Perajin Lebak libatkan emak-emak bikin keset, gerakkan ekonomi lokal

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Perajin keset kaki di Kabupaten Lebak, Banten, menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal sehingga menggulirkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah itu.

"Kami memberdayakan tenaga kerja lokal itu sebanyak 40 orang dan kebanyakan emak-emak," kata Sugandi, seorang perajin keset kaki di Desa Cilangkap, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Jumat.

Produksi perajin keset kaki itu dipasarkan ke sejumlah daerah di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Bogor.

Selama ini, kata dia, permintaan pasar relatif berkurang dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Ia mengatakan biasanya bisa menjual hingga sekitar 500 kodi/bulan, namun kini pendapatan menurun drastis hingga 50 persen atau hanya 250 kodi/bulan.

Baca juga: Kemenperin gali inovasi perajin lewat Kompetisi Tudung Saji Nusantara

Kendati demikian Sugandi mengaku tetap bertahan untuk menyelamatkan para tenaga kerja lokal agar memiliki penghasilan ekonomi, mengingat masyarakat di desanya itu kebanyakan pekerja serabutan, terutama sebagai buruh tani.

Saat ini, kata dia, harga keset kaki itu dijual Rp120 ribu/kodi sehingga omzet pendapatan di tengah pandemi COVID-19 mencapai Rp30 juta dari sebelumnya Rp60 juta/bulan.

"Kami berharap usaha kerajinan bisa bertahan di tengah COVID-19," ujar Sugandi.

Ia menjelaskan produksi kerajinan keset kaki itu memanfaatkan limbah kain konveksi dari Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.

Sugandi merintis kerajinan keset tersebut sejak tahun 2019 dan hingga kini mampu menyumbangkan pendapatan ekonomi warga setempat dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp500 ribu sampai Rp600 ribu/bulan per orang melalui sistem pengupahan borongan.

Baca juga: Kemenperin jaga pasar ekspor IKM furnitur dan kerajinan

"Kami mengapresiasi bantuan peralatan dari pemerintah daerah sehingga usaha kerajinan keset kaki ini bisa bertahan di tengah pandemi COVID-19," katanya.

Janah (60), seorang pekerja keset kaki mengakui bahwa dirinya sangat terbantu adanya kerajinan itu, karena bisa menghasilkan pendapatan tambahan.

"Kami setiap hari merajut kain-kain limbah itu menjadi produksi keset kaki," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Dedi Rahmat mengatakan pemerintah daerah mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19, sehingga mampu berkontribusi pada perekonomian masyarakat.

"Kami secara bertahap setiap tahun memberikan bantuan kepada pelaku IKM agar usaha mereka tumbuh dan berkembang hingga menciptakan lapangan pekerjaan," katanya.

Baca juga: Kemenperin dorong daya saing industri kerajinan lewat "e-smart" IKM