Perayaan Hari Guru di Afghanistan Lesu, Pengajar Tak Digaji 3 Bulan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Kabul - Dunia merayakan Hari Guru Sedunia pada 5 Oktober 2021. Sayangnya, sukacita yang sama tak bisa dirasakan guru di Afghanistan.

Tenaga pengajar di negara yang dikuasai Taliban itu justru sedang kesulitan finansial. Ada sejumlah guru yang mengaku tiga bulan tak digaji. Kondisi ekonomi Afghanistan saat ini memang belum stabil.

Dilaporkan Tolo News, Rabu (6/10/2021), cerita guru yang belum digaji itu datang dari ibu kota Kabul.

"Ini adalah situasi yang sangat sulit sebagai guru yang makanan dan pakaiannya berasal dari gaji," ujar seorang guru bernama Sayed Rasool Karimi.

Akses belajar untuk anak perempuan kini juga tidak jelas. Masalah lainnya adalah guru-guru perempuan yang kesulitan mengajar sejak Taliban berkuasa, padahal gelar mereka mumpuni.

"Saya kecewa karena mereka yang telah bekerja keras dan bahkan mendapatkan gelar master tidak bisa bekerja dan mengajar," ujar guru bernama Saeda Sadat.

Kementerian Pendidikan Afghanistan telah mengirim ucapan selamat hari guru sedunia, dan berjanji menuntaskan masalah yang ada.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Taliban Umumkan 38 Pejabat Baru, Tak Ada Satupun Perempuan

Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu. (AP Photo/Zabi Karimi)
Pejuang Taliban menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, Afghanistan, Minggu (15/8/2021). Taliban menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan setelah Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu. (AP Photo/Zabi Karimi)

Taliban menggandakan ketahanan pemerintahan mereka pada Senin (4/10) dengan penunjukan pejabat baru yang mencakup sejumlah orang dan ditunjuk untuk posisi wakil, kata seorang juru bicara Taliban.

Tak satu pun perempuan dari 38 penunjukan pejabat baru yang diumumkan oleh kepala juru bicara Zabihullah Mujahid, demikian dikutip dari laman AP News, Selasa (5/10).

Mereka terdiri dari anggota yang seluruhnya diambil dari Taliban dengan sedikit perwakilan dari kelompok minoritas.

Penunjukan tersebut merupakan indikasi terbaru bahwa pemerintah Taliban tidak berniat mengindahkan kondisi dari masyarakat internasional bahwa pengakuan formal atas kekuasaan mereka akan bergantung pada perlakuan mereka terhadap perempuan dan kelompok minoritas.

Namun, Taliban mencari dukungan internasional saat mereka bergulat dengan tantangan menakutkan ekonomi di ambang kehancuran, kekeringan dan ancaman keamanan yang berkembang dari kelompok ISIS.

Di antara penunjukan baru adalah wakil politik untuk perdana menteri, wakil menteri, dan wakil kepala Bulan Sabit Merah Afghanistan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel