Perbaiki Pola Ifthar-mu, Sehatkan Ramadhan-mu

Syahdan Nurdin, NaylaAulia
·Bacaan 3 menit

VIVA – Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh perjuangan bagi umat islam. Baik berjuang menahan lapar, dahaga dan segala yang membatalkannya. Di balik semua itu Allah menyediakan berkah yang melimpah sebagai balasan atas semua perjuangan itu.

Kedatangan bulan Ramadhan selalu disambut gembira oleh berbagai kalangan manusia, terkhusus para pedagang. Bisa dilihat betapa para pedagang berlomba-lomba menawarkan dagangannya dengan berbagai inovasi baru guna meraup keuntungan lebih.

Berbisnis di bulan Ramadhan memang memiliki peluang laris yang besar, apalagi bisnis dalam bidang kuliner. Maka, tak jarang trotoar berubah menjadi lapak yang ramai ketika bulan suci ini datang. Aneka jenis makanan dan minuman tersedia mulai harga ekonomis, hingga harga yang fantastis. Tak jarang banyak manusia yang beralih profesi menjadi pedagang selama Ramadhan karena besarnya peluang di dalamnya.

Fenomena seperti ini terkadang membuat manusia kalap saat berbuka puasa. Ibarat balas dendam setelah seharian menahan lapar dan dahaga, sehingga muncullah sifat rakus saat berbuka, mereka makan secara berlebihan dengan makanan yang beraneka ragam. Padahal, berbuka secara berlebihan bisa mendatangkan banyak mudharat. Salah satunya ialah penyakit disepsia.

Disepsia merupakan penyakit yang menyerang lambung. Gilansir dari web doktersehat.id, Dispepsia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan ketidaknyamanan pada perut bagian atas.

Istilah ini mengacu pada sekelompok gejala yang sering muncul seperti perut kembung, mual, hingga bersendawa. Dalam sebagian besar kasus, kondisi ini terkait dengan makanan atau minuman yang dikonsumsi berlebih.

Pada saat manusia mengonsumi makanan, makanan itu akan dicerna di usus halus terlebih dulu, baru jika ada makanan yang tidak mampu diolah oleh usus halus, maka akan disalurkan ke usus besar. Di sini, makanan akan melalui proses fermentasi oleh bakteri.

Proses ini kemudian menghasilkan gas. Semakin banyak dan bervariasi makanan yang dikonsumsi, semakin berat kerja usus besar. Kondisi ini bisa menyebabkan begah, mual dan nyeri, atau disebut disepsia. Dalam kondisi parah, disepsia bisa menimbulkak sesak napas dan nyeri ulu hati.

Berbuka secara berlebihan juga bisa mengganggu pelakunya saat sembahyang, karena perut terasa penuh oleh makanan. Selain itu, makan berlebih juga bisa mendatangkan rasa kantuk dan malas. Dilansir dari Kompas, Dokter Eliasa menyebutkan bahwa saat makan organ yang Organ yang paling aktif organ pencernaan, sehingga jantung, otak sedikit kekurangan oksigen.

Jantung yang harusnya bisa memompa oksigen ke otak pun jadi kurang optimal, sehingga oksigen yang mengalir ke otak pun berkurang, maka timbullah rasa kantuk. Rasa kantuk ini tentu berbuntut panjang pada rasa malas untuk beribadah. Jika iman seseorang kuat, maka ia pasti akan mencari cara untuk menyingkirkan kantuk itu.

Namun jika tidak ia tentu akan kalah dengan nafsunya itu sehingga ibadah sunah saat Ramadhan tidak maksimal. Padahal, pada bulan Ramadhan, Allah menyediakan bonus besar-besaran untuk hamba-Nya yang berlomba-lomba mencari kebaikan.

Maka, saat Ramadhan muslim bukan hanya harus memperhatikan ibadahnya, tapi juga pola makannya. Keduanya harus imbang satu sama lain. Ibadah untuk konsumsi rohani, dan makan untuk konsumsi jasmani. Jika jasmani sehat, maka ibadah tentu akan terasa nyaman.

Pola sehat untuk berbuka puasa sendiri telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW. Disebutkan bahwa ketika waktu buka tiba, ia menyegerakan diri berbuka dengan tiga butir kurma dan air putih lalu ia mendirikan salat.

Hal ini ada benarnya juga, berbuka dengan langsung mengonsumsi makanan berat (Baca: Mengandung kadar lemak dan gula tinggi) tidak sehat untuk pencernaan, bayangkan saja perut seharian tidak menerima masukan apapun, tiba-tiba harus mencerna makanan seberat itu. Konsumsi air putih dan buah-buahan yang berserat tinggi dalam juga bisa menjadi pililan selama ramadan, karena bisa memulihkan tenaga secara optimal guna mempersiapkan diri untuk berpuasa di esok harinya.

Air putih mengandung mineral dan chloride yang bermanfaat bagi kerja lambung serta meningkatkan kerja usus dan produksi asam empedu dalam mengolah makanan, sehingga sistem pencernaan menjadi lebih efektif.

Sistem ini tentu akan lebih optimal jika dibarengi dengan makanan yang berserattinggi. Dilansir dari Republika, seorang pakar gizi Dr Samuel Oetor SpGK menyebutkan bahwa sesungguhnya bukan hal yang sulit. Kendati puasa mengakibatkan perubahan pola makan dan minum, bukan berarti puasa sama dengan mengurangi asupan gizi harian. Idealnya, selama puasa laki-laki tetap membutuhkan 1.800 hingga 2.500 kalori per hari.

Sementara perempuan 1.500 sampai 2.000 kalori setiap harinya. Karena itu, meski berpuasa manusia disarankan tetap melahap sayur dan buah delapan sampai 10 porsi setiap hari.