Peran Indonesia Dalam Kesuksesan Pebulutangkis Guatemala di Olimpiade

·Bacaan 2 menit

VIVA – Bagi sebagian orang, nama Kevin Cordon mungkin bukanlah nama yang akrab di telinga. Tapi, pada Olimpiade Tokyo 2020, Cordon mengukir sebuah kisah tersendiri yang menarik untuk disimak.

Cordon merupakan pebulutangkis asal Guatemala, sebuah negara kecil di kawasan Amerika Tengah. Di sana, bulutangkis bukanlah olahraga favorit yang dimainkan oleh masyarakat.

Namun, Cordon tak sama dengan yang lain. Dia dengan berani mengambil jalan berbeda untuk menggeluti bulutangkis.

Beruntung, perjuangannya tak sia-sia. Dia merupakan salah satu pebulutangkis andalan Guatemala yang cukup berprestasi di kawasan Amerika.

Pebulutangkis 34 tahun itu kerap menjuarai turnamen Pan American Games, Pan American Championship, serta BWF International Challenge/Series.

Dari situ, dia mengumpulkan poin untuk bisa tampil di Olimpiade sebagai pesta olahraga paling prestisius di muka bumi. Olimpiade Tokyo merupakan Olimpiade keempat sepanjang kariernya di bulutangkis setelah 2008, 2012, dan 2016.

Dan di kesempatan keempatnya inilah, Cordon mampu mengukir prestasi terbaiknya. Pasalnya, dia mampu menembus babak perempat final nomor tunggal putra.

Sebelumnya, langkah terjauhnya hanya mencapai 16 besar di Olimpiade 2012 London. Kini, dia mampu melewati capaian terbaiknya itu.

Performa Cordon memang menjanjikan sejak awal tunggal putra bergulir. Tergabung di Grup C, dia menumbangkan Ng Ka Long Angus (Hong Kong) dan Lino Munoz (Meksiko). Cordon lolos ke 16 besar sebagai pemuncak Grup C.

Kemudian, di babak perdelapan final, dia bertarung ketat dengan wakil Belanda, Mark Caljouw. Lagi-lagi, dia mampu tampil apik dengan melibas Caljouw rubber game, 21-17, 3-21, dan 21-19.

Pancapaian ini dirasakan sangat emosional bagi Cordon. Sebab, untuk pertama kalinya dia bisa melangkah sejauh ini dan mengukir sejarah atas namanya sendiri di Olimpiade.

"Ketika saya lolos ke Olimpiade untuk pertama kalinya, itu adalah sebuah mimpi untuk bermain dan memenangkan satu pertandingan di sana. Setelahnya, saya masih terus bermimpi untuk terus memenangkan lebih banyak pertandingan," kata Cordon dikutip situs resmi BWF.

"Sekarang, saya sangat senang telah memenangkan tiga laga. Saya hanya masih tak memercayainya," lanjutnya.

Kendati telah tampil baik dan menajamkan rekornya sendiri, Cordon tak mau menargetkan terlalu tinggi. Dia hanya ingin tampil lepas dan bersenang-senang di atas lapangan.

"Saya hanya bersenang-senang. Sebuah kehormatan bisa bertanding dengan para pemain luar biasa, sosok yang biasanya hanya kita saksikan di internet. Dan ketika Anda memiliki kesempatan untuk bertanding dengan mereka rasanya sangatlah hebat," jelas dia.

Yang lebih hebatnya, di balik kesuksesan Cordon, ternyata ada tangan dingin pelatih dari Indonesia bernama Khadafi. Hal itu dibocorkan oleh Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat PBSI, Bambang Roedyanto, melalui cuitan di akun Twitter pribadinya.

"Kevin Cordon menjadi pemain pertama dari PanAm Continental ke quarter final. Dia dilatih pelatih dari Indonesia. Kalau tidak salah namanya Khadafi," tulis pria yang akrab disapa Rudy.

Cordon tentunya berharap dongeng manisnya ini terus berlanjut di Olimpiade Tokyo. Tapi, sebelum itu dia harus menaklukkan wakil Korea Selatan, Heo Kwang-hee, di babak perempat final.

Tunggal putra Korsel itu telah menunjukkan jika dia memiliki potensi untuk jadi yang terbaik. Pasalnya, dia mampu menumbangkan unggulan pertama asal Jepang, Kento Momota, di babak penyisihan grup.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel