Penyuluhan pertanian cerdas untuk swasembada pangan

SMART merupakan singkatan dari Specific, Measurable, Actionary, Realistic, Time Frame, yaitu perumusan tujuan dilakukan dengan memperhatikan kriteria khas, dapat diukur, dapat dikerjakan/dapat dilakukan, sesuai kemampuan dan memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan.

Dalam kaitannya dengan penyuluhan pertanian, tentu yang dimaksudkan dengan "penyuluhan cerdas" (smart extension) adalah proses pendidikan nonformal (pembelajaran dan pemberdayaan) yang diberikan kepada petani beserta keluarganya agar dalam jangka pendek terjadi perubahan perilaku (sikap, tindakan, dan pengetahuan) ke arah yang lebih baik dan tujuan jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Yang menarik untuk dibahas lebih dalam lagi adalah apa yang jadi pembeda utama penyuluhan pertanian biasa dengan penyuluhan pertanian cerdas?

Apakah proses penyuluhan pertanian yang selama ini dilakukan masih kurang cerdas? Atau ada hal lain, yang butuh pembaruan dari paradigma penyuluhan pertanian saat ini? Jawabannya tentu butuh penjelasan panjang dari semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Pembangunan pertanian tanpa dibarengi dengan penyuluhan pertanian sama saja dengan upaya sia-sia. Kisah sukses swasembada beras, misalnya, tidak mungkin akan dapat diraih bangsa ini tanpa kehadiran program penyuluhan pertanian.

Para penyuluh pertanian inilah yang mengajarkan tata cara budi daya yang efektif dan efisien dengan menerapkan sistem pertanian tangguh, berbasis inovasi, dan teknologi terbaru.

Maka, kemudian wajar jika Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sering menyatakan, "Penyuluh Kuat, Pertanian Hebat".

Sukses atau tidaknya program penyuluhan pertanian akan sangat ditentukan oleh kualitas para penyuluh pertanian. Jika para penyuluh pertanian merasa tidak nyaman dalam menekuni profesinya, jangan harap program penyuluhan pertanian akan berhasil.

Peningkatan kapasitas dan kualitas penyuluh pertanian merupakan hal utama yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh.

Penyuluh pertanian sebagai aktor utama dalam proses penyuluhan pertanian, tentu harus selalu memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan para petani. Terlebih ada kesan bahwa penyuluh pertanian adalah gurunya petani.

Sebagai guru petani, penyuluh pertanian jangan sampai kalah pintar dari petaninya. Penyuluh pertanian harus selalu dua langkah lebih maju dari petani. Di era milenial sekarang penyuluh pertanian harus selalu akrab dengan perkembangan teknologi informasi.

Adanya komitmen para kepala negara sedunia untuk menerapkan 17 Agenda Pembangunan guna mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) Tahun 2015 - 2030, menggambarkan kepedulian mereka agar setiap negara benar-benar konsisten untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Tidak boleh ada satu pun negara yang ketinggalan dalam menggapai kemajuan dan kejayaannya. Kebersamaan antarbangsa menjadi kata kunci dalam menggapai kehidupan yang lebih maju dan berkualitas.

Agenda 1 dan 2 SDGs telah memosisikan dunia tanpa kemiskinan dan dunia tanpa kelaparan sebagai prioritas yang perlu mendapat penekanan khusus menuju pembangunan berkesinambungan.

Mewujudkan dunia tanpa kelaparan tentu akan sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan pangan di masing-masing negara.

Ketersediaan pangan akan kokoh sekira nya produksi pangan dunia dapat ditingkatkan secara signifikan.

Dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian pangan inilah kehadiran penyuluh pertanian menjadi sangat penting.

Penyuluh pertanian akan menularkan hasil-hasil pengkajian dan penelitian terbaru yang dihasilkan para peneliti, baik yang berasal dari lembaga penelitian atau pun perguruan tinggi.

Langkah ini tetap harus dikembangkan, karena kolaborasi peneliti-penyuluh-petani, menjadi kunci sukses program penyuluhan pertanian.


Petani pengusaha

Dalam penyuluhan pertanian cerdas, seorang penyuluh pertanian, bukan hanya dituntut untuk mendidik, melatih, dan menyuluh petani agar produksi pertaniannya meningkat, namun dirinya pun dituntut untuk dapat mengubah status petani, dari yang asalnya beratributkan "petani subsisten" menjadi "petani pengusaha".

Petani tidak cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun juga harus memiliki kemampuan untuk menangkap peluang bisnis yang ada.

Bagi masa depan pembangunan pertanian, langkah ini benar-benar harus digarap dengan serius. Petani perlu tampil menjadi pebisnis unggul yang dapat melahirkan terobosan cerdas dalam menerapkan konsep agribisnis.

Itu sebabnya dalam Presidensi G20 di Bali, Menteri Pertanian telah menyebarkan 3 pesan moral terkait hal-hal strategis yang penting dikembangkan untuk masa depan.

Ke-3 pesan moral tersebut, yakni, pertama, mempromosikan sistem pertanian dan pangan yang tangguh dan berkelanjutan.

Kedua, mempromosikan perdagangan pertanian yang terbuka, adil, dapat diprediksi, transparan, dan non-diskriminatif untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pangan untuk semua.

Ketiga, kewirausahaan pertanian inovatif melalui pertanian digital untuk meningkatkan penghidupan petani di perdesaan.

Pesan moral dari ke tiga isu ini adalah bagaimana kemampuan negara-negara yang tergabung dalam G20, mampu menjadi "kekuatan baru" dalam mengarungi dunia pertanian yang lebih senapas dengan konteks kekinian.

Untuk itu, sangat relevan jika dalam melakoni Pertanian 4.0 atau bahkan 5.0, paradigma penyuluhan pertanian, perlu diubah menjadi penyuluhan pertanian cerdas dengan lebih mengoptimalkan keberadaan teknologi informasi yang sekarang ini berkembang sangat cepat.

Bagi negara ini, sektor pertanian merupakan sektor yang perkasa. Keperkasaannya ini dibuktikan ketika dunia dihadapkan pada krisis moneter yang kemudian bergeser menjadi krisis multidimensi pada tahun 1997/1998 dan krisis kemanusiaan (COVID-19) yang menelan banyak korban nyawa manusia mulai tahun 2019 hingga kini, sektor pertanian masih tetap bertahan dan mampu tumbuh positif. Sedangkan sektor-sektor strategis lain tumbuh negatif.

Pada akhirnya penyuluhan pertanian cerdas, memang harus diawali oleh hadirnya para penyuluh pertanian yang cerdas.

Penyuluh pertanian inilah yang dimintakan untuk dapat mengajari petani dengan segudang pengetahuan dan inovasi berbasis teknologi digital.

Proses belajar-mengajar tidak lagi menggunakan metode klasik, seperti tatap muka di kelas, tapi seiring dengan perkembangan teknologi informasi, para penyuluh pertanian, perlu menerapkan cara dan metode baru dalam berkomunikasi dengan para petani.


*) Entang Sastraatmadja adalah Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat.