Perajin Mulai Produksi, Peredaran Tahu Tempe di Sidoarjo Segera Normal

·Bacaan 1 menit
Pekerja memotong tahu yang baru dicetak, di sebuah industri tahu rumahan di pinggiran Jakarta, Rabu (10/7/2019). Karena populernya, tahu menjadi bagian tak terpisahkan yang ditemui di tempat makan berbagai tingkat sosial di Indonesia, bersama-sama dengan tempe. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Liputan6.com, Surabaya - Para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mulai berproduksi setelah mogok produksi selama tiga hari sejak 1 sampai 3 Januari 2021 akibat kenaikan harga bahan baku kedelai. Bahan baku dari sebelumnya Rp 7 ribu menjadi Rp 9 ribu perkilogramnya.

Salah satu produsen tahu asal Desa Sepande, Sidoarjo, Muhammad Farid, mengatakan akibat kenaikan harga bahan baku ini dirinya terpaksa menaikkan harga jual tahu ke pengecer.

"Kalau dari kami selaku produsen setiap satu papan kami jual seharga Rp 29 ribu dari harga biasanya sekitar Rp 27 ribu," katanya seperti dikutip dari Antara, Senin (4/1/2021).

Ia mengatakan, dari satu papan itu kemudian dipotong sendiri sesuai dengan permintaan para pengecer tahu dan selanjutnya dijual ke masyarakat.

"Biasanya satu papan tahu dipotong menjadi 36 biji, sekarang dipotong menjadi 40 biji," katanya.

Ia berharap harga kedelai bisa kembali normal seperti semula karena sejak pandemi berlangsung pihaknya sudah mengurangi jumlah produksi tahu miliknya.

"Sebelumnya bisa mencapai 6 kuintal kedelai setiap harinya. Kini kami hanya mampu memproduksi tahu dengan bahan baku sekitar 4,5 kuintal kedelai setiap hari," katanya.

Keuntungan Menurun

Hal yang sama juga dikatakan oleh produsen tempe asal Sepande Karlim yang mengaku jika adanya kenaikan harga kedelai ini dirinya meraup untung sedikit.

"Dapat untung tapi tipis, semoga pemerintah bisa mencarikan solusi atas kejadian kenaikan harga kedelai. Kami berharap harganya bisa turun, kalau bisa di bawah Rp7 ribu perkilonya," katanya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: