Perang Drone Rusia-Ukraina, Siapa Lebih Unggul?

Merdeka.com - Merdeka.com - Ribuan drone atau pesawat tanpa awak digunakan dalam perang Ukraina. Fungsinya untuk melihat musuh, meluncurkan rudal dan penembakan artileri langsung.

Baik Rusia dan Ukraina mengerahkan drone militer yang dibuat khusus dan drone yang marak dijual.

Drone militer utama Ukraina adalah Bayraktar TB2 buatan Turki. Ukurannya seperti pesawat kecil, memiliki kamera di dalamnya, dan bisa dipersenjatai dengan bom berpemandu laser.

Dr Jack Watling dari lembaga pemikir Royal United Services Institute (Rusi) mengatakan Ukraina memulai perang dengan puluhan atau di bawah 50 unit Bayraktar TB2. Sedangkan Rusia utamanya menggunakan drone Orlan-10 yang lebih kecil dan sederhana.

"Rusia memulai perang dengan ribuan (Orlan-10), dan mungkin masih memiliki ratusan lagi," ujarnya, dikutip dari BBC, Senin (25/7).

Kedua jenis drone ini paling efektif ketika digunakan untuk menemukan target musuh dan memandu tembakan artileri ke arah musuh.

"Pasukan Rusia dapat membawa senjata mereka untuk menghadapi musuh hanya dalam tiga hingga lima menit setelah drone Orlan-10 menemukan target," jelas Dr Watling.

Tanpa Orlan-10, serangan bisa memakan waktu 20 hingga 30 menit.

Dr Martina Miron, peneliti di jurusan pertahanan King's College London, mengatakan drone memungkinkan Ukraina untuk memperluas kekuatannya yang terbatas.

"Jika Anda ingin mencari posisi musuh di masa lalu, Anda harus mengirim unit pasukan khusus untuk melakukannya, dan Anda bisa kehilangan beberapa pasukan," jelasnya.

"Sekarang, yang Anda pertaruhkan hanyalah drone."

Beralih ke drone komersil

drone komersil rev1
drone komersil rev1.jpg

Dalam minggu-minggu pertama perang, drone Bayraktar yang digunakan Ukraina sangat dipuji. Drone ini salah satunya berperan dalam penenggelaman kapal perang Moskva.

Namun banyak Bayraktar Ukraina yang dihancurkan sistem pertahanan udara Rusia.

"Mereka ini besar, relatif lamban, dan terbang hanya pada ketinggian sedang, dan itu yang membuat mereka mudah ditembak jatuh," jelas Dr Watling.

Harga drone militer sangat mahal. Satu unit Bayraktar TB2 berharga sekitar USD 2 juta atau sekitar Rp 29 miliar.

Atas dasar itulah kedua belah pihak yang berkonflik, khususnya Ukraina, beralih menggunakan drone model komersil dan kecil seperti DJI Mavic 3 yang harganya sekitar Rp 30 juta.

Drone komersil ini bisa memuat bom-bom kecil. Namun, mereka utamanya digunakan untuk melihat atau memantau pasukan musuh dan serangan langsung.

"Ukraina tidak memiliki amunisi sebanyak Rusia," jelas Dr Miron.

"Punya 'mata-mata di udara' untuk memantau target dan tembakan artileri langsung berarti mereka bisa menggunakan apa yang mereka punya dengan lebih baik."

Kendati demikian, drone komersil tidak sekuat drone militer. Jangkauan DJI Mavic hanya 30 kilometer dan hanya bisa terbang selama 46 menit.

Miron mengatakan Rusia menggunakan pertahanan radar untuk melawan drone militer dan perangkat elektronik untuk melawan drone komersil.

"Pasukan Rusia memiliki senapan Stupor, yang yang menembakkan gelombang elektromagnetik," ujar Miron.

Tembakan ini bisa menghentikan kemampuan kemampuan navigasi GPS drone komersil.

Pasukan Rusia juga menggunakan sistem online seperti Aeroscope untuk mendeteksi dan menginterupsi komunikasi antara drone komersil dan operator mereka. Mereka bisa menjatuhkan drone atau kembali ke pangkalannya dan bisa menghentikan drone mengirimkan kembali informasi.

Menurut laporan Rusi, rata-rata drone Ukraina hanya bertahan seminggu.

Pemasok dan harga drone

harga drone rev1
harga drone rev1.jpg

Rusia membeli drone militer Shahid dari Iran, menurut Gedung Putih.

Amerika Serikat (AS) memasok Ukraina dengan 700 drone militer "kamikaze" Switchblade. Drone ini dikemas dengan bahan peledak. Drone-drone ini berkeliaran di udara sampai mereka menemukan target mereka.

SpaceX, perusahaan milik Elon Musk, mengirimkan sistem komunikasi satelit Starlink ke Ukraina. Fungsinya untuk mengamankan pertukaran informasi antara drone komersial dan operator.

Sementara itu DJI berhenti memasok drone ke Rusia atau Ukraina.

Untuk membeli 200 unit drone militer, Ukraina menggalang dana publik. Pemenang Kontes Nyanyi Eurovision, Kalush Orchestra menjual pialanya seharga USD 900.000 atau sekitar Rp 13 miliar untuk membeli drone. Dana yang disumbangkan itu akan digunakan untuk membeli tiga drone PD-2 buatan Ukraina.

"Selain drone besar seperti (Bayraktar) TB2, mereka mencari drone kecil, alat pengintaian bersayap," jelas Watling. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel