Percaya Atau Tidak, Ternyata Ada Merpati Seharga 1 M

Dian Lestari Ningsih, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA - Merpati dikenal sebagai burung pengantar surat. Hal tersebut dikarenakan, merpati bisa terbang di ketinggian 6000 kaki atau lebih. Itu sebab di Indonesia dikenal pula dengan nama Merpati Pos. Istilah yang identik dengan kantor Pos dan Giro, atau PT Pos Indonesia sekarang.

Merpati juga dapat terbang dengan kecepatan rata-rata hingga 77,6 mph tetapi telah tercatat terbang dengan kecepatan 92,5 mph. Merpati pun mampu terbang sejauh 600 hingga 700 mil dalam satu hari. Berarti, Merpati membutuhkan waktu 55 hari untuk mengirim surat dari Afrika menuju Inggris dan menempuh jarak 7000 mil.

Dari ketertarikan ini, saya sempat membuat konten video reportase versi YouTube dari kios merpati Mas Budi, di perumahan Wismajaya, Kelurahan Durenjaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Saya sempat berbincang-bincang sekitar bagaimana melatih, memelihara dan penjualan merpati kolong yang harganya puluhan juta rupiah dan merpati jayabaya bahkan Rp1 miliar.

Balapan Burung Merpati

Selain pengantar surat, juga ada balap burung merpati. Kegiatan ini merupakan salah satu olahraga tradisional di Indonesia terutama di pulau Jawa. Menurut mas Budi, ada banyak juga jenis perlombaan, seperti merpati kolong bebas, merpati kolong mega, merpati ketomprang, merpati balap, dan lain sebagainya.

Merpati dikenal pula sebagai burung yang cerdas. Mungkin kecerdasan dan kelebihan yang dimilikinya, seekor merpati balap di Indonesia telah dijual seharga Rp1 miliar. Merpati ini berhasil memecahkan rekor nasional untuk burung termahal yang pernah dijual di negara ini.

Burung merpati tersebut bernama Jayabaya yang akhirnya benar-benar menjadi burung merpati termahal yang pernah dijual di Indonesia. Ada banyak juga jenis perlombaan, seperti merpati kolong bebas, merpati kolong mega, merpati ketomprang, merpati balap, dan lain sebagainya.

Merpati jayabaya seharga Rp 1 miliar ini merupakan merpati jantan yang dibeli oleh seorang bos muda yakni Robby Eka Wijaya di kota Cilodong, Jawa Barat. Merpati Jayabaya dipakai untuk bertanding di ajang balap merpati yang sedang booming di Indonesia pada waktu itu.