Perang Tanding Antarwarga di Adonara Pecah

Kupang (ANTARA) - Perang tanding antarwarga Desa Redontena dan Adobala di Kecamatan Klubagolit, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu, kembali pecah mempersoalkan lahan garapan yang berada di batas wilayah kedua desa tersebut.

Wakil Kepolisian Polres Flores Timur Kompol David Yosef yang dihubungi dari Kupang, Rabu, membenarkan insiden perang tanding tersebut dan mengatakan pihaknya telah menerjunkan aparat kepolisian ke tempat kejadian perkara untuk mengamanankan situasi.

"Memang situasi di dua desa masing-masing Adobala dan Redontena sudah mulai memanas dan kita telah kirimkan pasukan ke tempat kejadian perkara tadi pagi," kata David.

Hingga saat ini, kata dia, belum ada informasi korban jiwa dalam perang tanding tersebut.

Dia mengatakan, pecahnya perang tersebut, dipicu oleh masalah lahan garapan yang berada di batas wilayah kedua desa tersebut.

Dikataknnya, persoalan itu, merupakan persoalan lama yang sudah menjadi sejarah pertarungan dua desa tersebut.

Kompol David menambahkan pada tahun 1952 perang tanding antarwarga kedua desa tersebut pernah terjadi dengan titik pangkal persoalan yang sama.

Pada 1982, kasus tersebut kembali mengemuka sehingga memicu perang tanding yang mengakibatkan dua orang warga Desa Adobala tewas terbunuh.

"Dan kali ini pecah lagi dan sudah kami kirimkan pasukan ke TKP untuk mengamankan situasi," kata David.

Ia menambahkan hingga saat ini, kondisi dan situasi di tempat kejadian masih bisa dikendalikan oleh aparat kepolisian yang diterjunkan ke lokasi tersebut.

"Situasi dan kondisi di TKP masih bisa kita kendalikan," kata mantan Kasat Intelkam Polres Lembata itu.

Kendati begitu, lanjut dia, aparat kepolisian yang diterjunkan masih terus mewaspadai kondisi di sana, karena bukan tidak mungkin akan meluas ke sejumlah daerah lain.

Seorang warga Adonara Daniel Dile Boli, yang dihubungi dari Kupang, mengaku telah mendengar bunyi letusan senjata rakitan di dua desa itu sudah terjadi sejak Selasa (4/6) sore.

"Hingga pagi ini masih juga terdengar letusan senjata rakitan tersebut," katanya.

Dia mengaku, aparat kepolisian dari Polres Flores Timur sudah terlihat berjaga di tempat kejadian perkara.

Seorang warga Desa Adobala Ama Ronga yang dihubungi dari Kupang mengatakan, telah terjadi tembak-menembak antara warga dua desa tersebut sejak Selasa.

Kondisi itu, lanjut dia, telah menimbulkan korban peluru nyasar masing-masing Regina (45) yang sedang menggendong anaknya Mercy (2).

"Regina terkena peluru di betis bagian kanan dan Mercy mengalami luka di bagian kepala. Kedua korban telah dilarikan ke Puskesmas Bale di Pepak," katanya.

Dia juga mengaku, sejumlah atap rumah hancur akibat tembakan-tembakan tersebut.

Dalam tradisi orang Adonara, untuk menentukan sebuah kebenaran atas kepemilikan tanah, hanya dapat dibuktikan lewat perang tanding.

Siapa yang menjadi korban atau tewas dalam perang tersebut berarti bukan pemilik sah atas lahan tersebut.

Namun, perang dengan menggunakan senjata api rakitan saat ini, bukanlah ciri orang Adonara yang sebenarnya. Senjata yang digunakan adalah parang dan tombak serta busur dan anak panah.(rr)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.