Perbedaan Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi, Berikut Penjelasannya

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi perlu dikenali. Sebagai cara menentukan apakah seseorang terinfeksi virus Corona atau tidak, kamu bisa menggunakan rapid test antigen atau rapid test antibodi ini, di samping melakukan tes PCR.

Jika kamu memiliki gejala COVID-19, seperti demam, batuk, dan sesak napas, sebaiknya kamu memeriksakan diri ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan COVID-19. Masyarakat Indonesia cukup familiar dengan rapid test dan swab test PCR, yang lazim dilakukan di masa new normal.

Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi salah satunya berkaitan dengan keakuratannya. Selain itu, kedua jenis rapid test tersebut juga memiliki perbedaan pada objek yang diperiksa. Kamu perlu memahami tentang kedua jenis rapid test ini, beserta tes PCR atau swab.

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (18/12/2020) tentang perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi.

Rapid Test Antigen

Rapid Test Antigen (Liputan6.com / Nefri Inge)
Rapid Test Antigen (Liputan6.com / Nefri Inge)

Perbedaan rapid test antigen dan rapid tes antibodi perlu benar-benar dipahami. Sesuai namanya, hasil rapid test bisa langsung diketahui dalam waktu yang singkat, biasanya hanya sekitar beberapa menit atau paling lama 1 jam untuk menunggu hasil pemeriksaan keluar.

Untuk memahami tentang rapid test antigen, kamu perlu mengenali apa itu antigen terlebih dahulu. Antigen merupakan suatu zat seperti racun, kuman, atau virus, yang dapat masuk ke dalam tubuh. Virus Corona yang masuk ke dalam tubuh akan terdeteksi sebagai antigen oleh sistem imunitas. Antigen ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan rapid test antigen.

Rapid test antigen untuk virus Corona dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan melalui proses swab. Pemeriksaan ini perlu dilakukan paling lambat 5 hari setelah munculnya gejala COVID-19 agar hasilnya lebih akurat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan rapid test antigen virus Corona memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan rapid test antibodi. Akan tetapi, pemeriksaan rapid test antigen dinilai belum seakurat tes PCR untuk mendiagnosis COVID-19.

Rapid Test Antibodi

Proses Rapid Test COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Proses Rapid Test COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Rapid test antibodi ini merupakan yang paling awal muncul. Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibodi bisa kamu kenali dengan memahami juga tentang rapid test antibodi.

Antigen, termasuk virus Corona, yang masuk ke dalam tubuh dapat terdeteksi oleh sistem imunitas tubuh. Setelah antigen terdeteksi, sistem imun akan memproduksi antibodi untuk memusnahkannya.

Keberadaan antibodi untuk membasmi virus Corona bisa dideteksi melalui rapid test antibodi. Rapid test ini bertujuan melihat antibodi atau respons tubuh terhadap infeksi COVID-19. Antibodi yang dipicu COVID-19 terbentuk dalam 5 hingga 7 hari setelah terinfeksi. Sayangnya, tes ini memiliki tingkat akurasi yang rendah dalam mendeteksi keberadaan virus Corona di dalam tubuh.

Perbedaan Rapid Test Antigen dan Rapid Test Antibodi

Perbedaan rapid test antibodi dan rapid test antigen bisa dilihat dari berbagai faktor. Perbedaan rapid test antibodi dan rapid test antigen yang pertama adalah sampel yang digunakan. Sampel yang digunakan pada rapid test antigen dan tes PCR menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan yang diambil melalui proses swab. Berbeda dengan rapid test antigen dan tes PCR, rapid test antibodi menggunakan sampel darah yang diambil dari ujung jari atau pembuluh darah.

Selain itu, rapid test bertujuan melihat antibodi atau respons tubuh terhadap infeksi COVID-19. Sementara itu, rapid test antigen untuk memeriksa protein virus. Jadi kalau rapid test antigen yang diperiksa antigennya, protein pada virusnya.

Perbedaan rapid test antigen dan rapid test antibody juga terletak pada tingkat keakuratannya. Rapid test antigen disebut lebih spesifik dari rapid test biasa karena yang diperiksanya pun lebih spesifik. Jika seseorang dinyatakan positif setelah rapid test antigen maka artinya ia benar-benar positif karena virusnya ada.

Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia (UI) Prof. dr., Amin Soebandrio. Ph.D, Sp.MK. menyatakan kalau rapid test antibodi tidak selalu ada virusnya.

“Di orang yang sembuh pun bisa reaktif, sudah tidak ada virusnya tapi rapid test-nya masih bisa reaktif. Kalau antigen, bisa dikatakan spesifitasnya 100 persen, artinya kalau dia reaktif, antigennya terinfeksi, dapat dipastikan PCR-nya juga positif, tapi sensitifitasnya lebih rendah dari PCR,” tutupnya.

Pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi keberadaan virus Corona yang paling akurat adalah tes PCR dengan tingkat akurasi mencapai 80–90%, sedangkan rapid test antigen memiliki tingkat akurasi sedikit di bawah tes PCR. Rapid test antibodi merupakan pemeriksaan dengan tingkat akurasi paling rendah, yaitu hanya sekitar 18%.