Perbedaan Timor Leste dengan Indonesia, Kompetisi Tetap Berjalan Saat Pandemi COVID-19

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Makassar - Ketika kompetisi sepak bola Indonesia masih terkendala izin dari kepolisian dengan alasan angka kasus positif corona dan pandemi COVID-19 masih tinggi, sejumlah negara di Asia Tenggara bersiap memutar roda kompetisi musim 2021. Satu di antaranya Timor Leste yang menggelar Liga Futebol Professionel, atau Liga Timorense pada April sampai September. Kemudian berlanjut dengan digelarnya dua turnamen, Copa FFTL dan Copa Taca 12 de Novembro.

Hal tersebut diungkapkan oleh Armand Mial, pelatih Dili Institute of Technology (DIT) FC yang berkiprah di Liga 1-nya Timor Leste. Ketika dihubungi Bola.com, Rabu (3/2/2021), Armand menyebut komitmen serta kesepahaman kuat antara federasi sepak bola dan pemerintah, izin penyelenggaraan kompetisi dari kepolisian sudah turun.

Liga 1 di Timor Leste akan diikuti 10 klub, dari yang sebelumnya 8 klub pada musim lalu. Rinciannya enam klub yang bertahan di kasta tertinggi plus empat klub baru, masing-masing dua klub promosi dari kasta kedua, dan dua lainnya diambil dari play-off antara dua tim degradasi musim 2019 dengan peringkat dua Grup A dan Grup B.

Sejak Senin (1/2/2021), tim asuhan Armand sudah menggelar persiapan menghadapi musim yang baru.

"Latihan sementara dipimpin dua asisten saya, Alexandre F.X Cham dan Jacinto. Mereka menangani pemain-pemain musim lalu yang dipertahankan. Saya sendiri menunggu tiket dan izin masuk Timor Leste yang tengah diurus manajemen tim," ujar Armand.

Musim lalu, Armand berhasil membawa DIT FC menembus semifinal Copa Taca 12 de Novembro yang merupakan hasil terbaik tim itu selama ini. Padahal, mereka tidak menggunakan jasa pemain asing. Itulah mengapa DIT FC memutuskan mempertahankan Armand sebagai pelatih.

Menghadapi persaingan musim ini yang menerapkan sistem degradasi, manajemen DT FC dipastikan memakai tiga pemain asal Papua.

"Kalau yang saya tahu baru dua nama, yakni Fendri Imbiri (penyerang) dan Gilbert Dwanamury (gelandang). Sebenarnya mereka sudah bergabung pada tahun lalu, tapi karena tidak ada degradasi, manajemen memutuskan memaksimalkan pemain lokal," ujar Armand.

Stadion Dipadati Penonton

Dili Institute of Technology (DIT) FC yang berkiprah di Liga Futebol Professionel atau Liga Timorense. (Bola.com/Abdi Satria)
Dili Institute of Technology (DIT) FC yang berkiprah di Liga Futebol Professionel atau Liga Timorense. (Bola.com/Abdi Satria)

Tahun lalu, Federasi Sepak Bola Timor Leste tidak memutar liga, tapi menggelar dua turnamen reguler, yakni Copa FFTL dan Copa Taça 12 de Novembro.

Dengan memakai format atau sistem gugur, maka klub yang meraih trofi juara memainkan pertandingan sampai 7 kali di Copa FFTL dan 5 kali di Copa Taça 12 November.

"Dalam setiap laga, stadion selalu dipadati penonton malah sampai di pinggir lapangan," kata Armand.

Protokol kesehatan di Timor Leste terbilang sedikit lebih longgar. Penonton hanya diminta menggunakan masker saat menyaksikan tim kesayangannya bertanding.

"Kami yang berada di lapangan tetap seperti laga normal. Seperti bersalaman sebelum dan sesudah pertandingan," ujarnya.

Boavista FC Jor-joran Beli Pemain

Ferdinand Sinaga mencetak tiga gol saat PSM Makassar mengalahkan Lalenok United pada play-off Piala AFC 2020 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar. (Bola.com/Abdi Satria)
Ferdinand Sinaga mencetak tiga gol saat PSM Makassar mengalahkan Lalenok United pada play-off Piala AFC 2020 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar. (Bola.com/Abdi Satria)

Armand menambahkan peta persaingan musim ini diprediksi bakal ketat. Pada bursa pemain yang sedang berjalan, klub Boavista yang paling agresif mendatangkan pemain, termasuk Ferdinand Sinaga yang dipinjam dari PSM Makassar. Mereka juga merekrut pemain timnas Timor Leste.

Sementara Lalenok United, peraih dua trofi juara musim lalu sekaligus menjadi wakil Timor Leste di Piala AFC 2021 memilih mempertahankan mayoritas pemainnya pada musim lalu.

Boavista akan berburu trofi jura dengan klub elite lainnya yang bermarkas di Stadion Municipal Dili seperti Karketu Dili, SLB Laulara, Lalenok United dan Assalam FC.

"Kalau kami (DIT FC) dianggap tim kuda hitam. Meski tak dibebani target juara, kami akan berusaha keras meraih hasil optimal musim depan," pungkas Armand.

Video