Perang di Papua, Anggota Kopassus Menyamar di Tumpukan Mayat

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tak diragukan lagi bahwa setiap anggota satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) wajib bernyali besar. Saat diterjunkan dalam pertempuran, tak jarang personel Korps Baret Merah melakukan aksi-aksi nekad dan bahkan berani mengorbankan nyawanya sendiri.

Dirangkum VIVA Militer dari berbagai sumber, sebuah aksi menyelamatkan diri dilakukan oleh seorang prajurit TNI yang berasal dari satuan elite Kopassus, Prajurit Dua (Prada) Pardjo. Pardjo terluka parah di beberapa bagian tubuhnya, dalam pertempuran yang terjadi di Fakfak, Irian Barat, atau yang sekarang bernama Papua.

Peristiwa ini terjadi antara tahun 1961 hingga 1962, saat berlangsungnya Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Irian Barat. Sejumlah anggota Kopassus yang dahulu bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) atau yang sekarang bernama Korps Pasukan Khas (Paskhas) diterjunkan ke rimba Papua.

Pasukan itu dipimpin oleh Letnan Dua (Letda) Inf Agus Hernoto, yang pernah dikisahkan oleh VIVA Militer kedua kakinya harus diamputasi akibat luka tembak yang membusuk.

Ternyata, nasib miris juga harus dialami Pardjo yang terluka parah akibat disergap pasukan Korps Marinir Kerajaan Belanda (Korps Mariniers). Kekuatan yang tak seimbang membuat pasukan gabungan RPKAD dan PGT terdesak. Dan sesuai instruksi, jika kalah jumlah maka seluruh prajurit harus mundur ke dalam hutan.

Saat situasi sudah tenang, pasukan gabungan RPKAD dan PGT keluar dari hutan untuk kembali melakukan penyusupan. Namun, alangkah terkejutnya pasukan itu saat menyaksikan sebuah kampung telah rata dengan tanah akibat dibakar tentara Belanda.

Kondisi prajurit pasukan gabungan RPKAD dan PGT mulai menurun. Oleh sebab itu, Letda Inf Agus Hernoto memutuskan untuk beristirahat di sebuah kebun pala.

Namun secara tiba-tiba, muncul serangan mendadak dari pasukan Marinir Belanda. Kontak tembak pun tak terelakan. Agus mengalami luka tembak di kedua kakinya. Sementara itu, tiga orang anggota PGT dan dua anggota RPKAD gugur.

Pardjo pun tak luput dari terjangan peluru pasukan Belanda. Tubuhnya roboh dan hanya bisa merangkak. Saat itu lah, Pardjo memutuskan untuk bergerak perlahan ke sejumlah mayat rekan-rekannya dan menyamar demi menyelamatkan diri.

Banyaknya tentara Belanda yang melakukan patroli, membuat Pardjo tidak bisa bergerak. Sehingga, ia harus tidur diantara tumpukan mayat teman-temannya selama lim hari.

Akhirnya, Pardjo diselamatkan oleh warga setempat. Warga membawa Pardjo ke pemukiman untuk dirawat. Setelah itu, Pardjo dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Laut Belanda. Beruntung, Pardjo tak dijadikan tawanan dan saat dirawat di rumah sakit, Pardjo mendengar bahwa Indonesia dan Belanda sepakat untuk melakukan gencatan senjata.