Perbedaan "genderless fashion" dan "androgynous fashion" menurut pakar

·Bacaan 2 menit

Menurut Desainer Musa Widyatmodjo, genderless fashion merupakan istilah yang menggambarkan produk-produk fesyen yang tidak dikhususkan ke satu gender saja.

"Genderless fashion itu menurut saya sih istilah baru ya. Mungkin sekitar lima tahun terakhir ini deh istilah itu timbul. Sebenarnya istilah ini menggambarkan produk-produk fesyen yang tidak menuju ke satu gender saja," kata Musa saat dihubungi ANTARA, Rabu (20/4).

Baca juga: Versace tampilkan kesetaraan gender di pekan mode Milan

"Jadi produk-produk fesyen yang memang mungkin kalau dulu itu kita mengenal kata unisex. Jadi produk yang memang netral dan memang bisa dipakai oleh pria dan wanita. Kemudian mungkin karena manusia sifatnya pembaharuan, kemudian perbaikan, sehingga timbul istilah genderless fashion," tambahnya.

Di sisi lain, dikutip dari Fashinnovation, istilah genderless fashion merupakan kebebasan cara berpakaian yang lebih nyaman, tanpa dibatasi oleh gender tertentu. Tren ini sebenarnya telah muncul di awal abad ke-20. Akan tetapi, gerakan fesyen tersebut mulai menguat beberapa tahun terakhir.

Billy Porter (Shutterstock)
Billy Porter (Shutterstock)


Lebih lanjut, Musa menjelaskan bahwa genderless fashion tak sama dengan istilah androgyny atau androgynous fashion. Dia memaparkan bahwa androgyny sebenarnya istilah untuk menggambarkan karakter seseorang dimana secara gender dia adalah wanita, namun memiliki penampilan seperti pria.

"Sebenarnya nggak ada istilah androgynous fashion. Yang ada itu istilahnya androgyny. Nah androgyny itu sebetulnya awalnya bukan untuk menggambarkan fesyen," kata Musa.

"Itu untuk menggambarkan karakter seseorang yang secara kelamin dia adalah wanita. Tetapi secara look-nya dia penggabungan antara pria dan wanita gitu. Jadi sama saja. Kalau dia pria, tapi penampilannya agak sedikit cantik gitu ya," pungkasnya.

Namun menurut Musa, tren pakaian ini masih tabu di Indonesia meskipun beberapa influencer maupun artis telah mengenakannya. Sebab fesyen di Indonesia memiliki ikatan yang kuat dengan masa lalunya.

"Perlu dipahami bahwa sebetulnya fesyen di Indonesia itu produk yang mengikat kepada masa lalunya itu kuat sekali," ujar Musa.

"Jadi kalau fesyen yang berhubungan ke masa depan, itu sesuatu yang sifatnya androgyny atau genderless atau apa pun, itu dianggap sebagai sesuatu yang mungkin tabu, sesuatu yang masih perlu disosialisasikan, juga perlu persepsi yang baik dan benar," lanjutnya.

Terakhir, Musa pun menegaskan bahwa sebenarnya, fesyen dan gaya hidup merupakan dua hal yang berbeda. Selain itu, fesyen dan identitas seksual seseorang juga adalah hal yang berbeda. Sehingga, hal ini pun perlu diketahui oleh masyarakat.

"Fesyen itu beda dengan gaya hidup. Atau dengan identitas seksualitas mereka," tutupnya.


Baca juga: Di Hari Kartini, Burberry sajikan kekuatan adaptasi perempuan

Baca juga: Buruh gendong Beringharjo, sehari mencicipi arena "catwalk"

Baca juga: Museum V&A Inggris akan hadirkan pameran evolusi busana laki-laki

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel