Perang Ratusan Tahun, Awal Mula Israel Jajah Palestina

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pertempuran antara Israel dan Palestina masih terus terjadi di jalur Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem timur. Jumlah korban tewas akibat pertempuran yang dimulai 10 Mei lalu dilaporkan mencapai 217 orang di sisi Palestina, termasuk 63 anak-anak.

Sementara itu, Otoritas Israel mengatakan 12 orang telah tewas di Israel, termasuk dua anak. Israel mengatakan lebih dari 3.450 roket telah diluncurkan dari gaza, ribuan telah ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iron Dome. Sedangkan Israel membalas serangan udara ke Jalur Gaza selama berhari-hari.

Pertempuran antara Israel dan Hamas kali ini adalah paling serius dalam beberapa tahun. Perang antara Israel dan Palestina sendiri telah berlangsung selama puluhan tahun.

Lalu bagaimana awal konflik Israel dan Palestina?

Perebutan tanah di wilayah Timur Tengah antara Israel dan Palestina sudah berlangsung sejak Perang Dunia I. Awal mula Israel menduduki tanah Palestina dimulai ketika Inggris mengambil alih wilayah Timur Tengah, setelah Kesultanan Utsmaniyah kalah dalam Perang Dunia I. Wilayah itu ditempati oleh bangsa minoritas Yahudi dan bangsa mayoritas Arab.

Dilansir BBC, Ketegangan antara dua kelompok tersebut meningkat ketika masyarakat dunia menugaskan Inggris untuk mendirikan "rumah nasional" di Palestina bagi warga Yahudi. Bagi orang Yahudi, wilayah itu adalah tanah air leluhur mereka, tetapi warga Arab Palestina juga.

Antara tahun 1920-an hingga 1940-an, jumlah orang Yahudi yang datang ke wilayah itu bertambah. Banyak di antara mereka adalah orang Yahudi yang menyelamatkan diri dari persekusi Eropa dan mencari tanah air sesudah Holokaus Perang Dunia Kedua.

Kekerasan antara Yahudi dan Arab, dan aksi menentang kekuasaan Inggris, juga meningkat. Pada tahun 1947, PBB memutuskan wilayah Palestina dibagi menjadi dua negara terpisah bagi bangsa Yahudi dan bangsa Arab Palestina.

Adapun Yerusalem ditetapkan sebagai kota internasional. Pengaturan itu diterima oleh kalangan pemimpin Yahudi tetapi ditolak oleh bangsa Arab, dan kemudian tidak pernah diterapkan.

Karena tidak bisa menyelesaikan masalah, pada 1948 penguasa Inggris angkat kaki. Sehari sebelum mandat Inggris di Palestina berakhir, para pemuka Yahudi lalu mendeklarasikan pembentukan negara Israel pada pada 14 Mei 1948.

Banyak warga Palestina menolaknya dan kemudian pecah perang. Negara-negara Arab, seperti Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Arab Saudi, dan Yordania, menyatakan perang terhadap Israel dan melakukan penyerbuan.

Ratusan ribu warga Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai Al Nakba atau "Malapetaka". Namun perang berakhir dengan Israel yang dapat mengendalikan seluruh wilayah Palestina yang kemudian ditandai sebagai wilayah Israel.

Yordania menduduki wilayah yang kemudian menjadi Tepi Barat, dan Mesir menguasai Gaza. Yerusalem dibagi antara pasukan Israel di bagian Barat, dan pasukan Yordania di bagian Timur.

Karena tidak pernah ada perjanjian perdamaian, kedua belah pihak saling menyalahkan, terjadilah perang dan pertempuran selama puluhan tahun berikutnya.

Selama 50 tahun terakhir, Israel telah membangun permukiman di daerah-daerah itu yang kini ditempati oleh lebih dari 600.000 warga Yahudi.

Palestina menegaskan pembangunan itu melanggarar hukum internasional dan menjadi batu sandungan dalam perundingan perdamaian, tetapi Israel menepisnya.