Penyusutan adalah Penurunan Nilai untuk Pemanfaatan, Ketahui Metode Perhitungannya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan penyusutan adalah proses, cara, dan perbuatan menyusutkan. Penyusutan adalah perbuatan yang berhubungan dengan masalah biaya untuk keperluan tertentu. Penyusutan adalah asal katanya dari bahasa Inggris “depreciation” yang artinya turunnya nilai.

Penyusutan adalah penurunan nilai yang umumnya digunakan untuk suatu perawatan aset. Direktorat Jendral Pajak RI menjelaskan penyusutan adalah umumnya digunakan untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan, atau perubahan harta berwujud.

Dikecualikan pada tanah yang berstatus hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan masa memanfaatkan lebih dari satu tahun. Penyusutan adalah dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut.

Atas persetujuan Direktur Jenderal Pajak, Wajib Pajak umumnya akan diperkenankan melakukan penyusutan adalah mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan.

Berikut Liputan6.com ulas tentang penyusutan adalah penurunan nilai untuk pemanfaatan lebih jauh, Rabu (24/11/2021).

Faktor Penyebab Penyusutan

Ilustrasi Menghitung. Credit: pexels.com/Karolina
Ilustrasi Menghitung. Credit: pexels.com/Karolina

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) menjelaskan tentang beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya beban penyusutan pada aset tetap. Apa saja faktor penyebab penyusutan itu?

1. Harga perolehan aset tetap

Harga perolehan yaitu sejumlah uang yang dikeluarkan dalam memperoleh aktiva tetap hingga siap digunakan.

2. Masa manfaat yang diharapkan:

Periode suatu aset diharapkan digunakan untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik; atau Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik.

3. Perkiraan nilai aset tetap pada akhir masa manfaat (nilai residu/nilai sisa)

Nilai sisa atau nilai residu adalah jumlah yang diperkirakan dapat direalisasikan pada saat aktiva tidak digunakan lagi.

Metode Penyusutan

Ilustrasi menghitung. (Pexels.com/Karolina Grabowska)
Ilustrasi menghitung. (Pexels.com/Karolina Grabowska)

Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Nomor 7 tetang Aset Tetap dan Buletin Teknis SAP, penyusutan adalah alokasi sistemik atas nilai suatu Aset Tetap yang dapat disusutkan selama masa manfaat aset bersangkutan.

Ahli dalam bidang ini Martiani (2012: 316-319) menjelaskan ada tiga metode penyusutan yang umum digunakan. Apa saja?

1. Metode Penyusutan Garis Lurus

Metode penyusutan garis lurus adalah paling sederhana mengasumsikan penggunaan yang konstan dari suatu aset selama masa manfaatnya. Metode ini merupakan metode yang mendasarkan alokasi dari fungsi waktu penggunaan aset.

Berdasarkan metode penyusutan garis lurus, biaya depresiasi dihitung dengan mengalokasikan nilai aset yang didepresiasikan selama masa manfaat aset secara sama untuk setiap periodenya. Berikut rumus metode penyusutan garis lurus:

Biaya Depresiasi = Biaya Perolehan Aset – Nilai Residu/ Masa Manfaat Aset

2. Metode Penyusutan Pembebanan Menurun

Metode penyusutan pembebanan menurun merupakan pemberian pembebanan biaya depresiasi yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dari umur aset dan pembebanan yang rendah pada tahun-tahun akhir.

Dua metode yang sering digunakan entitas dalam metode penyusutan pembebanan menurun adalah metode jumlah angka tahun (sum of the years method) dan metode saldo menurun (declining balance method).

- Metode Jumlah Angka Tahun

Pertama, ada metode depresiasi yang dihasilkan dari penghapus bukuan yang bersifat menurun dengan biaya depresiasi tahunan ditentukan dengan mengalihkan biaya depresiasi dengan fraksi tahun sebagai tarif pembebanan depresiasi.

Tarif pembebanan depresiasi adalah hasil rasio dengan denominatornya, jumlah tahun penggunaan aset. Misalnya saja aset dengan masa manfaat 5 tahun memililki denominator 15 (5+4+3+2+1) dan numeratornya adalah jumlah tahun sisa pada awal tahun yang belum didepresiasikan. Misalkan pencatatan beban depresiasi pada akhir tahun ketiga maka numeratornya adalah untuk menghitung biaya depresiasi.

Berikut rumusnya:

Biaya Depresiasi = Fraksi Depresiasi x (Nilai Perolehan Aset - Nilai Residu)

- Metode Saldo Menurun

Kedua ada metode yang membebankan depresiasi dengan nilai yang lebih tinggi pada awal periode dan secara gradual, akan berkurang pada tahun-tahun selanjutnya. Pada metode penyusutan beban depresiasi, hasil perkalian nilai buku aset dengan tarif depresiasi yang dinyatakan dengan presentasi yang besar presentase biaya dua kali lipat dari persentase garis lurus.

Dimisalkan aset dengan umur lima tahun memiliki tarif 40 persen, dua kali lipat dari tarif garis lurus sebesar 1/5 atau 20 persen). Berbeda dengan metode sebelumnya, pada metode ini nilai yang didepresiasikan tidak 12 dikurangkan dengan nilai residunya (nilai perolehan aset).

Berikut rumusnya:

Biaya Depresiasi = Nilai Buku Awal Tahun x Tarif Saldo Menurun

3. Metode Penyusutan Unit Produksi

Metode penyusutan unit produksi adalah mengasumsikan pembebanan depresiasi sebagai fungsi dari penggunaan atau produktivitas aset, bukan dilihat dari waktu penggunaan aset. Berdasarkan metode penyusutan ini, umur dari aset akan didepresiasikan berdasarkan jumlah output yang diproduksi (unit produksinya) atau berdasarkan input yang digunakan (seperti jam kerja). Metode ini sangat tepat digunakan untuk menghitung biaya depresiasi.

Berikut rumusnya:

Biaya Depresiasi = (Biaya Perolehan Aset – Nilai Residu) x Jam Penggunaan/ Estimasi Jam Penggunaan Total

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel