Peran JM, Guru Ngaji Siti Elina yang Ditetapkan Tersangka

Merdeka.com - Merdeka.com - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap peran JM seorang guru ngaji yang ditetapkan sebagai tersangka. JM terseret pengembangan kasus Siti Elina, wanita coba menerobos area Istana beberapa waktu lalu.

Kabag Banops Densus 88, Kombes Aswin Siregar menjelaskan JM adalah guru ngaji yang disebut sebagai murabbi oleh para pengikutnya dari kelompok teroris Negara Islam Indonesia (NII).

"Seperti guru ngaji, kalau mereka menyebut murabbi, saya kira ini istilah ini harus lebih diperjelas nanti ini apa bedanya dengan guru, dengan pemimpin dengan semacam amir (pimpinan) gitu gitu ya," sebut Aswin saat dihubungi, Jumat (28/10).

Aswin mengatakan peran JM yang dimaksud sebagai guru bukan lah seperti pengajar formal. Masih diperdalam untuk mengetahui secara pasti peran dari JM.

"Karena istilah ini istilah mereka, jadi sementara ini kalo kita bilang mengajarkan secara lisan bukan seperti orang yang punya pesantren," jelasnya.

"Makanya murabbi ini susah kalau dijelaskan apa ya kalau dibedakan dengan guru, tapi kalau saya kira guru sebagai tempat orang bertanya sudah cukup sih," tambah dia.

Lebih lanjut, Aswin menjelaskan bahwa peran JM kepada tersangka Siti Elina bukan dalam lingkup doktrin untuk melakukan penyerangan sebagaimana dilakukan ketika menerobos Istana Negara.

Karena, dari hasil pemeriksaan diakui Siti bahwa motivasinya melakukan aksi nekat menerobos ring satu Istana Negara, karena adanya dorongan dalam diri yang didapat dari mimpi.

"Doktrin yang dia (Siti) dapat dari kajian umum tentang NII bukan masalah penyerangan, bukan terkait dia datang disuruh sebagai pengantin, bukan. Berdasarkan keinginan sendiri atau motivasinya internal dari dia yang dia sebut dari mimpi mimpinya itu atau wangsit," terangnya.

Ditetapkan Tersangka

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menetapkan JM selaku guru ngaji Siti Elina (SE) sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana teroris.

"Iya JM juga sudah (tersangka). Dia kan status nya guru nya," kata Kabag Banops Densus 88, Kombes Aswin Siregar saat dihubungi, Jumat (28/10).

Penetapan JM ini merupakan tersangka ketiga setelah BU suami dari Siti pada Kamis (27/10) dan Siti sendiri pada Rabu (26/10) telah ditetapkan sebelumnya oleh pihak kepolisian sebagai tersangka.

"Intinya sudah jadi tersangka semua," kata Aswin.

Kendati demikian, kata Aswin, kepada tiga tersangka JM, BU dan Siti sampai saat ini masih diperiksa secara intensif oleh penyidik Densus 88 mengikuti aturan jangka waktu masa penangkapan dia.

"Iya, pakai undang-undang terorisme, masa penangkapan nya kan 14 hari," katanya.

Adapun aturan itu telah diatur sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018, dimana Densus 88 sebagai penyidik yang secara khusus menangani tindak pidana terorisme dapat melakukan penangkapan terhadap seseorang yang diduga teroris selama 14 hari lamanya dan dapat diperpanjang selama tujuh hari.

"Sangkaan nya pasal 7 (UU Terorisme) itu permufakatan. Pasti akan dilihat lagi perkembangan pemeriksaan atau perkembangan penyidikannya karena saya kira masih mungkin ada perkembangan," ujar Aswin. [lia]