Peraih Fellowship BCF Adakan Pelatihan bagi Pasien TBC RO

Syahdan Nurdin, Meliani
·Bacaan 2 menit

VIVA – World Health Organization (WHO) pada tahun 2019 menyatakan bahwa rasio insidensi TBC RO (Tuberkulosis Resisten Obat) di Indonesia mencapai angka 8,8 per 100.000 populasi, dengan perkiraan terdapat 24.000 kasus.

Secara global, angka tersebut masih tercatat sebagai kasus tertinggi. Indonesia berada di peringkat 7 dari 30 negara di dunia yang memiliki kasus TB RO tertinggi. Ironisnya, tingginya angka tersebut tidak setara dengan cakupan pengobatan yang hanya sekitar 18,6%.

Banyak pasien TBC RO yang memutuskan untuk berhenti melakukan pengobatan. Salah satu alasannya karena faktor ketahanan ekonomi keluarga. Proses pengobatan panjang dan juga stigma masyarakat terkait penyakit ini menyebabkan adanya keterbatasan interaksi pasien.

Hal ini diperparah dengan keadaan pandemi yang menyerang seluruh dunia, termasuk Indonesia. Adanya hal tersebut, salah satu peraih program fellowship Leadership and Experience Development (LEAD) Indonesia 2019 mengadakan sebuah pelatihan untuk kembali memberdayakan pasien TBC RO agar dapat tetap menghidupi diri dan keluarganya.

Wahyu Ramadhan, fellow LEAD Indonesia 2019 asal Jember, membuat sebuah kegiatan pelatihan bernama Budikdamber atau Budaya Ikan dalam Ember. Pada awalnya, ide Budikdamber tercetus karena Wahyu merasa perlu adanya peningkatan produktivitas pasien TBC RO.

Hal tersebut dikarenakan terjangkitnya penyakit TBC RO bukan menandakan bahwa pasien tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Di masa pandemi ini, Wahyu mengadopsi beberapa ide ketahanan pangan di masa Covid-19 dan mengemasnya dengan bentuk yang berbeda.

Wahyu Ramadhan, Pendiri Budikdamber
Wahyu Ramadhan, Pendiri Budikdamber

Wahyu Ramadhan, Pendiri Budikdamber

“Dalam pengembangan Budikdamber ini, kami melakukan sebuah strategi dan siasat dalam proses pelaksanaannya. Dikarenakan keadaan pasien TBC RO yang tidak memungkinkan untuk menjual produk secara langsung, mereka akan berperan sebagai produsen dan menjual produk yang dihasilkan ke kami. Kemudian, tugas kami adalah mengolah bahan mentah tersebut menjadi produk jadi yang siap dipasarkan,” ujar Wahyu Ramadhan saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Bulan September 2020 merupakan awal pertama dilaksanakannya kegiatan ini. Meskipun terasa masih dini, pelatihan Budikdamber telah melakukan pemberdayaan kepada 5 orang pasien beserta keluarganya agar tetap menghasilkan dan produktif memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Wahyu, Bakrie Center Foundation berperan banyak dalam memberikan ide-ide pemberdayaan dan sociopreneurship.

Salah Satu Peserta Pemberdayaan Budikdamber
Salah Satu Peserta Pemberdayaan Budikdamber

Salah Satu Peserta Pemberdayaan Budikdamber

“Awalnya kegiatan Budikdamber ini hanya terkunci pada kegiatan filantropi saja. Namun, setelah mengikuti program Lead yang diadakan oleh BCF pada tahun 2019, ide-ide pemberdayaan mulai muncul dan sedikit demi sedikit mengarah ke aktivitas sociopreneurship. Melihat adanya fenomena tersebut, bagi saya sangat menarik menerapkan ide pemberdayaan tersebut kepada pasien dengan status penyakit menular agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga,” tutur Wahyu Ramadhan.