Perdagangan Daging Hewan Liar Ubah Hutan Hujan

Oleh Tia Ghose, Staf Penulis LiveScience | LiveScience

Berburu daging hewan liar dapat mengubah hutan hujan di Afrika.

Ketika para pemburu membunuh gorila dan primata lainnya untuk diambil dagingnya, primata-primata tersebut tidak lagi menyebarkan benih dari beberapa pohon buah dan kacang-kacangan. Sebagai gantinya, penyebaran benih hanya mengandalkan angin, demikian menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada 19 Maret di jurnal Proceedings of the Royal Society B.

“Penyemaian hutan benar-benar berbeda di hutan yang marak perburuan dibandingkan dengan hutan yang dilindungi dengan baik,” kata salah satu penulis penelitian Ola Olasson, pakar ekologi di Lund University di Swedia. “Dalam jangka panjang, hal tersebut akan membuat hutan yang marak perburuan berbeda dengan kondisinya sekarang.”

Aksi pemburuan tersebut juga dapat berdampak pada orang-orang yang mengandalkan buah dari pepohonan sebagai bahan makanan, tambah Olsson.

Praktik ilegal
Meskipun ilegal, perburuan daging dari hewan liar atau yang terancam punah seperti primata kini marak dilakukan di Afrika.

Populasi yang meningkat telah memaksa orang untuk tinggal di tepi hutan. Makanan kaya protein semakin langka, dan hanya ada sedikit larangan untuk makan primata nonmanusia.

Jalan baru, senjata, dan mobil juga memungkinkan orang untuk memburu gorila dan membawa hasil buruan tersebut ke pasar kota, tempat mereka dapat dijual dengan mahal, kata Olsson.

Diburu dan dilindungi
Untuk mengetahui bagaimana perburuan primata memengaruhi hutan, Olsson dan rekan-rekannya mengamati pohon dan mamalia di hutan hujan Nigeria yang berbatasan dengan Kamerun. Beberapa jagawana melindungi beberapa area hutan yang dihuni oleh monyet dan gorila, sementara area buruan di dekatnya dipenuhi dengan hewan pengerat seperti tikus dan landak.

Sedangkan pohon-pohon besar serupa yang mendominasi kedua jenis hutan tersebut, penyemaiannya tampak sangat berbeda.

Hutan yang dilindungi dengan baik memiliki banyak hasil penyemaian seperti pohon mangga hutan yang mengandalkan primata untuk menyebarkan benihnya. Kebanyakan dari pohon-pohon tersebut menghasilkan buah atau kacang-kacangan yang juga dikonsumsi manusia. Hutan yang marak diburu hewannya mengandalkan angin untuk menebarkan benih-benih pohonnya.

Dalam satu generasi, hal tersebut dapat mengubah ekologi hutan secara fundamental, kata Olsson.

Dan meski daging monyet dan gorila memang memberikan protein bagi masyarakat lokal, pohon-pohon buah yang dibantu penyemaiannya oleh primata mungkin memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi orang-orang, kata Olsson.

Pekerjaan penting
Hasil temuan juga menunjukkan dampak buruk lain dari perdagangan daging hewan liar, kata Joanna Lambert, seorang ahli ekologi di University of Texas di San Antonio yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

“Tanpa primata dan mamalia berbadan besar lainnya, hutan tidak beregenerasi dengan cara evolusi mereka yang sudah berlangsung selama jutaan tahun,” kata Lambert.

Mengakhiri perburuan daging membutuhkan beberapa taktik. Meningkatkan denda dan penegakan hukum bisa membantu, juga dengan meningkatkan akses masyarakat lokal untuk mendapatkan makanan kaya protein lainnya, kata Lambert kepada LiveScience.

Namun strategi lainnya, yang membantu mengembalikan populasi primata di Rwanda dan Uganda, adalah dengan mempekerjakan mantan pemburu sebagai jagawana atau pemandu wisata alam liar bagi wisatawan, katanya.(gf/ik)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.