Peran Gas Bumi Penting dalam Transisi EBT

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah sedang menggalakan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mengurangi emisi. Namun, untuk menunjang transisi memerlukan peran gas bumi.

Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar mengatakan, dalam mengoptimalkan penggunaan EBT dan mengurangi energi fossil membutuhkan masa transisi, gas adalah salah satu energi yang dibutuhkan dalam masa transisi menuju penggunaan EBT.

“Kita tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan energi dari fosil fuel ke renewable energy secara serta merta. Harus ada perantaranya salah satunya adalah gas,” kata Arcandra, di Jakarta, Jumat (30/4/2021).

Pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan konsumsi energi termasuk gas bumi yang cukup signifikan. Naming, pada 2021 dan tahun berikutnya kebutuhan gas diperkirakan akan meningkat.

“Menurut Wood Mckenzie, benar bahwa kebutuhan gas di tahun 2020 turun. Tapi pada tahun 2030, akan ada peningkatan sekitar 550 juta ton per tahun seiring dengan perkembangan proyek gas yang ada,” ujarnya.

Arcandra melanjutkan, kebutuhan LNG dunia untuk 10 tahun yang akan datang juga masih positif. Kebutuhan LNG dan gas tetap akan naik, walaupun dengan perkembangan EBT yang akan menggantikan sebagian kebutuhan energi.

“Ada risikonya kalau virus (COVID-19) belum mampu diatasi pada tahun 2021, kebutuhan demand yang digambarkan tidak akan tercapai. Namun demikian, kita berharap dengan perkembangan proyek, vaksin, dan sebagainya, kebutuhan LNG akan naik. Kemungkinan besar akan menyamai seperti sebelum COVID-19 terjadi, diiringi dengan menggeliatnya ekonomi di tahun 2021,” papar Arcandra.

Akibat pandemi Covid-19, kebutuhan gas termasuk LNG di Asia Pasifik mengalami penurunan. Namun sudah mengalami kenaikan mulai tahun 2021. Mengingat 2021 sudah mulai bangkit kembali naik walaupun belum sepenuhnnya mencapai angka seperti sebelumnya.

Ada skenario pasca pandemi yang dilakukan dengan ada pertumbuhan Global LNG sekitar 4,2 persen berdasarkan data Bloomberg. Negara-negara seperti China dan India adalah dua negara yang sangat concern terhadap energi yang lebih ramah lingkungan. Hal itu akan meningkatkan demand energi di masa yang akan datang.

Dunia Beralih ke EBT, Sumber Pembiayaan Proyek Energi Fosil Semakin Sulit

Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 12 Tahun 2017 membuat peluang investari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) semakin terbuka lebar.
Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 12 Tahun 2017 membuat peluang investari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) semakin terbuka lebar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan urgensi dekarbonisasi dalam garapan proyek-proyek infrastruktur di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Menurut Airlangga, penggunaan energi baru terbarukan (EBT) tidak hanya berkonsentrasi pada masalah lingkungan, namun juga sektor ekonomi. Saat ini, lembaga penyedia dana memiliki preferensi mendanai proyek-proyek yang ramah lingkungan daripada proyek berbasis energi fosil.

"Biaya teknologi EBT semakin murah membuat EBT menjadi lebih kompetitif. Kita lihat sumber dan akses pembiayaan semakin sulit untuk fosil dan memudahkan untuk EBT," ujar Airlangga dalam webinar, Senin (26/4/2021).

Lanjutnya, pasar global mulai menilai produk hasil industri yang memiliki catatan carbon footprint yang rendah. Carbon footprint ialah jumlah gas efek rumah kaca termasuk karbon dioksida dan gas metana dari suatu kegiatan.

"Produk industri pengolahan dilihat dari hasil listriknya, sumber energi listrik dari fosil jadi tidak lebih menjanjikan daripada EBT. Hal ini tentu berdampak pada ekspor hasil produk industri pengolahan," ujar Airlangga.

Adapun, Indonesia sendiri memiliki potensi EBT yang beragam, mulai dari tenaga air, angin hingga matahari. Kendati, pemanfaatannya masih belum maksimal.

Tercatat, hingga akhir 2020, total kaapsitas listrik berbasis EBT mencapai 10,5 GW, dengan kapasitas terbesar dari tenaga air sebesar 6,1 GW dan panas bumi 2,1 GW.

"Bauran energi primer realisasinya 11,2 persen, meskipun masih jauh dari target 23 persen namun meningkat 2,05 persen dibanding 2019," ujarnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: