Peran Bharada E Digantikan Saat Adegan Bertemu Sambo Atas Permintaan LPSK

Merdeka.com - Merdeka.com - Sosok Bharada E ditampilkan dengan sosok peran pengganti saat menjalani rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir J di rumah pribadi Ferdy Sambo. Padahal sebelumnya, saat reka ulang adegan di Magelang, Bharada E masih terlihat di lokasi.

"Info dari penyidik seperti itu (pakau peran pengganti)," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Selasa (30/8).

Dedi menjelaskan, peran Bharada E diganti atas permintaan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Dia tidak menjelaskan siapa yang menggantikan Bharada E.

"Atas permintaan LPSK," ujar Dedi.

Dikonfirmasi secara terpisah, Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu belum bisa menjelaskan alasan meminta peran pengganti untuk Bharada E saat melakukan adegan di rumah pribadi Sambo. Dia berjanji akan memberikan penjelasan setelah seluruh proses rekonstruksi selesai.

"Nanti penjelasannya," singkat Edwin.

Sebelumnya, LPSK memang sempat menginginkan Bharada E menggunakan peran pengganti saat menjalani rekonstruksi. Permintaan itu karena ada kekhawatiran Bharada E dalam tekanan psikis apabila bertemu dengan Ferdy Sambo.

"LPSK akan koordinasikan dengan penyidik supaya tidak bertemu FS, demi kepentingan E dan kepentingan proses hukum," kata Wakil Ketua LPSK, Maneger Nasution kepada wartawan, Senin (29/8).

"Salah satu cara yang bisa dipertimbangkan dalam proses rekonstruksi itu adalah dengan adanya pemeran pengganti E. Ini akan dikoordinasikan dengan penyidik," ucapnya.

Proses Pergantian Peran

Berdasarkan pantauan, memasuki adegan 32, Ferdy Sambo bertemu dengan anak buahnya, Bharada Richard Eliezer atau E di salah satu ruangan dalam rumah. Namun berbeda dari adegan-adegan sebelumnya, pada adegan 32 Bharada E diperankan oleh peran pengganti dari Kepolisian.

Terlihat peran pengganti menggunakan pakaian berwarna merah, bertuliskan Polisi. Bermasker hitam dan berkalung nametag tersangka Richard.

Sementara di depannya, Ferdy Sambo mengenakan pakaian bertulis tahanan. Ferdy Sambo lebih sering menatap ke Bharada E, sesekali menoleh ke kanan dan kiri.

Memasuki adegan 37, Bharada E kembali memerankan sendiri ketika dia keluar rumah menuju mobil. Di adegan ke 38, Bharada E membuka pintu mobil untuk mengambil pistol.

Hingga berita ini tayang, rekonstruksi masih berlangsung. Rekonstruksi itu turut disaksikan Irwasum Komjen Agung Budi Maryoto, LPSK, Komnas HAM, Kompolnas hingga Kejaksaan.

Rekonstruksi di 3 Lokasi

Rekonstruksi pembunuhan Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat akan dilakukan di tiga lokasi. Pertama, di sebuah aula yang menjadi lokasi penggantian peristiwa di Magelang, Jawa Tengah.

Di mana di lokasi itu terlihat tersangka Putri, Bripka RR, Bharada E, KM terlihat meragakan sebanyak 16 adegan meliputi peristiwa pd tgl 4, 7 dan 8 Juli 2022, di mana insiden dugaan pelecehan oleh Brigadir J itu terjadi.

Sementara untuk lokasi kedua bakal digelae di rumah pribadi jalan Saguling dengan sebanyak 35 adegan, meliputi peristiwa pada tgl 8 Juli dan pasca pembunuhan Brigadir J.

Adegan itu disebut jadi proses perencanaan Irjen Ferdy Sambo kala itu untuk merancang skema pembunuhan berencana.

Lalu, lokasi ketiga berada di rumah dinas (rumdin), Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga. Di mana lokasi itu diketahui menjadi titik tempat eksekusi penembakan Brigadir J. Gambaran itu bakal dilakukan dengan meragakan 27 adegan peristiwa pembunuhan Brigadir J.

Selama proses rekonstruksi ini, hadir tim jaksa penuntut umum, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sebagai pihak pengawas eksternal.

Dengan melibatkan total 5 tersangka antara lain Bharada E alias Richard Eliezer Pudihang Lumiu, Bripka RR alias Ricky Rizal, Kuat Maruf alias KM, Irjen Ferdy Sambo alias FS, dan Putri Candrawathi alias PC.

Pada kasus ini, Bharada E dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Juncto 55 dan 56 KUHP.

Sedangkan, Brigadir RR dan KM dipersangkakan dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP.

Sementara Ferdy Sambo dipersangkakan dengan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP. Selanjutnya, Putri Candrawathi disangkakan dengan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56. [lia]