Perang Ukraina: pariwisata internasional terkapar akibat "hilangnya" para pelancong dari Rusia

Destinasi pariwisata global turut terkena dampak dari Perang Rusia dan Ukraina. Sanksi ekonomi membuat warga Rusia tak bisa bepergian, dan dampaknya terhadap pariwisata internasional bisa berkepanjangan.

Gerakan mereka menjadi terbatas seiring dengan aksi negara-negara Eropa yang berbatasan langsung dengan Rusia untuk melarang masuknya turis dari Negara Beruang Merah tersebut.

Ini menjadi masalah karena, sebelum pandemi, wisatawan asal Rusia menempati peringkat tujuh dunia sebagai turis yang paling banyak mengeluarkan uang ketika melancong. Total dana yang dihabiskan turis Rusia bisa mencapai US$36 miliar (Rp 536 triliun) per tahunnya.

Ambil contoh destinasi Nha Trang di Vietnam, yang - sebelum perang pecah - berhasil menarik sejumlah besar wisatawan Rusia sampai-sampai dijuluki Little Russia (Rusia Kecil).

Wisata pantai tersebut berhasil pulih dengan cepat setelah terpaan pandemi berkat kembalinya pelancong asal Rusia. Rata-rata dari mereka menghabiskan US$1.600 selama kunjungannya ke Vietnam, hampir dua kali lipat jika dibandingkan wisatawan asing lain yang umumnya mengeluarkan US$900.

Kini, hotel-hotel kelas atas di Vietnam yang sebelumnya dibanjiri wisatawan Rusia, hampir-hampir kosong atau bahkan telah dijual. Bisnis pemandu wisata di sana pun turut terdampak.

Nha Trang tak sendirian.

Resor, toko-toko, dan bazaar di Phuket, Thailand, mestinya ramai dengan pengunjung dari Rusia. Namun, industri perhotelan di negara tersebut dirundung ketidakpastian setelah banyak warga Rusia membatalkan liburan mereka ketika maskapai negaranya terpaksa menghentikan penerbangan ke Phuket pada Maret 2022. Walaupun Thailand tidak memberlakukan sanksi ekonomi ke Rusia, ini terjadi karena adanya pembatasan perjalanan udara di skala internasional dan karena perusahaan pembayaran Visa dan Mastercard membatasi operasi mereka.

Sebelum pandemi berlangsung, angka kedatangan asing mewakili 59% total kedatangan di bandar udara Phuket. Angka ini terpangkas menjadi 35% pada semester pertama 2022, saat wabah mulai surut dan orang-orang mulai bepergian.

Resor-resor di berbagai belahan dunia, mulai dari Sharm el-Sheikh di Mesir hingga Varadero di Kuba, mengalami kerugian ekonomi akibat rendahnya tingkat okupansi. Akibatnya, banyak dari mereka yang melakukan pemutusan hubungan kerja, mengalami kebangkrutan hingga tersungkur pemasukannya.

Hilangnya pengunjung

Turki menarik tujuh juta pengunjung dari Rusia ke destinasi-destinasi wisatanya, seperti resor Mediterania di Anatolia, pada 2019. Anatolia merupakan tujuan populer bagi pelancong Rusia karena pantai-pantainya, paket wisata lengkap, dan visa kedatangan yang relatif mudah diperoleh. Kota tersebut menyambut lebih dari 3,5 juta wisatawan Rusia pada 2021.