar

Direktur AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri mengatakan bahwa keberhasilan penanganan kanker terdiri dari dua faktor. Pertama, diagnosis sejak dini dan kedua, pengobatan medis yang tepat. Hal itu pun sejalan dengan AstraZeneca Indonesia, Indonesian Cancer Information and Support System, dan HOGI meluncurkan Kampanye 10 Jari untuk mengenali 6 faktor risiko dan 4 tanda kanker ovarium.

Ada pun enam faktor risiko tersebut yakni riwayat keluarga, mutasi genetik, riwayat kista endometriosis, angka paritas rendah, gaya hidup buruk, serta usia yang semakin lanjut.

"Empar tanda kanker kanker ovarium yakni kembung, nafsu makan menurun, sering buang air kecil, dan nyeri panggul atau perut,” katanya.

Senada, dokter spesialis obstetri ginekologi konsultan Pungki Mulawardhana menyampaikan, pasien yang konsultasi padanya kerap sudah dalam kondisi parah. Sebut saja, sakit perut yang tak tertahankan akibat menunda pengobatan atau memilih penanganan non medis.

"Ada yang mengatakan mencoba pengobatan alternatif, tapi ketika kondisi makin parah kembali ke kami (dokter)," kata Pungky.