Peran Bioteknologi dalam Genjot Produksi Pangan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menghadapi masalah penyediaan pangan yang disebabkan karena degradasi sumber daya lahan, produktivitas yang merendah, dan perubahan iklim global yang juga dapat berdampak negatif terhadap produksi pangan.

Bioteknologi dipandang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas pertanian. Rekayasa organisme tersebut mampu menciptakan bibit unggul, varietas tanaman unggul, biopestisida, dan pupuk hayati yang ramah lingkungan. Dengan adanya perbaikan pertanian tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi pangan nasional.

Pengajar Fakultas BioTechnology, Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) Putu Virgina mengatakan tingginya jumlah populasi di bumi saat ini yang diprediksi terus meningkat hingga 9.7 miliyar pada tahun 2050 memaksa untuk meningkatkan produksi pangan untuk mencegah kelaparan. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan jumlah lahan subur yang dapat ditanami.

"Teknologi rekayasa genetika mampu menghasilkan tanaman dengan produktivitas yang lebih tinggi sehingga produksi pangan dapat ditingkatkan dengan jumlah lahan yang terbatas," kata Putu Virgina dalam keterangan resminya.

Ia menambahkan dengan adanya teknologi rekayasa genetika yang memungkinkan untuk merekayasa mahkluk hidup sehingga memiliki sifat yang kita inginkan. Dengan teknologi ini, dapat menghasilkan tanaman yang tahan hama serta cuaca ekstrim, dan juga memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

Kualitas pangan dapat ditingkatkan salah satunya dengan menunda atau memperlambat proses pematangan buah sehingga tidak mudah busuk selama proses distribusi dan penyimpanan.

"Tomat yang dikenal dengan nama Flavr Savr merupakan salah satu contoh tomat yang DNA-nya telah direkayasa sehingga tidak cepat membusuk," jelasnya.

Selain itu, kualitas pangan juga dapat ditingkatkan dengan memperkaya kandungan nutrisi pada pangan tersebut. Salah satu contohnya adalah Golden Rice, yang merupakan beras yang telah disisipi gen dari bakteri sehingga dapat menghasilkan beta karoten. Beta karoten tersebut akan diubah oleh tubuh menjadi vitamin A ketika dikonsumsi.

Tingkatkan Keuntungan

Warga menanam bayam hijau dalam pipa PVC atau sistem hidroponik di Kompleks Gudang PT NBA, Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Jumat (10/7/2020). Dengan lahan sempit, bercocok tanam dengan sistem hidroponik banyak dipilih masyarakat perkotaan untuk mengusir kejenuhan. (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Warga menanam bayam hijau dalam pipa PVC atau sistem hidroponik di Kompleks Gudang PT NBA, Serua, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Jumat (10/7/2020). Dengan lahan sempit, bercocok tanam dengan sistem hidroponik banyak dipilih masyarakat perkotaan untuk mengusir kejenuhan. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Penerapan bioteknologi pada pertanian Indonesia berpeluang untuk meningkatkan keuntungan. Salah satu contoh adalah produksi ikan salmon oleh perusahaan bioteknologi di US, AquaBounty.

Dengan menyisipkan gen dari salmon Chinook, perusahaan ini dapat menghasilkan salmon dengan ukuran 2 kali lebih besar dalam waktu yang lebih singkat.

Tentunya, bila bioteknologi dapat diterapkan di Indonesia maka dapat mendorong budidaya perikanan.

Peran praktisi, peneliti, dan industri bioteknologi dalam membantu mewujudkan kedaulatan pangan sangat strategis dalam kaitannya dengan riset, pengembangan, dan penggunaan tanaman hasil rekayasa genetika serta produk bioteknologi lainnya di Indonesia.

Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L) memiliki kepedulian untuk menyebarluaskan pemahaman mendalam pada masyarakat Indonesia tentang bioteknologi dan bagaimana aplikasinya di sektor pertanian dan pangan di Indonesia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel