Perbedaan Pengalaman Jalani Ramadan di Kampung, Perantauan, dan Pandemi

·Bacaan 7 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Cicin Yulianti

Satu kata yang identik dengan suasana Ramadan, yakni kehangatan. Ya, semua umat muslim mungkin setuju jika Ramadan merupakan momen yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga maupun teman. Saya salah satu orang yang senang menyambut bulan Ramadan karena di bulan istimewa ini saya bisa menggelar silaturahmi yang lebih sering dibanding hari-hari biasa.

Mulai dari menyambut senyum hangat ibu ketika membangunkan saya sahur, ajakan bapak untuk pergi ngabuburit, hingga canda tawa yang dilontarkan oleh teman ketika menuju ke masjid untuk tarawih. Namun sayang, di usia saya yang sudah menginjak kepala dua ini, rasanya kehangatan-kehagantan tersebut sudah terkikis dimakan oleh waktu. Momen-momen tersebut seolah tidak terulang kembali.

Ramadan di Kampung

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Hafizussalam
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Hafizussalam

Menjadi anak kampung di salah satu pedesaan Bandung Barat, merupakan salah satu hal yang saya syukuri. Mungkin banyak teman saya yang berasal dari kota menganggap orang kampung itu “serba ketinggalan”. Walaupun saya membenarkan hal tersebut, tetapi ada suasana di kampung yang tak bisa dibeli oleh warga perkotaan. Justru, karena keterbatasan fasilitas teknologi tersebut, kami menjadi lebih menghargai sebuah kebersamaan.

Dahulu, saat mendapatkan tugas mengisi agenda harian Ramadan, mungkin beberapa anak yang berasal dari kota bisa dengan mudah mengakses siaran televisi atau internet untuk mendengarkan streaming ceramah dari ustadz. Sedangkan saya dan anak-anak lain yang berasal dari kampung, terpaksa harus berangkat subuh ke mesjid untuk mendengarkan ceramah dari ustadz.

Dengan demikian, kami bisa mendapatkan materi untuk ditulis di agenda harian sekaligus mendapatkan tanda tangan ustadz. Perjuangan pergi ke masjid saat itu rasanya cukup berat dan membosankan. Setiap selepas sahur, kami harus segera wudu dan bersiap-siap walaupun mata kami seperti menolak untuk diajak berangkat. Meski begitu, kami mendapatkan pelajaran tentang menghargai sebuah ilmu. Perjuangan berangkat subuh-subuh tersebut menjadikan apa yang kami dapat dari ustaz harus benar-benar kami implementasikan, bukan hanya dituliskan.

Hal tersebut mengingatkan saya tentang perjalanan menuntut ilmu dari Imam Syafi’i. Begitu luar biasanya perjuangan-perjuangan yang dilakukan beliau agar bisa menuntut ilmu. Bukan hanya berguru dari satu guru ke guru lain di kota Makkah, tetapi beliau bepergian ke luar kota untuk bertemu dengan guru-guru baru. Hasilnya memang tidaklah sia-sia. Beliau mampu meregenerasikan ilmu yang ia dapat hingga ke kehidupan kita hari ini.

Saya sangat kagum terhadap beliau akan semangat dalam menuntut ilmunya walaupun saat itu terbatas kendaraan ataupun alat tulis. Perjalanan beliau cukup menampar keadaan saya saat ini. Di mana fasilitas dan akses untuk menggali banyak ilmu sudah sangatlah mudah, tetapi dengan banyaknya akses teknologi ini malah sebaliknya, menjadi bumerang. Saya merasa tidak usah pergi beguru ke ustaz untuk langsung merasakan kemuliaan dari sebuah ilmu. Bahkan mungkin, saya lebih banyak mengakses internet hanya untuk scrolling media sosial ketimbang menonton kajian-kajian dari ustaz.

Hal lain yang selalu membuat saya merasa hangat ketika menjalankan puasa di kampung adalah soal kekompakkan warganya. Selain tarawih berjamaah di masjid, di sini selalu diselenggarakan pawai obor keliling kampung untuk menyambut bulan Ramadan. Mulai dari menyiapkan atribut pawai, menyediakan konsumsi bagi peserta, hingga melantunkan solawat kami lakukan dengan hati yang tulus. Tak ada warga yang merasa terbebani harus memasak makanan, mengambil bambu ke hutan, atau mengumpulkan massa untuk menyambut bulan Ramadan ini. Sebelum Ramadan dimulai pun, kebersamaan tersebut sudah bisa dirasakan.

Ramadan di Perantauan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio

Sebuah keputusan yang cukup berani bagi saya yang tergolong ‘anak mami’, yakni menempuh kuliah di perantauan. Pilihan saya mengambil jurusan Jurnalistik di Universitas Padjadjaran memanglah impian saya. Akan tetapi, hati kecil berkata bahwa saya tidak mengharapkan harus jauh dari orang tua. Terlebih ketika memasuki bulan Ramadan di tahun 2018, saya harus sahur sendirian, buka puasa sendirian, bahkan tarawih sendirian di indekos. Terkadang rasa kesepian sangat terasa ketika satu hari saya tidak menelepon orang tua atau keluarga di kampung.

Kehangatan yang selama berbelas-belas tahun terasa di kampung, sekejap hilang. Meski begitu, saya bersyukur karena masih ada teman-teman kampus yang sama seperti saya, merasa kesepian. Perasaan seragam yang mahasiswa rantau rasakan ini menjadikan kami lebih kompak ketika menjalankan ibadah puasa di perantauan.

Kala sahur tak ada suara ibu yang biasanya terdengar untuk membangunkan, di sini kami harus saling mengingatkan. Kebiasaan baru saya selama Ramadan di perantauan adalah menelepon teman-teman yang selalu telat bagun sahur. “Eh jangan lupa bangunin aku nanti subuh ya,” ucap teman-teman kepada saya yang selalu bangun lebih awal dibanding mereka.

Pelajaran berharga selama menjalankan ibadah puasa di perantauan membuat saya menjadi mandiri. Termasuk mandiri mengontrol emosi. Jika di rumah saya selalu diingatkan untuk tidak lupa sholat dan tilawah, di perantauan saya dituntut untuk sadar betul tentang tanggung jawab terhadap diri. Keterbatasan selama puasa di sana ternyata menjadi hal yang bisa saya syukuri juga, karena dengan begitu, banyak keputusan sederhana yang saya lakukan. Misalnya berbagi menu buka puasa dengan teman atau sahur dengan menu seadanya.

Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Color4260
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Color4260

Kebersamaan Ramadan yang luput akibat pandemi covid-19 ini tentunya membawa masyarakat muslim bersedih hati karena tak bisa melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Bahkan, di sepuluh malam terakhir pun, para ikhwan tidak bisa beritikaf di masjid. Padahal, dalam satu riwayat dijelaskan bahwa itikaf lebih utama dilakukan di masjid. Itikaf di mesjid bisa membuat ibadah lebih khusyuk dan termasuk ibadah sunah karena dikerjakan pula oleh Rasulullah SAW.

Walaupun di momen Ramadan selama pandemi ini saya berada di kampung, nuansanya sangatlah berbeda. Tak ada lagi ajakan kawan untuk berangkat bersama ke masjid atau pergi ngabuburit.

Ibadah hanya dilakukan terbatas dari rumah saja. Namun apa boleh buat, qodarullah, mungkin musibah pandemi ini Allah berikan bukan untuk membuat kita terus-menerus bersedih, namun mengingatkan kita untuk semakin mendekat kepada-Nya. Juga, hikmah lainnya adalah kita menjadi lebih peduli terhadap kebersihan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR. Tirmidzi)

Hati saya berkata senang bisa berpuasa di rumah, tetapi saya juga sedih karena tak bisa berpuasa dengan teman di kampus. Terutama, hal yang paling membuat saya sedih adalah tidak bisa melakukan aktivitas sosial di luar. Banyak hal yang sudah saya lewati selama satu tahun terakhir ini. Akan tetapi, sekali lagi saya merasa bersyukur karena walaupun bertemu secara virtual, saya dan teman-teman kampus masih bisa bertegur sapa. Sebagai mahasiswa, mengikuti organisasi adalah salah satu jalan keluar dari kejenuhan selama di rumah. Terlebih di bulan Ramadan ini, saya dan teman organisasi disibukkan dengan persiapan acara webinar, galang dana, hingga kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Dari beberapa pengalaman di atas, saya menjadi mengerti bagaimana keterbatasan bisa menjadikan saya bersyukur. Esensi utama dari berpuasa adalah merasakan bagaimana menahan lapar seperti orang-orang yang tidak bisa memenuhi dahaga dan laparnya seperti kita. Selain itu, Ramadan di tengah keterbatasan ini juga membuat saya semakin menjadi mandiri. Saya banyak belajar tentang arti sederhana dalam berbuka, tidak menghabiskan uang untuk datang ke buka bersama, hingga menahan nafsu untuk tidak banyak membicarakan orang. Minimnya kesempatan bertemu teman menjadikan halangan saya untuk tidak lagi banyak membicarakan orang lain.

Salah satu hal penting lain dari keterbatasan berpuasa di tengah pandemi ini adalah introspeksi diri. Banyak dimensi yang bisa kita introspeksi dari musibah ini. Mulai dari aspek fisik. Kita harus senantiasa mengonsumsi makanan sehat supaya tidak mudah terkena penyakit maupun virus covid-19. Imunitas yang baik menjadi pertahanan kuat agar kita bisa terhindar dari covid-19 dan menjadikan kita lebih berstamina dalam menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, ada juga aspek rohani. Berpuasa di tengah covid-19 ini membuat kita menjadi semakin berfokus dalam menuntut ilmu agama di rumah. Juga , membuat kita lebih aware untuk mengisi kebutuhan spiritual dengan memperbanyak beribadah dan bedoa agar terhindar dari virus mematikan tersebut.

#ElevateWomen